Oleh: hurahura | 30 Agustus 2012

Mutiara Sastra Melayu

KOMPAS, Senin, 27 Agustus 2012 – Raja Ali Haji, pujangga dan sejarawan keturunan Bugis Melayu, adalah tokoh utama perkembangan Bahasa Melayu pada masa Kesultanan Riau. Ia peletak dasar-dasar tata bahasa Melayu yang tertuang dalam Kitab Pengetahuan Bahasa. Kamus ekabahasa Melayu yang disusunnya juga menjadi cikal bakal bahasa Indonesia. Raja Ali Haji juga menulis tema ilmu pengetahuan lainnya, seperti sejarah, hukum, tata negara, sastra, dan ilmu bahasa.

Karya-karyanya terkenal di dunia, seperti Gurindam 12, Syair Abdul Muluk, Bustan Al Katibin, Kitab Pengetahuan Bahasa, Silsilah Melayu Bugis Beserta Para Rajanya, dan Tuhfat An Nafis. Gurindam 12 yang menjadi ikon Pulau Penyengat merupakan syair pantun yang syarat dengan hikmah, keteladanan, kebijaksanaan, dan pendidikan dalam tuntunan Islam.

Raja Ali Haji adalah orang dekat keluarga Kesultanan Riau Lingga pada masa Raja Abdullah Yang Dipertuan Muda IX beserta istrinya Raja Aisyah. Kesultanan Riau Lingga bagian dari pemerintahan Kesultanan Johor Riau Lingga yang merupakan kelanjutan dari Kerajaan Malaka yang berpindah ke Johor dengan Sultan Mahmud Syah I sebagai pendiri pada awal abad ke-16. Kesultanan Johor Riau Lingga mengalami dua periode pemerintahan berdasarkan pindahnya pusat pemerintahan, yaitu Kesultanan Johor Riau dan Riau Lingga.

Menjelang berakhirnya pemerintahan Kesultanan Riau Lingga, para cerdik cendekiawan Melayu membentuk Rusydiah Klub yang mengembangkan budaya Melayu melalui tradisi tulis yang menghasilkan berbagai karya besar. Produk karya sastra ini didukung adanya percetakan kesultanan bernama Mathba’tul Riauwiyah yang dibangun di Pulau Penyengat.

Kini, sebagian karya sastrawan Melayu itu tersimpan di Balai Maklumat Pulau Penyengat bersama naskah kuno khas Melayu lainnya. Pulau Penyengat, yang kini masuk Provinsi Kepulauan Riau, mengambil peran penting sebagai pusat pengembangan adat istiadat, agama Islam, dan kebudayaan Melayu.

Dari Riau daratan, diwariskan model lembaga pendidikan Islam dan budaya toleransi dari Kerajaan Siak Sri Indrapura. Untuk mengembangkan tradisi keilmuan Islam, Sultan Syarif Kasim II, yang memerintah 1889-1908, mendirikan lembaga pendidikan Taufiqiyah khusus untuk pria serta Annisa khusus untuk perempuan. Lembaga ini terus bertahan meskipun Kerajaan Siak telah berakhir. ”Sekolah itu baru tutup setelah muncul modernisasi pendidikan dan orang-orang menilai tak perlu ada pemisahan pria dan wanita,” kata Prof Suwardi bin Muhammad Samin, Ketua Sejarawan Indonesia Cabang Riau. (MHF/EKI)


Lihat Video Terkait ” Mutiara Sastra Melayu ” di vod.kompas.com/sastramelayu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori