Oleh: hurahura | 28 September 2011

Legenda Pak Wongso

Rumah Pah Wongso di Blandongan, kawasan Pecinan Jakarta Kota

Warta Kota, Rabu, 28 September 2011 – Orang-orang tua yang pernah merasakan hidup di zaman kolonial, pastilah pernah mendengar nama Pak Wongso (dalam foto-foto lama tertulis Pah Wongso). Wongso termasuk tokoh legendaris di daerah Pecinan.

Wongso adalah seorang keturunan Belanda. Pada masanya, tahun 1940-an, dia mendirikan panti sosial. Banyak anak kecil yang dianggap nakal oleh orangtuanya, dititipkan di kediamannya untuk dididik menjadi orang berguna. Setelah mendapat gemblengan Pak Wongso, biasanya mereka tumbuh jadi orang berhasil. Pak Wongso juga banyak memperhatikan orang terlantar. Mereka diperkenankan tinggal di rumahnya.

Menurut orang-orang tua di sekitar Pecinan, Wongso adalah seorang pedagang keliling. Dia biasa dagang mi dalam baskom besar menggunakan sepeda. Wongso pun memiliki bisnis lain, yakni rental kendaraan.

Selepas 1947, mungkin setelah Pak Wongso meninggal, panti sosial itu tidak terurus lagi. Rumahnya pun berpindah tangan, entah ke mana keluarganya menetap. Menurut kabar terakhir, salah seorang anaknya tinggal di Jember. Rumah Pak Wongso terletak di Jalan Blandongan sekarang, tetapi sejak beberapa tahun lalu sudah rata dengan tanah.

Bersebelahan dengan rumah Pak Wongso terdapat rumah tua bekas perkumpulan Tionghoa. Selepas G30S-PKI rumah itu disita pemerintah. Di Jalan Blandongan dan sekitarnya yang termasuk Kecamatan Tambora, beberapa tahun lalu masih terdapat beberapa rumah berarsitektur China. Rumah-rumah tersebut dibangun sekitar tahun 1770-an hingga abad ke-19 setelah peristiwa Pemberontakan China 1740. Keberadaan bangunan itu mengukuhkan adanya permukiman khusus untuk etnis China yang menjadi mitra Belanda. Dengan demikian memperkaya khasanah arsitektur bangunan di Provinsi DKI Jakarta. Bangunan tersebut masih asli, utuh, tetapi dalam keadaan kurang terawat.

Wongso dan bisnis penyewaan kendaraan (Foto-foto koleksi Candrian Attahiyyat)

Sayang karena ketidaktahuan pemilik dan kemasabodohan pemerintah, beberapa bangunan sudah berganti wajah. Arsitektur lamanya tidak kelihatan lagi sehingga kita kehilangan jejak masa lalu. Padahal menurut Undang-undang tentang Cagar Budaya, merusak bangunan merupakan tindak pidana.

Menurut feng shui (ilmu tata letak bangunan asal China), wilayah Jakarta Barat dipercaya merupakan tempat terbaik untuk lokasi Pecinan karena dianggap berada di area ’kepala naga’. Karena itu pusat perdagangan dan permukiman berada di wilayah ini. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Catatan:
Info terakhir dari Bapak Leo Wijnhamer pada 6 Juli 2017 sbb:

Menurut kabar terakhir, salah seorang anaknya tinggal di Jember. Ini tidak
benar, semua anaknya sekarang tinggal di negeri Belanda.
Rumah Pak Wongso terletak di Jalan Blandongan sekarang, tetapi sejak
beberapa tahun lalu sudah rata dengan tanah. Ini juga tidak benar, rumah itu
masih berdiri.
Dia biasa dagang mi dalam baskom besar menggunakan sepeda. Ini tidak benar,
ayah saya menjual kacang goreng dan kembang gula.
Lihat juga di Wikipedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Pah_Wongso
Saya anaknya.

Iklan

Responses

  1. Anak2 Pah Wongso tidak ada yang tinggal di Jember, semuanya sekarang ini tinggal di negeri Belanda.
    https://id.wikipedia.org/wiki/Pah_Wongso
    Saya salah satu anaknya.

    • Terima kasih atas koreksi bapak, salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: