Oleh: hurahura | 25 Mei 2014

Penjarah Berkedok Nelayan

Penjarah harta karun berupa barang muatan kapal tenggelam di perairan Kepulauan Riau akhirnya ditangkap TNI Angkatan Laut. Para penjarah itu berkedok sebagai nelayan.

Komandan Gugus Keamanan Laut Komando Armada RI Kawasan Barat Laksamana Pertama Harjo Susmoro menuturkan, terakhir, ditangkap 10 orang yang tengah menjarah di dekat Karang Haliputan di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Di antara mereka, terdapat lima warga negara Vietnam yang jadi penyelam.

Mereka ditangkap KRI Kala Hitam, Selasa (20/5) malam. ”Selanjutnya akan diserahkan ke pangkalan,” ujar Harjo, Jumat, ketika dihubungi dari Tanjung Pinang.

Penyelidikan kasus itu tengah berlangsung. Harjo belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut, termasuk apakah benar komplotan itu sudah beraksi lebih dari lima kali dan melibatkan dua pemodal dari Batam dan Tanjung Pinang.

Penangkapan penjarah itu merupakan yang ketiga kalinya oleh Guskamla Koarmabar dalam setahun terakhir. ”Sebagian berpura-pura menjadi nelayan,” kata Harjo.

Dari beberapa kali penangkapan, para pelaku hampir selalu berasal dari Vietnam dan bekerja sama dengan warga negara Indonesia. Warga Vietnam terutama menjadi penyelam yang memeriksa lokasi kapal karam.

”Pada kasus terbaru, mereka menjadi penyelam. Dari lima orang, sebagian tengah dirawat karena dekompresi. Mereka terlalu cepat naik ke permukaan,” lanjutnya.


Jalur dagang

Sementara itu, Nunus Supardi dari Asosiasi Museum Indonesia mengatakan, penjarahan di Karang Haliputan sudah berkali-kali terjadi. Penjarahan paling spektakuler terjadi pada 1986 dengan nilai 17 juta dollar AS.

”Hasil curiannya dilelang di Belanda. Pelakunya, Michael Hatcher, sudah mendapat status persona non-grata sejak saat itu. Tetapi, kami mendengar dia beberapa kali ke Indonesia,” kata Nunus.

Perairan Kepulauan Riau hingga Kepulauan Bangka Belitung memang kaya situs barang muatan kapal tenggelam (BMKT). Perairan itu termasuk bagian dari jalur sutra, jalur perdagangan masa lalu. ”Banyak kapal dengan muatan barang berharga karam di perairan Kepulauan Riau dan Bangka Belitung. Belum seluruhnya diangkat dan dimanfaatkan,” tuturnya. Di Indonesia, kata Nunus, diperkirakan ada 2.000 lokasi BMKT.

Sebagian pengangkatan justru dilakukan penjarah yang terdiri dari orang asing dan WNI. Beberapa tahun terakhir, modus yang paling sering ialah berpura- pura menjadi nelayan.

”Mereka menebar jaring di sekitar lokasi BMKT. Kalau dapat, mereka berpura-pura mengaku sebagai nelayan yang tidak sengaja menemukan BMKT,” ujarnya. (RAZ)

(Sumber: Kompas, Sabtu, 24 Mei 2014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: