Oleh: hurahura | 26 Oktober 2012

Benda Bersejarah : Situs Megalitik Masih Ditelantarkan

KOMPAS, Senin, 22 Oktober 2012 – Puluhan situs megalitik di Lahat, Sumatera Selatan, dengan ratusan bahkan ribuan peninggalannya kurang mendapat perhatian pemerintah daerah. Padahal, Pemerintah Kabupaten Lahat akan menjadikan peninggalan megalitik sebagai daya tarik wisata.

Selama penelusuran ke beberapa situs megalitik di Lahat, sepekan lalu, terlihat sarana pendukung situs megalitik sangat minim. Misalnya, tidak ada papan penunjuk jalan. Lokasi situs pun tidak dilengkapi dengan papan informasi yang menerangkan peninggalan tersebut.

Ketua Lembaga Kebudayaan dan Pariwisata Lahat Mario mengatakan, selama ini belum ada upaya dari pemerintah daerah untuk mengembangkan peninggalan megalitik di Lahat sebagai obyek wisata. Dinas terkait seolah tidak memiliki konsep pengembangan yang jelas.

”Lahat ini punya 60 air terjun dan ribuan peninggalan megalitik yang tidak ada tandingannya di Nusantara. Tapi, perhatian pemerintah pada peninggalan megalitik masih kurang,” kata Mario.

Beberapa situs megalitik yang ditelusuri selama tiga hari ialah situs Pulau Panggung, Kota Raya Lembak, Gunung Kaya, Rindu Hati, Sinjar Bulan, dan Gunung Megang. Tidak ditemukan penunjuk jalan menuju lokasi tersebut. Satu-satunya papan penunjuk jalan ditemukan pada situs Tinggihari I, II, dan III. Itu pun kondisinya sudah pudar.

Juru pelihara situs megalitik Pulau Panggung, Ahlan (46), Jumat (19/10), menyebutkan, di kebun kopi seluas 1 hektar miliknya terdapat sekitar 50 peninggalan megalitik, di antaranya lumpang dan lesung berhias.

Bupati Lahat Saifudin Aswari Riva’i mengakui, selama ini, pemerintah daerah tidak menyadari betapa berharga dan potensialnya peninggalan megalitik yang ada. Sumber daya manusia aparat yang lemah masih menjadi salah satu hambatan pengembangan pariwisata Lahat.


Batu lumpang

Di Lumajang, Jawa Timur, masyarakat pencinta dan pelestari sejarah, Minggu, mengangkat beberapa batu lumpang di sekitar kawasan situs Biting di Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono. Batuan yang semula berada di pinggir jalan desa tersebut kini ditempatkan di museum swadaya masyarakat.

Beberapa batu berbentuk lumpang (tempat menumbuk padi menjadi beras) tidak diketahui pasti umurnya. ”Karena lokasinya berada di sekitar situs Biting, kami menduga bebatuan itu berasal dari zaman kerajaan-kerajaan besar yang pernah memerintah Lumajang, termasuk Majapahit,” ujar koordinator pengangkatan batu dari Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur, Mansur Hidayat. (ADH/DIA)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori