Oleh: hurahura | 8 Mei 2010

Melindungi Artefak di Balik Nilai Ekonomi

OLEH: SU HERDJOKO

Jakarta – Lelang Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) yang dibuka Rabu (5/5), pukul 14.00 WIB, gagal menghadirkan para peminat. Hikmahnya, pemerintah terdorong untuk menyelamatkan artefak di bawah air dengan menggagas pembangunan museum kelautan-maritim.

Harta karun bersejarah senilai Rp 720 miliar yang gagal dilelang kemarin itu diangkat dari dasar Laut Jawa di perairan utara Cirebon. Itu adalah muatan kapal berusia 1.000 tahun yang ditemukan oleh pemburu harta karun Belgia, Luc Heymans. Harta karun yang akan dilelang itu antara lain vas bunga terbesar dari Dinasti Liao (907-1125), keramik Yue Mise dari era Lima Dinasti (907-960), 11.000 mutiara, 4.000 rubi, 400 safir merah, dan lebih dari 2.200 batu akik.

Konon, di perairan Indo­ne­sia ada 240 titik kapal karam yang tersebar di jalur-jalur pe­layaran Nusantara. Kapal-ka­pal itu pada masa lalu meng­arungi perairan Nusantara un­tuk misi dagang hingga politik.

Bila dari satu kapal karam saja—yang diangkat oleh PT Paradigma Putra Sejahtera (PPS) bekerja sama dengan Cosmix Underwater Research Ltd (Cosmix), dengan mengerahkan para penyelam profesio­nal sejak Februari 2004 hingga Oktober 2005—menunjukkan hasil yang sedemikian besar.

Luc, Minggu (2/3), kepada AFP menuturkan penemuan di Cirebon itu adalah yang terbesar di Asia. “Ini setara dengan temuan harta kapal jenis Galeon Spanyol Atocha yang tenggelam di perairan Florida, Amerika Serikat (AS) di tahun 1622 yang meng­ge­gerkan dunia,” katanya.

Untuk mengangkat harta karun sudah ada payung hu­kumnya, yakni Keputusan Pre­siden Nomor 19 Tahun 2007 tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pe­man­faat­an Benda Berharga Asal Muat­an Kapal yang Tenggelam.


Sering Dijarah

Dari kabar yang berkembang, sebenarnya jauh sebelum proyek di Cirebon itu sudah sering terjadi penjarahan harta karun bawah laut. Para penjarah mencari temuan harta karun bawah laut melalui cerita para nelayan Indonesia. Mereka mendatangi pulau terpencil di Nusantara ini. Contohnya adalah seperti yang dialami para nelayan di Pulau Genting, di gugus Pulau Karimunjawa.

Pulau itu berjarak 120 km di sisi utara Semarang, atau se­kitar 90 km di barat laut Je­pa­ra. Para nelayan lokal seperti Karyadi, Mulyadi, Nu­rohman, Sugiyanto, Muhaya. Mamat, dan seluruh nelayan di Pulau Genting pernah dida­tangi orang dari Bandung yang mencari benda-benda keramik kuno.

Riris Purbasari dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah kepada penduduk Pulau Genting menjelaskan bahwa para penduduk harus melindungi titik-titik kapal karam itu agar tidak dijarah oleh orang luar.

“Warga di sini justru bisa diangkat menjadi semacam pegawai pemerintah karena bertugas melindungi situs itu. Bapak-bapak ini bila memang kemudian dipilih, bisa mendapat gaji bulanan,” tuturnya.

Tim peneliti juga meminta warga setempat tak percaya begitu saja kepada para pendatang yang mengatasnamakan pejabat atau siapa pun tanpa identitas lengkap dan resmi.

Priyatno Hadi Sulistyarto, pemimpin tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta kepada SH menjelaskan, “Kami menduga sudah ada penjarahan yang dilakukan oleh orang luar terhadap kapal-kapal karam. Dalam hal ini penduduk yang lugu dan jujur tidak tahu bahwa informasi yang mereka sampaikan adalah sangat berharga. Para penjarah itu tidak peduli terhadap nilai ilmu pengetahuan dan sejarah kemaritiman Indonesia. Yang mereka incar hanya nilai ekonomis temuan itu.”

Dipastikan ada kapal dagang kuno lain yang tenggelam akibat menabrak gosong (pulau karang) di tebing bukit lautan. Hal itu terbukti dari banyaknya nelayan yang menemukan keramik kuno secara tidak sengaja tersebut di beberapa titik penangkapan ikan.

Selain Cirebon dan Pulau Genting, penemuan lainnya adalah di tahun 1985 dilakukan oleh Berger Michael Hatcher, warga Australia, yang melelang 225 batang emas dan 160.000 keping keramik dari kapal yang tenggelam di perairan Indonesia dengan nilai jual sekitar US$ 16 juta pada masa itu.

“Indonesia tak mendapatkan sepeser pun,” ujar Surya Helmi, Direktur Peninggalan Bawah Air, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.


Museum dan Arkeologi

Surya Helmi menambahkan, instansinya tidak berwenang untuk melelang benda berharga asal BMKT, kewenangan itu ada pada panitia nasional (Panas) yang meliputi 15 institusi. Lelang BMKT tersebut merupakan konsekuensi dari izin yang dikeluarkan pemerintah. Lelang itu digelar di Departemen Kelautan dan Perikanan (KKP) di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat.

Kendati hingga Rabu kemarin belum ada peserta yang menyetor uang jaminan, menurut Kepala Subdirektorat Jasa Kelautan dan Kemaritiman Direktorat Pesisir dan Lautan Ditjen Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Haris Kabul, masih akan digelar lelang selanjutnya.

Untungnya, tidak semua barang itu bakal laku terjual. Menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Soeroso, pemerintah berhak memilih barang yang diangkat sebelum pelaksanaan lelang. “Pemerintah dapat memilih lebih dulu artefak mana yang paling bagus, prestisius, langka, dan unik. Itu menjadi milik pemerintah,” ujarnya, kepada SH, Rabu (5/5).

Bila laku, separuh dana hasil lelang akan masuk ke kas negara dan dapat digunakan untuk pengembangan kembali sumber daya manusia, pengembangan museum maritim, juga keperluan penelitian. Harapannya pengangkatan harta karun mendatang bisa dilakukan sendiri oleh orang-orang Indonesia.

Artefak asal perairan Cirebon itu kini berada dalam naungan Direktorat Peninggalan Bawah Air Direktorat Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, akan dibagikan ke Museum Nasional, Jakarta, ataupun ke Museum Kapal Samudera Raksa di Kompleks Candi Borobudur.

Namun, Museum Bahari di Museum Bahari Jl Pasar Ikan No 1 Jakarta Utara, belum akan kebagian artefak yang mahal ini, mengingat museum ini ternyata dikelola seadanya, ibarat “mati segan hidup tak mau”. Dan bukannya membenahi museum bahari ini, pemerintah, menurut Surya Helmi, berencana untuk membuat museum maritim khusus untuk artefak bawah air di Belitung, Provinsi Bangka Belitung. (stevani elisa­beth/si­har ramses simatupang)

(Sinar Harapan, Kamis 6 Mei 2010)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: