Oleh: hurahura | 27 Juni 2010

Menelusuri Jejak Sriwijaya Lewat Prasasti

Resensi Buku:
KERAJAAN SRIWIJAYA Oleh: Nia Kurnia Sholihat Irfan Penerbit: PT Girimukti Pasaka, Jakarta, 1983, 154 halaman

SEJARAH Kerajaan Sriwijaya memang merupakan topik menarik untuk dibicarakan. Telah berpuluh sarjana membahas berbagai segi kerajaan itu. Tetapi masih saja banyak masalah yang hingga kini menimbulkan pertentangan pendapat para ahli. Hal itu, antara lain, disebabkan kurangnya sumber untuk penulisan sejarah Kerajaan Sriwijaya apabila dibandingkan dengan rentang waktu eksistensinya – dari abad ke-7 s/d ke-12.

Lain dari itu, penafsiran sumber-sumber tersebut sendiri sering kali menimbulkan berbagai permasalahan. Prasasti yang biasanya merupakan sumber utama tidak banyak jumlahnya, dan itu pun tersebar secara sporadis dalam beberapa kurun waktu. Yang terbanyak dari akhir abad ke-7 Masehi, seperti Prasasti Kedukan Bukit (682 M), Prasasti Talang Tuo (684 M), Prasasti Kota Kapur (686 M).

Dari abad sesudahnya tercatat Prasasti Bawang atau Hujung Langit (997 M), Prasasti pada arca Lokanatha dari Gunung Tua, Tapanuli (1024 M), dan prasasti pada sebuah makara dari Solok Sipin, Jambi (1064 M). Peninggalan candi yang penting ialah kelompok Candi Muara Takus dan Muara Jambi.

Tapi, masalahnya, penanggalannya hingga kmi belum terpecahkan dengan memuaskan. Selain itu, ada juga beberapa prasasti mengenai Kerajaan Sriwijaya yang terdapat di luar Indonesla. Yaitu Prasastl Ligor A (775 M), Prasasti Ligor B dan Prasasti Nalanda dari pertengahan abad ke-9 M, serta beberapa prasasti dari raja-raja Cola di India dari abad ke-ll M. Berita-berita dari Arab dan Cina, yang juga merupakan sumber luar negeri amat penting, membawa permasalahan sendiri pula. Dalam berita-berita Arab pada abad ke-9 sudah muncul kerajaan yang disebut Zabaj dan Sarbaza atau Sribuza. Kedua nama itu diidentifikasikan sebagai Sriwijaya, sekalipun Zabaj sebenarnya merupakan transkripsi dari Jawaka. Sayang, berita-berita Arab itu banyak yang berasal dari sumber kedua.

Lain halnya dengan berita-berita Cina. Berita-berita itu kebanyakan dibuat para pendeta Cina yang, dalam perjalanan dari Cina ke India atau sebaliknya, singgah dan berdiam beberapa waktu di Sriwijaya. Selain itu, berita-berita tentang Sriwijaya juga di buat para pejabat yang mencatat keterangan utusan Kerajaan Sriwijaya yang datang ke Cina. Dengan demikian, berita-berita itu sering akurat. Kesulitan yang dihadapi sejarawan ialah dalam merekonstruksikan nama orang, tempat, atau kerajaan, dan melokalisasikannya.

Stanislav Julien pernah menulis karangan tentang metode merekonstruksikan lafal asli nama-nama itu. Tetapi metode itu sering tidak dapat dipakai, karena yang dipergunakan sebagai dasar adalah nama-nama yang terdapat dalam naskah-naskah Cina yang merupakan terjemahan dari naskah keagamaan bahasa Sansekerta. Contohnya, nama yang ditransliterasikan dengan lafal Mandarin menjadi MoHo-sin, menurut sejarawan lain, B. KarIgren, lafal kunonya ialah muok-xa-sien. Kemungkinan rekonstruksinya ialah Mukhastn.

Bertolak dari situ kami akan memberikan beberapa catatan atas karya Nyonya Nia Kurnia Sholihat Irfan. Pertama-tama mengenai lokasi pusat Kerajaan Sriwijaya. Dalam hal ini, Prasasti Telaga Batu, yang berisi persumpahan terhadap barang siapa yang mendurhaka terhadap raja Sriwijaya, memberi petunjuk yang kuat. Karena di antara yang mendapat ancaman itu putra mahkota, pejabat tinggi sipil dan millter, penguasa daerah, dan para abdi raja, maka prasasti itu tidak boleh tidak berdiri di suatu tempat keramat di ibu kota kerajaan – tidak jauh dari istana raja. Dengan perkataan lain, selama Prasasti Telaga Batu itu berfungsi, pusat Kerajaan Sriwijaya ada di Palembang.

Tetapi apakah selamanya ada di Palembang? Tidakkah seperti halnya kerajaan kuno lain, baik di Asia Tenggara Daratan maupun Kepulauan Nusantara, pusat kerajaan itu berpindah-pindah karena berbagai sebab? Apakah kota berbenteng (wanua), yang dibuat Raja Dapunta Hiyang sebagai ibu kota kedua Kerajaan Sriwijaya adalah Palembang perlu dipermasalahkan lagi. Sekalipun masuk akal bahwa kota itu merupakan lokasi Prasasti Kedukan Bukit ditemukan, toh perlu dicatat bahwa tidak ada yang tahu pasti tempat asal prasasti itu. Juga penafsiran lokasi Minanga, tempat Dapunta Hiyang bertolak dengan tentaranya, amat menentukan dalam masalah pusat Kerajaan Sriwijaya.

Mengenai lokasi Minanga, Nia – sebagaimana Prof. Slametmuljana – lebih condong menempatkannya di Binanga – di sekitar Sungai Barumun. Tetapi argumentasi yang dikemukakannya tentang perubahan ma menjadi ba menyalahi kaidah ilmu linguistik. Padanan awalan mar dalam bahasa Melayu kuno ialah me dalam bahasa Indonesia sekarang. Jika Nia mengemukakan pentingnya daerah Binanga dengan menunjuk adanya biaro-biaro di daerah Padang Lawas, hal itu merupakan anakronisme. Sebab, biaro-biaro itu, seperti dapat disimpulkan dari prasasti-prasasti di daerah tersebut, berasal dari abad ke-12 sampai ke-14 M. Dalam kaitan pusat Kerajaan Sriwijaya kiranya perlu ditinjau lagi tafsiran nama Sanfo-ch’i.

Nia rupa-rupanya condong mengikuti pendapat Slametmuljana bahwa Sanfo-ch’i merupakan transkripsi dari Suwarnabhumi. Bahwa san merupakan transkripsi dari suwarna, yang diucapkan swarn dan kedengaran san, saya harap hanya Slametmuljana sajalah yang mempercayainya. Juga tanda bunyi ch ‘i (Mandarin) tidak mungkin merupakan transkripsi dari mi, karena lafal kunonya ialah dz’iei yang merupakan transkripsi paling tepat untuk jaya.

Seyogyanya San-fo-ch’i ditafsirkan sebagai “Tiga [Sri] wijaya”. Dengan kata lain, di zaman Dinasti Sung dan Ming, ada tiga tempat yang dianggap sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya. Catatan lain adalah mengenai hubungan Kerajaan Sriwijava dengan Dinasti Sailendra. Yang pasti ialah sejak pertengahan abad ke-9, dimulai dengan Raja Walaputradewa, sampai sekurang-kurangnya abad ke-11, raja-raja Sriwijaya dari wangsa Sailendra. Cakal bakal dinasti ini ialah Dapunta Selendra dari Prasasti Sojomerto.

Catatan terakhir adalah tentang rekonstruksi nama dalam berita-berita Cina. Sebaiknya kita menggunakan dasar lafal kuno – antara lain dalam buku Grammata serica recensa, hasil rekonstruksi B. Karlgren – sebagai pegangan. Jadi, Mo-ho-sin, misalnya, mesti kita kembalikan dulu kepada lafal kunonya, Muok-xa-sien, yang merupakan transkripsi dari Mukhasin atau mungkin Bekasm.

ARGUMENTASI Nia melokalisasikan Mo-ho-sin di pantai barat Pulau Bangka kurang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Yang jelas, kita tidak dapat mengambil Mo-ho-nya saja dari nama Moho-sin, lalu menganggapnya sebagai transkripsi dari moha. Juga kata moha (Sanskerta) tidak sama artinya dengan “bangka” itu dapat dilihat dari kamus bahasa Sanskerta atau Jawa kuno untuk kata moha, dan kamus umum bahasa Indonesia untuk bangka. P’o-huang memang dapat direkonstruksikan menjadi Bawang. Tetapi jangan lantas dihubungkan dengan Prasasti Bawang atau Prasasti Hujung Langit di daerah Sekalaberak (dalam buku ini secara konsisten dieja Sekalabekhak, saya kira ini pengaruh informan yang cedal). Sebab, prasasti itu bukan prasasti persumpahan. Sejarah Kerajaan Sriwijaya memang belum dapat diceritakan dengan jelas dan tuntas, karena masih banyak data arkeologis yang terpendam di dalam tanah. Antara lain, terbukti dari temuan sisa-sisa bangunan bata di daerah Lahat, temuan situs permukiman yang penuh kereweng lokal dan pecahan keramik Cina di sebuah areal HPH dekat Palembang, temuan sisa-sisa bangunan bata di luar kompleks Candi Muara Takus. Saya harap Nia masih akan sempat menyempurnakan buku ini dengan data dan pendekatan baru.

Boechari, Epigraf dan dosen arkeologi  Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta.

(majalah.tempointeraktif.com, 1984)


Responses

  1. dari dulu,masalah seperti ini selalu menjadi bahan desersi bg seseorang atau sekelompok oran..sayang nya dr sekian banyak argumen dan ulasan2,selalu ber akhir dngn kebuntu,an .Bagi kami orang awam,kadang2 gerah jg,apalagi baru2 ini tersiar kbr,kalau negri jiran kt, meng klaim,kalau pusat lokasi negara Sriwijaya itu brada di negara mrka..Itu,tdk lain,krna mrka mencermati,memperhatikan,kalau diantara para pakar2 sejarah kt,tdk ada titik temu yg pasti..Kelemahan para ahli kt,hanya bergantung pd informasi asing,yg notabene tdk tau dngn se detail mungkin,dr bangsa kita..Masalah nya dlm menentukan suatu nama yg kt baca,seharus para pakar2 ini,bs me milah2 apakah nama2 yg tsb,didalam pembahasan sejarah,.sebuah nama tempat,atau nama orang.atau cm julukan..Ini kadang terbaca tiga nama berbeda,disimpul kan sebagai nama SRIWIJAYA..

  2. ..baca,an yg menarik..tapi menimbul kan tanda tanya juga,sebenar nya,apa yg menjadi tujuan mrk,mencari lokasi atau tempat berdiri nya keraja,an tsb. Seharus nya para peneliti itu menguraikan lbih detail mengenai tatanan kehidupan pd waktu zaman tsb, misal nya,bagaimana struktur kota nya,apa istana nya raja terdiri dari gdung bata yg bertingkat,atau kah cuma rumah kayu biasa,trus bgmn kehidupan rakyat nya bertanikah.atau nelayan,atau saudagar yg kaya semua..jangan hanya membayangkan kalau singgasana raja nya terbuat dari gading bersalut emas..Sriwijaya negara maritim,..dan waktu itu menjadi tempat belajar agama budha.Di buku pelajaran sejarah, kata I-tsing,.orang berdiri ditengah hari,tidak ada bayangan nya,tidak ada satu pun terlihat tentara keraja,an nya.kecuali negara dlm keada,an perang, lasykar nya tak terhitung banyak nya.. Berarti negri ini di dukung oleh banyak penopang, yg tentu pd waktu itu mrk blum menggunakan jet tempur, ..Palembang jg terkenal dengan nama negeri “Batang hari sembilan “.

  3. Seluruh dunia telah bersetuju AGAMA HINDU dan BUDDHA berasal dari SUMATRA dan PULAU JAWA. Agama yang diasaskan oleh sebilangan kecil kaum primitif penghuni asal ke dua pulau tersebut sebelum menarik minat kaum India Utara dan Selatan begitu juga dengan kaum Indocina termasuk Campa Kambodia, Laos dan Funan datang beramai-ramai belajar agama hindu dan buddha di situ. Menurut kajian sejarah dari seluruh dunia tulisan Pallava, Sanakreta, Hebrew dan Ibrani juga berasal dari sana begitu juga dengan bahasa Hebrew, Ibrani dll kecuali bahasa Mala-Ur yang dibawa khas dari negara Ur dibawah Kerajaan Cheldina. Manusia bertelanjang bogel di kedua pulau berkenaan amat dikagumi diseluruh dunia kerana hebat dengan teknologi senibina hinggakan hampir semua bangunan hebat di seluruh dunia dibina oleh manusia primitif yang setaraf dengan baboon tersebut.

  4. Mbak Nia..permisi numpang share .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: