Oleh: hurahura | 11 September 2010

Gedung Agung, Museum yang Paling Aman

Oleh: DJULIANTO SUSANTIO

Tempat pelestarian benda-benda purbakala tidak harus berupa museum. Di Yogyakarta terdapat sebuah tempat pelestarian koleksi arkeologi yang cukup populer. Namanya istana negara atau lazim disebut Gedung Agung. “Museum” ini mungkin paling aman karena dijaga sejumlah personel TNI.

Koleksi-koleksinya terdapat di bagian luar gedung, baik di halaman samping maupun halaman depan. Entah sejak kapan Gedung Agung menjadi museum arkeologi. Yang jelas arca dwarapala setinggi dua meter yang berdiri di serambi depan, sudah terlihat pada foto-foto lama tahun 1939.

Koleksi Gedung Agung boleh dibilang lumayan banyak. Lebih dari 20 arca Hindu dan Buddha dari masa abad ke-9 Masehi terdapat di sini. Kemungkinan besar arca-arca itu berasal dari candi-candi di sekitar Yogyakarta dan Jawa Tengah. Karena berserakan diterjang gempa bumi, maka arca-arca tersebut dibawa ke Gedung Agung. Ini dalam rangka pelestarian.

Arca dwarapa di dekat pintu gerbang Gedung Agung

Terdapat di sana antara lain Ganesa, yakni arca berkepala gajah. Dalam mitologi Hindu, Ganesa adalah dewa ilmu pengetahuan. Juga arca-arca Buddha, yang mudah dicirikan karena hiasannya amat sederhana, terutama bentuk rambut yang ikal.

Arca-arca tersebut memang digeletakkan saja di alam terbuka, seperti di bawah pohon, dekat kolam, dan samping jendela. Namun cukup aman keberadaannya dari ulah tangan-tangan jahil manusia. Justru yang dikhawatirkan adalah rawan terhadap serangan cuaca, jamur, dan lumut. Terlihat hampir seluruh bagian arca terserang penyakit batu. Ini dipastikan dari bintik-bintik putih yang terdapat pada tubuh arca-arca tersebut.

Penyakit itu mungkin timbul karena kurangnya perawatan dan seringnya terkena perubahan cuaca yang ekstrem. Menurut seorang penjaga, secara periodik arca-arca itu sering dikontrol dan dibersihkan oleh petugas dari instansi arkeologi setempat. Secara administrasi arca-arca tersebut masih tercatat dalam daftar inventaris benda-benda purbakala. Hal ini terlihat dari adanya nomor registrasi di bagian lapik arca.

Beberapa arca kuno terpajang di bagian samping Gedung Agung

Diperkirakan, sebagian dari arca tersebut dulunya merupakan koleksi meneer-meneer Belanda penghuni awal Gedung Agung. Menurut keterangan Soekmono, arkeolog pertama bangsa Indonesia, arca-arca kuno itu kemungkinan besar berasal dari dataran Prambanan dan dataran Sorogedug. Kemudian artefak-artefak kuno itu diangkuti ke Statiran (Rumah kediaman Administratir) di Yogyakarta (Candi-candi di Sekitar Prambanan, 1974). Sepeninggal Belanda, artefak-artefak kuno itu dibiarkan di sana hingga kini.

Dikabarkan, semula jumlah arca tidak sebanyak itu. Sekitar sepuluh arca yang kini tergeletak di bawah pepohonan, berasal dari halaman Benteng Vredeburg. Setelah purnapugar benteng itu, arca-arcanya dititipkan di Gedung Agung (Warta Arkeologi, No. 3, 1991). Benteng Vredeburg dan Gedung Agung memang terletak saling berhadapan.


Museum

Sulit dimengerti mengapa benda-benda kuno tersebut tidak disimpan di dalam museum khusus. Mungkin karena kelangkaan dana, mengingat sejak lama memang perhatian pemerintah dan masyarakat kepada museum masih minim. Mungkin juga untuk dekorasi halaman, apalagi yang namanya istana presiden selalu dipenuhi benda-benda seni.

Nasib arca-arca kuno di Gedung Agung Yogyakarta, tentu saja lebih baik daripada arca-arca kuno di Taman Budaya Sriwedari Solo. Minimnya dana perawatan menyebabkan arca-arca Taman Sriwedari terlantar selama bertahun-tahun. Arca-arca tersebut diperkirakan berasal dari zaman Kerajaan Mataram Kuno abad ke-8 hingga ke-9.

Sebagaimana pemberitaan gencar pers, arca-arca kuno di Taman Sriwedari itu diletakkan di tempat yang tidak semestinya, yakni di halaman terbuka tanpa penjagaan. Karena ketidaktahuan pengelola taman dan pengunjung, maka banyak arca rusak parah. Rata-rata hampir seluruh bagian tubuh arca tidak lengkap, gompal, diberi semen, dan dicat. Sejumlah arca yang teridentifikasi berujud dewa Ganesa, dwarapala, dan dewa-dewi Hindu. Arca-arca kuno di Taman Sriwedari mirip dengan arca-arca kuno di Gedung Agung, baik dalam bentuk maupun masanya. Pada akhir 2005 lalu, arca-arca Taman Sriwedari telah dipindahkan ke tempat yang lebih aman.


Residen Belanda

Istana Kepresidenan Yogyakarta atau Gedung Agung mulai dibangun pada Mei 1824. Pemrakarsanya adalah Anthony Hendriks Smissaert, Residen Yogyakarta ke-18 (1823-1825). Waktu itu dia menghendaki adanya istana yang berwibawa bagi residen-residen Belanda. Sebagai arsitek pembangunan ditunjuk A. Payen.

Pembangunan gedung sempat tertunda beberapa tahun karena adanya Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825-1830). Setelah perang berakhir, pembangunan diteruskan kembali dan rampung pada 1832. Pada 1867 bangunan itu ambruk karena gempa bumi.

Bangunan baru pun didirikan dan selesai pada 1869. Bangunan itulah yang menjadi gedung utama komplek Istana Kepresidenan Yogyakarta yang disebut juga Gedung Negara.

Beberapa gubernur Belanda pernah mendiami gedung tersebut dari 1926 hingga 1942. Pada masa pendudukan Jepang, gedung tersebut menjadi kediaman resmi penguasa Jepang di Yogyakarta.

Ketika pada 6 Januari 1946 pemerintah RI memindahkan ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta, istana itu berubah menjadi istana kepresidenan, tempat tinggal Presiden Soekarno beserta keluarganya. Beberapa peristiwa penting pernah berlangsung di sini, yaitu pelantikan Jenderal Soedirman sebagai Panglima Besar TNI pada 3 Juni 1947 dan sebagai pucuk pimpinan Angkatan Perang RI pada 3 Juli 1947. Sejak 28 Desember 1949, yakni dengan berpindahnya Presiden Soekarno ke Jakarta, istana itu tidak lagi menjadi tempat tinggal keluarga Presiden Soekarno.

Mulai 17 April 1988 Gedung Agung digunakan untuk penyelenggaraan Parade Senja. Lalu sejak 17 Agustus 1991 menjadi tempat untuk memeringati Detik-detik Proklamasi. Sesekali Gedung Agung juga dipakai untuk menyambut tamu negara atau tamu agung, sekaligus menjadi tempat menginap tamu-tamu kehormatan itu.

Sayang karena masih berfungsi sebagai istana kepresidenan, “Museum” Gedung Agung tidak buka setiap hari. Hanya pada hari-hari tertentu pengunjung boleh memasuki “museum” ini.***


Responses

  1. ah bohong gg percaya cin…………..??????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: