Oleh: hurahura | 23 Februari 2012

Ekspedisi Cincin Api: Letusan Gunung dalam Prasasti Rukam

KOMPAS, Sabtu, 18 Feb 2012 – Walaupun Nusantara dikepung gunung api yang kerap meletus, catatan tentang petaka letusan gunung pada masa kerajaan ternyata tak gampang ditemukan. Pencatatan letusan gunung api baru dilakukan semenjak kedatangan Belanda ke Nusantara. Satu-satunya temuan prasasti yang merekam bencana gunung meletus pada masa kerajaan sejauh ini adalah Prasasti Rukam tahun 907 Masehi.

Prasasti ini ditemukan di Desa Petarongan, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, di kawasan lereng Gunung Sindoro di Jawa Tengah. Menurut arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Sugeng Riyanto, prasasti ini ditemukan bersama dengan temuan lain berupa alat-alat upacara dari perunggu, yaitu baki berbentuk bulat yang tersusun mulai yang kecil hingga yang besar, bokor, cepuk, entong, gantungan lampu, mangkuk-mangkuk baik dari perunggu maupun dari keramik asing, serta beberapa benda kecil lain.

Prasasti yang terdiri dari dua lempeng tembaga berbentuk persegi panjang itu berisi tentang penganugerahan sima (daerah yang dibebaskan pajaknya) atas Wanua i Rukam oleh Sri Maharaja Rake Watukura Dyah Balitung. Alasan pemberian sima merujuk pada kata-kata ”ilang dening guntur”, yang berarti sebuah desa hilang (atau hancur) karena terkena letusan gunung.

Ada yang berpendapat desa yang hancur oleh letusan gunung itu adalah Desa Rukam. Pendapat lain, desa yang disebutkan dalam Prasasti Rukam bukanlah Wanua i Rukam, melainkan desa yang belum diketahui namanya. Pendapat kedua lebih dapat diterima karena membangun kembali pusat kerajaan di lokasi yang pernah diterjang bencana bisa dikatakan sebagai ketidakniscayaan.

Diduga, Wanua i Rukam memang berada di sekitar wilayah Kabupaten Temanggung sekarang. Penemuan candi dan bekas perkampungan kuno di lereng Gunung Sindoro, Dusun Liyangan, Kelurahan Purbasari, Ngadireja, tahun 2008, menguatkan dugaan ini.

Pada tahun 2008, sejumlah penambang pasir menemukan permukiman Mataram Kuno yang terkubur material letusan gunung api dengan kedalaman hingga 8 meter di kawasan itu. Para peneliti menduga Liyangan adalah desa yang hilang karena letusan gunung api. Terlebih lagi lokasinya berdekatan dengan tempat penemuan Prasasti Rukam.

Sugeng mengatakan, hasil penanggalan karbon dari bambu yang menjadi arang di Liyangan menunjuk angka 971 Masehi dengan standar deviasi (penyimpangan) 112 tahun. Oleh karena itu, angka tahun 907 pada Prasasti Rukam masih berada di antara angka 971 ± 112. Meskipun demikian, Sugeng beranggapan, masih diperlukan kajian mendetail terhadap Prasasti Rukam untuk memastikan kaitannya dengan Situs Liyangan.

Iklan

Responses

  1. […] Lihat Kompas, Sabtu, 18 Mei 2012, di https://hurahura.wordpress.com/2012/02/23/ekspedisi-cincin-api-letusan-gunung-dalam-prasasti-rukam/ Like this:SukaBe the first to like this […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori