Oleh: hurahura | 26 Februari 2012

Nonton Bioskop Menjadi Gengsi

Pada awal abad ke-20 keberadaan bioskop masih sangat jarang. Di pusat keramaian (utara) Kota hanya ada dua bioskop, yaitu Gloria Bioscoop di Pancoran dan Cinema Orion di Glodok. Sedangkan di bagian selatan kota, ada Cinema Palace di Krekot, Globe Bioscoop di Pasar Baru, Deca Park di Gambir, dan Dierentuin di Cikini (di kompleks TIM sekarang).

Penonton bioskop di utara umumnya berasal dari masyarakat atas, yaitu para ambtenaar (pejabat pemerintahan), para tuan toko, para pemimpin perusahaan besar Belanda dan pegawai-pegawainya, serta orang-orang dari golongan berduit. Sedangkan penonton bioskop di daerah selatan umumnya dari golongan menengah ke bawah. Harga-harga karcis di bioskop bagian selatan kota lebih tinggi ketimbang di utara kota (Batavia, 1988).

Nonton bioskop di Batavia rupanya menjadi gengsi tersendiri. Hampir tiap malam banyak orang, terutama kalangan remaja, menghibur diri di sini. Film memang merupakan hiburan menarik karena belum ada televisi. Uniknya, promosi film biasanya diarak keliling kota menggunakan delman atau sado disertai cuap-cuap. Pada badan sado tersebut, dipajangi poster-poster film yang akan diputar malam itu serta nama bioskop bersangkutan.

Dulu ternyata belum ada pembatasan untuk penonton bioskop. Siapa saja boleh menonton, termasuk anak kecil. Peraturan yang diterapkan adalah tempat duduk antara laki-laki dan perempuan dipisah. Biarpun begitu biasanya banyak pasangan anak muda atau suami istri yang melanggarnya. Sistem kelas juga diberlakukan, misalnya stales, loge, dan balkon. Harga karcis termurah adalah stales, mulai dari barisan paling depan hingga beberapa baris ke belakang. Stales jarang diminati karena terlalu dekat dengan layar sehingga leher terasa pegal. Kelas yang lebih mahal adalah loge. Di kelas ini penonton ditempatkan di belakang kelas stales, masih di bagian bawah. Harga termahal adalah untuk balkon, yaitu di bagian atas. Di balkon ini para penonton tidak terhalang oleh penonton lainnya.

Biasanya bioskop mengadakan pertunjukan pada sore hari, sekitar pukul 19.00. Kalau banyak peminat, pertunjukan dilakukan dua kali sehari. Pertunjukan tengah malam atau midnight show belum dikenal. Begitu pula pertunjukan pagi atau matinee show. Film yang amat disenangi biasanya film komedi, terlebih yang diperankan oleh Charlie Chaplin. Setelah sistem suara mulai berkembang, film-film western atau cowboy banyak digandrungi.

Pasca kemerdekaan, didirikan bioskop Metropole (kemudian menjadi Megaria). Bioskop ini diresmikan pada 1951, namun sumber lain mengatakan 1949. Pada zamannya, Metropole adalah bioskop mewah karena dilengkapi ruang dansa dan kolam renang. Saat ini keberadaan bioskop Megaria dilindungi Undang-undang Cagar Budaya.

Sayang kini banyak bioskop yang bersejarah sudah tidak ada lagi. Hanya Grand di Kramat dan Megaria di Cikini yang masih bertahan. Itu pun dalam kondisi memprihatinkan karena tontonan bioskop semakin dijauhi masyarakat, terutama setelah munculnya VCD dan DVD, belum termasuk internet. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: