Oleh: hurahura | 16 Oktober 2011

Benteng Martello di Pulau Sakit

Warta Kota, Sabtu, 15 Oktober 2011 – Sejarah Jakarta tidak lepas dari beberapa pulau di wilayah Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Salah satunya adalah Pulau Sakit, nama yang diberikan oleh penduduk lantaran pulau ini pernah menjadi tempat perawatan penderita kusta atau lepra. Kepopuleran Pulau Sakit bermula ketika pada 1679 wilayah itu dikembangkan sebagai tempat perawatan penderita lepra. Sebuah rumah sakit didirikan di sini, merupakan pindahan dari Angke di Jakarta Utara. Wabah lepra baru benar-benar hilang dari pulau ini sekitar tahun 1800.

Pada masa kolonial Belanda, Pulau Sakit pernah memegang peranan penting. Ketika itu fungsi utama Pulau Sakit adalah menunjang segala aktivitas yang terdapat di Pulau Onrust, pulau tersibuk di masa itu. Jarak antara Pulau Sakit dengan Pulau Onrust memang relatif dekat.

Orang-orang Belanda menyebut pulau ini dengan Purmerend. Nama Bidadari lah yang kemudian populer sampai sekarang. Nama ini mulai dipakai pada 1970-an, karena dikelola secara profesional untuk menarik pengunjung. Sebelumnya, sejak 1955 pulau ini kosong dan tak pernah dikunjungi orang. Mungkin akibat berbagai macam sampah dibuang di sini. Karena seperti ’pulau hantu’, para pengeruk pasir juga leluasa bergerak.

Rupanya Pulau Sakit memiliki fungsi lain, yakni sebagai benteng pertahanan dari serangan musuh. Di sini dibangun Benteng Menara Pengawas atau Martello pada 1849. Bentuk bangunannya lingkaran, lantainya bertingkat, dan di sekelilingnya terdapat jendela-jendela besar.

Pembangunan benteng didasari serangan armada laut Britania Raya sekitar tahun 1800 yang merusakkan bangunan di atas pulau ini. Sekitar tahun 1803, Belanda yang kembali menguasai Pulau Sakit, membangunnya kembali. Pada serangan kedua tahun 1806, Pulau Sakit dan pulau lainnya hancur berantakan. Pada 1827 Belanda kembali membangun pulau ini dengan melibatkan pekerja orang Tionghoa dan tahanan. Asrama haji sempat berfungsi hingga tahun 1933.

Karena perannya begitu besar, banyak tinggalan masa lampau terdapat di pulau ini. Pada 1972 Pulau Sakit bersama ketiga pulau di dekatnya, ditetapkan sebagai pulau bersejarah, sehingga dilindungi undang-undang. Pengawasannya dilakukan oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Penelitian pendahuluan pernah beberapa kali dilakukan di sini untuk tujuan pengumpulan data lapangan berupa inventarisasi dan dokumentasi. Penggalian arkeologi (ekskavasi) pertama dilakukan pada 1978, dipusatkan di sekitar Benteng Martello.

Temuan serta atau temuan lepas banyak diperoleh dari sini, antara lain angkur besi, ubin, dan batu andesit. Pada benteng diketahui adanya gudang penyimpan amunisi. Bak air juga ditemukan di sini, diperkirakan berfungsi sebagai pengatur debit air. Di Pulau Sakit pernah ditemukan nisan dan kerangka manusia, yang kemudian dibawa ke Pulau Kelor. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)


Responses

  1. Menarik nih untuk dijadikan dokumenter , ada nomor kontak yang bisa dihubungi engga untuk jadi narasumber riset???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori