Oleh: hurahura | 11 Oktober 2011

Mengadu Peruntungan di Batavia

Warta Kota, Selasa, 11 Oktober 2011 – Setelah Batavia berdiri, satu jenis suku bangsa baru bertambah di Nusantara. Dr. De Haan dalam Oud Batavia, memberikan nama ‘Homo Bataviensis’, artinya orang Belanda Indonesia. Istilah demikian merupakan kebalikan dari ‘Homo Batavus’, orang Belanda asli. Dikatakan oleh de Haan, orang Belanda asli merupakan pribadi yang rajin bekerja, sementara orang Belanda Indonesia lebih malas.

Perkembangan dari Batavus menjadi Bataviensis dinilai sangat sulit dan pedih. Banyak orang Belanda yang tiba di Batavia, meninggal beberapa bulan setelah tiba. Mungkin karena ketidakcocokan cuaca, mengingat iklim di Nusantara adalah tropis, sementara Belanda mengenal empat musim. Mereka yang selamat justru menjadikan Nusantara sebagai kampung halaman yang permanen.

Umumnya kehidupan mereka di Belanda terbilang miskin. Mereka datang ke sini sebagai pelaut dan serdadu. Di tempat baru inilah mereka mengadu peruntungan. Namun hanya sedikit yang berhasil, beberapa di antaranya bahkan menjadi pejabat tinggi Batavia. Karena itu mereka tidak tertarik pulang ke negerinya. Alasannya, di sini mereka hidup seperti raja, sementara di sana mereka hanya warga biasa. Banyak orang Belanda kemudian secara legal mengawini perempuan Indonesia.

Warga Bataviensis merasakan tinggal di Batavia sangat panas. Ketika itu temperatur di Batavia rata-rata 28 derajat. Hanya angin sepoi-sepoi dari laut yang bisa masuk. Meskipun demikian, udara tetap pengap. Justru ’Homo Bataviensis’ takut pada udara segar. Mereka khawatir masuk angin.

Orang Batavia menjaga kesehatannya dengan caranya sendiri, yakni pembersihan tubuh dan sering mandi. Sayang sampai 1775, serdadu garnisun masih mandi seminggu sekali. Rupanya mereka takut air. Namun mereka punya cara lain, yaitu minum segelas gin (semacam minuman keras) dengan perut kosong. Gin juga diminum beberapa kali sehari dan pada malam hari sebelum tidur. Tidak heran industri utama di Batavia ketika itu adalah penyulingan arak. Arak Batavia produksi orang-orang China dikenal di seluruh Asia.

Menurut catatan James Cook, satu-satunya pelaut di kapalnya yang tidak jatuh sakit selama tinggal di Batavia adalah seorang tua berumur 70-an. Ternyata, si kakek tidak pernah berhenti mabuk. Selain adanya daya tangkal alkohol, merokok juga dipandang sebagai obat. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori