Oleh: hurahura | 11 November 2010

Sepintas Konsep Kalpataru

Oleh: Djulianto Susantio

Kalpataru pada relief candi

Pada candi sering dijumpai berbagai pola hias ornamental. Salah satu bentuk pola hias tersebut adalah relief, baik relief cerita maupun ragam hias. Di antara sekian banyak relief ragam hias, motif kalpataru terbilang paling populer.

Kalpataru adalah pohon suci yang terdapat di surga. Adanya ragam hias kalpataru pada sejumlah candi, dimaksudkan untuk menyucikan candi tersebut. Namun para pakar belum dapat memastikan kapan dimulainya kepercayaan terhadap pohon. Dalam literatur India hanya dikakan, kesenian mempunyai arti yang nyata sebagai bahasa simbol. Sebagai bagian dari simbol-simbol tersebut, digunakan beberapa tumbuhan seperti teratai dan kalpawreksa. Simbol kalpawreksa dengan berbagai variasinya sangat populer dan banyak ditampilkan dalam seni ukir, seni lukis, puisi, dan kitab kuno.

Diduga konsep ini berasal dari konsep Dewi Ibu. Masyarakat kuno menganggap ibu sebagai sumber kehidupan karena ibulah yang melahirkan anak. Ibu dianggap pula sebagai lambang kesuburan. Pohon dipandang tidak ubahnya seperti seorang ibu.

Selain itu masyarakat kuno mengenal konsep ’dunia atas’ dan ’dunia bawah’. Di antara kedua dunia berdiri satu ketuhanan yang meliputi keduanya. ’Dunia tengah’ ini dilambangkan dengan pohon hayat, yang merupakan lambang kekuasaan tertinggi.

Konsep lain yang mendasari kepercayaan terhadap pohon adalah konsep kalpataru. Di India kalpataru dianggap suci karena masyarakat percaya bahwa pohon tertentu bisa memenuhi segala keinginan manusia. Kalpataru berasal dari kata klp = ingin dan taru = pohon.

Menurut mitologi, pohon ini adalah salah satu dari lima pohon suci di surga Dewa Indra. Sebagai pohon pengharapan, kalpataru juga disebut kamadugha, sebagai pemberi segala hasrat dan mengabulkan segala keinginan manusia.

Di samping memberi kesenangan duniawi, pohon ini juga menolong manusia dalam mencapai kebahagiaan akhir, yaitu moksa. Karena menurut kepercayaan pohon dapat menolong manusia untuk mencapai moksa, maka kepercayaan terhadap pohon banyak dianut.


India

Kalpataru amat dikenal dalam kesusastraan India karena merupakan hiasan yang amat populer dalam masa kesenian India awal. Kalpataru semakin berkembang pada masa Gupta. Simbol kalpataru dikenal dalam beberapa bentuk variasi yang kemudian menimbulkan bentuk kalpavalli atau kalpalata. Hiasan tersebut berupa daun-daunan yang menjalar dengan sulur daun yang saling menjalin, beberapa di antaranya dipahatkan sebagai pohon pengharapan.

Pengarang Kalidasa banyak menyebutkan motif kalpataru dan kalpalata dalam karya-karyanya. Hal ini bisa dilihat dari cerita Mahavanija Jataka. Dikatakan, ”…Sekelompok pedagang beristirahat di bawah sebuah pohon. Tiba-tiba dari salah satu cabang menetes titik air dan dari cabang yang lain segumpal makanan…”. Selanjutnya Kitab Paligatha mengemukakan, ”…Pohon itu menghasilkan air jernih, makanan, gadis cantik, dan segala sesuatu yang baik-baik…”.

Dalam kitab Purana konsep tentang pohon pengharapan banyak dikemukakan pada waktu pengarang menceritakan pulau ideal Uttarakuru. Pulau ini, menurut kitab Mahabharata, memiliki bermacam-macam pohon. Karena itu manusia yang hidup di sana akan merasa berbahagia dan puas, seperti dewa-dewa yang bebas dari pengaruh kesedihan dan penyakit.

Kitab-kitab lain yang menyinggung pohon hayat adalah Ramayana, Bhuvanakosa, Vayupurana, Meghaduta, dan Bhanabata. Di situ Kalidasa menyebutkan kalpawreksa sebagai sumber segala macam perhiasan dan dandanan yang biasa dipakai oleh kaum wanita di Alaka (Ratnawati, 1985).

Di panil bangunan Mohenjodaro berbagai relief pohon banyak dipahatkan. Fungsinya untuk dimuliakan dan menjadi objek pemujaan untuk upacara perkawinan dan pemenuhan nazar. Selama berabad-abad di India banyak penduduk memiliki jimat dari ranting pohon. Jimat ini berfungsi untuk melindungi kelahiran bayi laki-laki, melindungi diri dari musuh, dan pengobatan.

Pada waktu bulan purnama, pohon dipuja oleh wanita yang sudah menikah. Upacara terhadap pohon juga dilakukan untuk menghormati Dewi Laksmi dan Dewa Indra.


Indonesia

Sumber tertulis pertama yang menyebutkan istilah kalpataru kemungkinan besar adalah prasasti berbentuk yupa peninggalan Raja Mulawarman dari Kerajaan Kutai. Dikatakan demikian, ”…Kebaikan budi ini ialah berwujud sedekah banyak sekali seolah-olah sedekah kehidupan atau semata-mata pohon kalpa…”.

Selanjutnya cerita Tantu Panggelaran menyinggung suatu tempat bernama Hiranyapura yang dipenuhi dengan kalpataru. Penyebutan istilah kalpataru dan yang sejenis, juga terdapat dalam kitab-kitab Udyogaparwa, Brahmandapurana, Ramayana, Arjunawiwaha, dan Hariwijaya.

Relief Kalpataru di Candi Prambanan

Pada relief candi, penggambaran kalpataru selalu bertumpu pada lima ciri utama, yaitu binatang pengapit, jambangan bunga, untaian manik-manik atau mutiara, payung, dan burung. Binatang pengapit merupakan simbol dari pohon agar tetap suci dan jauh dari gangguan setan. Jambangan bunga merupakan simbol kekayaan, kemakmuran, dan kesuburan. Hal ini digambarkan oleh untaian manik-manik atau mutiara. Payung merupakan simbol kesucian. Sedangkan burung atau kinnara-kinnari (makhluk berujud setengah manusia dan setengah burung) adalah makhluk penjaga pohon dan sekaligus lambang kehidupan.

Saat ini kita hanya menganal kalpataru setiap tanggal 5 Juni, saat peringatan Hari Lingkungan Hidup. Padahal, makna yang terkandung di dalamnya sangat edukatif.

Iklan

Responses

  1. hai, kalo menurut hatta yoga , yang dimaksud dengan kalpataru adalah pohon permintaan. Pohon ini ada pada cakra ke -4 atau yang disebut anahatta. Apapun permintaan manusia akan diluluskan melebihi harapannya.
    *sumber: the serpent power oleh Arthur avalon.

  2. makasih ^^ tugas Ryan terbantu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: