Oleh: hurahura | 21 Oktober 2017

Peran Epigrafi untuk Menyusun Sejarah Indonesia

Prasasti-harinjing-2Ilustrasi: Prasasti Harinjing (Koleksi Museum Nasional)

Sejak kajian sejarah Indonesia populer di kalangan para peneliti Eropa, prasasti sudah menempati posisi penting untuk menyusun gambaran lengkap mengenai sejarah Indonesia. Terutama tentang sejarah kuno (klasik) karena mayoritas prasasti yang ditemukan mewakili masa itu. Menjadi suatu keniscayaan jika dalam penyusunan sejarah secara lengkap pasti mempergunakan prasasti yang merupakan bukti sejarah otentik. Patut disadari bahwa hingga saat ini kajian epigrafi sangat identik dengan sejarah kuno, bahkan banyak yang menyamakan kajian ini dengan kajian sejarah kuno. Satu hal lagi adalah terjadinya pengkhususan kajian epigrafi yang hanya dilakukan oleh para arkeolog. Meskipun ada istilah lain untuk ahli epigrafi, yaitu epigraf, akibatnya arkeolog yang mengkhususkan minat untuk meneliti prasasti juga disebut  epigraf.

Penyebab epigrafi disamakan dengan kajian sejarah kuno (klasik) sampai sekarang mungkin oleh awal kemunculannya di Indonesia. Para peneliti sejarah kuno bangsa Eropa dulu memang banyak berkecimpung dalam prasasti maupun naskah kuno. Sebut saja nama-nama seperti Krom, Brandes, Berg, Damais, Stutterheim, de Casparis hingga Poerbatjaraka sebagai ahli sejarah kuno pertama bangsa Indonesia yang juga berkecimpung dalam kajian prasasti dan naskah kuno. Ditambah lagi dalam pengajaran di universitas, misal di UI dan UGM dahulu, kajian sejarah dan arkeologi digabungkan dalam satu jurusan dengan tetap membagi ke dalam seksi-seksi, yaitu seksi sejarah dan seksi ilmu purbakala (sebelum dikenal dengan arkeologi).


Arkeologi dan Epigrafi

Herannya, sampai sekarang ini seperti secara otomatis terjadi lagi pemisahan kajian. Arkeologi mengkaji masa prasejarah hingga masa kerajaan Islam di Indonesia, sementara Sejarah mengkaji masa perjuangan, kemerdekaan hingga yang paling baru setidaknya sampai reformasi. Tidak heran jika sampai saat ini, prasasti yang memuat tulisan kuno dalam media batu atau logam menjadi ranah ilmu arkeologi, lebih khusus disebut dengan epigrafi. Benda-benda kajian epigrafi juga merupakan artefak. Bugie Kusumohartono (1994: 7) pernah menuliskan bahwa prasasti secara harfiah adalah artefak yang menjadi wajar jika arkeolog mengambil alih kajiannya. Meskipun dari segi substansi, seorang epigraf menghadapi data sejarah otentik yang harus diterjemahkan hingga menjadi sebuah peristiwa masa lalu yang dekat dengan kerja historiografi dalam ranah ilmu sejarah.

Boechari dalam salah satu tulisannya,  “Epigrafi dan Sejarah Indonesia” (Majalah Arkeologi 1 (2), 1977 hlm. 1-40) meyakini, seorang epigraf secara otomatis juga dapat menjadi pengkaji sejarah kuno. Beliau menuliskan, “…seorang sejarahwan tidak dapat mengharapkan bahwa semua prasasti memuat keterangan lengkap…. Ia harus membangun cerita sejarahnya dari sejumlah fakta  yang tersebar dalam berbagai prasasti…”. Berdasarkan kutipan di atas, pengkaji prasasti (epigraf) menurut Boechari adalah juga pengkaji sejarah kuno (klasik), terlebih untuk masa sekarang semua itu dilakukan oleh arkeolog. Mungkin juga pembagian kajian berdasarkan masa seperti yang telah diungkapkan di atas menjadi faktor utama yang tidak satupun mengerti mengapa hal itu terjadi.

Padahal jika kita cermati data prasasti/tulisan tidak hanya mewakili masa klasik. Data tertulis juga ditemukan dalam masa sesudahnya seperti tulisan pada nisan makam-makam Islam dan pada kuburan Belanda/kerkhof. Arkeolog sendiri terbagi  dalam subdisiplin arkeologi yang sepertinya dibentuk sejak sesorang belajar pada jurusan arkeologi. Melalui mata kuliah Arkeologi Islam, Prasejarah, Arkeologi Kolonial, Arkeologi Bawah Air, dll muncullah minat dari masing-masing arkeolog untuk selanjutnya mengkaji tinggalan masa lalu berdasarkan pembagian tersebut. Sepertinya pembagian ini juga didasarkan pada periodesasi. Mengenai perdebatan apakah masih relevan epigrafi juga dikatakann sebagai kajian sejarah klasik sepertinya dapat diuraikan lebih dalam lagi.


Menjelaskan masa lalu

Karena selama ini epigrafi sangat berperan dalam menjelaskan masa lalu secara lengkap dan dapat dipercaya, penulis mencoba menelusuri apa saja kira-kira peran dari munculnya epigrafi terhadap arkeologi dan mungkin perannya dalam ranah lain.  Ternyata peran epigrafi tidak hanya sebatas pada sumbangsihnya untuk sejarah dan arkeologi, tetapi dapat berbicara lebih luas jika kita membutuhkan sebuah teladan masa lalu yang dapat direnungkan untuk masa kini dan masa yang akan datang.

Pertama, seperti apa peran epigrafi untuk menjelaskan data arkeologi. Sampai sekarang masih banyak artefak arkeologis yang belum diketahui seperti apa fungsinya, misalnya sering kita temui banyak ‘lingga semu’ dan batu lumpang. Penjelasan mengenai seringnya muncul artefak itu bisa diterangkan dalam mayoritas prasasti Jawa Kuno. Prasasti mayoritas memperingati sebuah upacara ‘manusuk sīma’. Diterangkan bahwa dalam upacara tersebut desa yang dianugerahi menyiapkan batu tugu yang disebut Sang Hyang Watu Teas, Sang Hyang Watu Kulumpang yang berupa batu berlubang yang sepertinya watu lumpang (diluar fungsi praktisnya dalam kehidupan sehari-hari). Satu lagi yang jarang adalah batu patok untuk membatasi tanah sīma-nya.

Epigrafi juga sering menyumbangkan data penting tentang nama-nama daerah (toponim) kuno yang masih dapat ditindaklanjuti dalam penelitian arkeologi, baik saat survei arkeologis sampai pada penggalian (ekskavasi arkeologi). Data prasasti sering menerangkan lokasi sebuah bangunan suci atau pendukungnya. Kita telah ketahui bahwa ekskavasi yang pernah dilakukan di halaman candi-candi besar, seperti Borobudur, Sewu, Prambanan, Kalasan, Ratu Boko dan Jawi membuktikan kebenaran data epigrafis mengenai sebaran permukiman di sekitar bangunan suci dengan banyak temuan gerabah maupun keramik kuno. Contoh lain yaitu prasasti Paguyangan dari Bali, menyebutkan adanya tokoh Bhatārī yang dicandikan di Burwan. Berdasarkan prasasti-prasasti sesudahnya, tokoh tersebut adalah Gunapriya/Mahendradatta, ibunda Raja Airlangga. Di desa Buruan, Gianyar sekarang pada puncak bukit ditemukan komponen batu penyusun candi dengan Pura Kadarman yang didedikasikan untuk tokoh ini. Dapatlah diduga komponen bangunan candi itu adalah pendharmaan Gunapriyadharmapattni. Penelitian lebih lanjut bisa dilakukan atas dasar data epigrafis di atas.


Penelitian tersendiri

Oleh karena prasasti sebenarnya adalah artefak, maka dapat juga dijadikan penelitian tersendiri secara arkeologis seperti pada teknologi, bahan, cara pengerjaan, dan hiasan-hiasannya. Prasasti masa Kediri kita ketahui memiliki hiasan lanchana (cap) seorang raja yang pada saat itu mengeluarkan prasasti. Demikian pula prasasti-prasasti Sindok, memiliki banyak hiasan pada bagian batu yang tidak ditulis. Hiasan-hiasan seperti payung dan kepala kala pada prasasti Anjukladang (937 M), mirip dengan hiasan-hiasan pada patirthan Belahan. Hal ini sepertinya dapat dijadikan penelitian tersendiri dari sisi gaya seni dan cultural trend-nya.

Prasasti-anjukladang-1

Replika Prasasti Anjukladang (Foto: museumanjukladang.wordpress.com)

Dalam wacana historiografi sejarah, data prasasti mempunyai peran strategis untuk mendukung bahkan mengubah arah interpretasi sejarah yang ada. Boechari berkali-kali mencontohkan kasus prasasti pada bagian belakang arca Camundi yang sekarang menjadi koleksi Museum Trowulan. Awalnya Goris dan Stutterheim membaca angka tahun pada prasasti itu 1254 Śaka, sehingga muncul banyak teori tentang hubungan arca ini dengan Ratu Tribhuwana Tunggadewi masa kerajaan Majapahit. Bahkan ada yang menghubungkan dengan peristiwa Sadeng, pemberontakan yang pada saat itu sepertinya merepotkan kondisi kerajaan. Hingga  1995 Damais membaca ulang angka tahun tersebut dengan 1214 Ś. Seketika banyak teori yang sebelumnya bermunculan itu mau tidak mau harus ditinggalkan. Terlebih dengan ditemukannya kembali pecahan prasastinya sehingga menghasilkan keterangan yang harus dihubungkan dengan masa Raja Krtanegara. Dalam hal ini pembacaan angka tahun oleh Damais dapat dibenarkan.

Dewasa ini kita dihadapkan pada masalah kehilangan jati diri. Munculnya desakan globalisasi yang datangnya dari Dunia Barat menawarkan kecanggihan teknologi komunikasi maupun informasi. Menolak kemajuan zaman sama saja dengan katak dalam tempurung, lambat laun akan lenyap juga. Sebaliknya terlalu menuruti perkembangan globalisasi barat akan menjadikan mabuk dan ‘glagepen.’ Dominasi budaya barat yang membawa filsafat sekularisme selama ini oleh kita yang merupakan orang timur dikhawatirkan berpotensi melunturkan jati diri. Salah satu jalan untuk menanggapi kondisi semacam ini adalah kembali pada jati diri bangsa yang sebenarnya. Yang perlu dilakukan adalah mengupayakan pelestarian warisan budaya, juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai bahan perenungan bersama. Prasasti memberikan fakta penting terkait kondisi kehidupan nenek moyang kita terutama yang terkait dengan pengaplikasian kehidupan dalam tata sosial.

Prasasti sering menyantumkan sukhaduhkha, yaitu aturan hukum. Penduduk atau desa yang melanggar sukhaduhkha kejahatan itu harus membayar denda pada kerajaan. Macam-macam pelanggaran misalnya dalam prasasti Sangguran (928 M.) antara lain walu rumambat ing natar=tanaman labu yang menjalar di halaman (terkait sengketa dan perebutan atas hak milik tanah), wipati wangkay kābunan=kejatuhan mayat manusia yang telah berembun (terdapat mayat yang tidak diketahui selama satu malam), rāh kasawur ing dalan=darah yang tumpah di jalan (konflik yang mengakibatkan pertumpahan darah), wākcapala (memaki-maki), duhilaten (menuduh), hidu kasirat (meludahi/melukai perasaan), hastacapala (memukul dengan tangan), mamijilikanen turuhning kikil (mengeluarkan senjata tajam), mamuk (mengamuk/berduel satu sama lain), danda kudanda (pukul memukul), bhandihalādi (Boechari mengartikan=melukai secara gaib/santet/tenung).


Menerjemahkan prasasti

Dapat dibayangkan betapa kejahatan-kejahatan atau perlakuan buruk di atas banyak yang biasa dilakukan oleh orang-orang sekarang. Bayangkan juga bagaimana kondisi sosial dan keamanan waktu itu jika orang-orang desa takut untuk membayar denda berupa emas. Mereka harus menghindari kelakuan buruk terhadap sesama. Mengenai pembayaran denda akibat melakukan kejahatan dalam sukhaduhkha, prasasti Kinewu (907 M) memberikan keterangan bahwa desa Balingawan meminta keringanan karena mereka terlalu sering membayar denda yang diakibatkan pembunuhan dan perkelahian. Berarti di desa itu sering terjadi konflik dan pembunuhan. Pada waktu itu dalam prasasti dijelaskan terjadi peristiwa ditemukannya mayat (wipati wangkay kābunan). Maka desa itu harus bertanggung jawab. Karena  desa sudah terlalu miskin akibat  sering membayar denda, mereka meminta keringanan kepada pejabat watak di Kanuruhan. Keterangan seperti di atas tidak mungkin diketahui jika tidak ada yang dapat menerjemahkan prasasti. Jelas epigrafi sangat berguna.

Prasasti-camundi

Prasasti di belakang Arca Camundi (Foto: arkeologijawa.com)

Demikian, tentunya tulisan ini merupakan gagasan sekilas berdasarkan ‘radar’ yang dimiliki penulis dalam mencermati peran epigrafi yang menjadi tema tulisan ini. Semua uraian dapat dijelaskan lebih lanjut terutama melalui tulisan ilmiah. Akhirnya, mungkin sekali masih banyak peran-peran yang belum terciprat dalam tulisan ini berkaitan dengan epigrafi dengan disiplin ilmu lain. Pembaca dapat menambahkan atau menguranginya berdasarkan jangkauan ‘radar’ masing-masing.***

Penulis: Yogi Pradana, Lulusan Jurusan Arkeologi UGM

Iklan

Responses

  1. […] Yogi Pradana, Lulusan Jurusan Arkeologi UGM Sumber: Djulianto Susantio Blog Ilustrasi: Prasasti Harinjing (Koleksi Museum […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: