Oleh: hurahura | 24 Desember 2012

Patung Pembebasan Irian Barat

IrianDok. ariesaksono.wordpress.com

Warta Kota, Rabu, 21 November 2012 – Nama Lapangan Banteng masih populer sampai sekarang. Pertama kali kawasan ini diberi nama “Weltevreden”. Karena pada 1828 Belanda membangun Monumen Waterloo, maka diganti menjadi Lapangan Waterloo. Di atas monumen itu ada patung singa, sehingga masyarakat pribumi menyebutnya Lapangan Singa. Setelah Indonesia merdeka, Presiden Soekarno menamainya Lapangan Banteng. Soekarno menganggap banteng adalah simbol gerakan nasionalisme Indonesia.

Ketika berada di Yogyakarta, Soekarno berpidato. Dengan berapi-api beliau menggerakkan massa rakyat untuk bertekad membebaskan Irian Barat (sekarang Papua) dari belenggu penjajahan Belanda. Pada 1962 memang terjadi puncak konflik antara Indonesia dengan Belanda mengenai masalah status Irian Barat. Gagasan ini kemudian ‘diterjemahkan’ oleh Henk Ngantung dalam bentuk sketsa (Sejarah Singkat Patung-patung dan Monumen di Jakarta, 1985).

Patung tersebut menggambarkan seseorang yang telah berhasil membebaskan belenggu (memutuskan rantai besi di tangan), maksudnya penjajahan Belanda. Pelaksanaan pembangunan dilakukan oleh tim pematung Keluarga Arca Yogyakarta pimpinan Edhi Sunarso. Patung terbuat dari bahan perunggu seberat sekitar 8 ton. Tinggi patung dari kaki sampai ujung tangan sekitar 11 meter, sementara tinggi kaki patung dari landasan bawah adalah 20 meter. Lama pembuatan sekitar satu tahun. Presiden Soekarno berkenan meresmikan patung ini pada 17 Agustus 1963.

Patung ini, yang kemudian dikenal sebagai Patung Pembebasan Irian Barat, ditempatkan di Lapangan Banteng. Tempat tersebut dianggap strategis, luas, dan memenuhi persyaratan untuk sebuah patung berukuran tinggi. Apalagi Lapangan Banteng merupakan pintu gerbang tamu-tamu yang datang dari lapangan terbang Kemayoran.

Ketika Lapangan Banteng menjadi terminal bis, keindahan patung ini pernah ternoda. Lingkungannya kotor dan kumuh karena Lapangan Banteng dipenuhi pedagang kaki lima yang beraktivitas selama 24 jam. Menyambut Hari Pahlawan, 9 November 2012 lalu sejumlah pekerja melakukan perawatan terhadap patung tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kebersihan dan mempercantik monumen. Sayang saat ini areal patung sangat sepi, seiring ditutupnya terminal Lapangan Banteng. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori