Oleh: hurahura | 7 November 2013

Korelasi Candi Songgoriti dengan Prasasti Sangguran Tahun 928 M


Abstrak:

Candi Songgoriti merupakan semacam candi patirthan, dibangun berhubungan dengan sumber air panas yang keluar dari dalam tanah (artesis). Cerita rakyat setempat menyebutkan bahwa candi tersebut dibangun berhubungan dengan tempat seorang mpu pembuat pusaka, oleh karenanya airnya panas dan mengandung besi. Sementara prasasti Sangguran tahun 928 M, yang dikeluarkan oleh Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa bersama dengan patihnya, Rakryan Mapatih Pu Sindok Sri Isanawikrama dari kerajaan Mataram kuna Jawa Tengah, menyebutkan bahwa wanua (desa) Sangguran watak (wilayah) Waharu, dijadikan sima guna kelangsungan sebuah bangunan suci bagi para pandai besi di Mananjung.

Atas dasar bentuk bangunannya yang tambun, juga beberapa bentuk tulisan pada inskripsi-inskripsi pendek yang ditemukan beserta peripih yang lain di dalam sumuran candi, candi Songgoriti diduga berasal dari sekitar abad IX M. Sedangkan prasasti Sangguran diterbitkan pada tahun 928 M (abad X M). Dengan demikian sebelum prasasti Sangguran dibuat, candi Songgoriti sudah ada. Hal tersebut cocok dengan pemberitaan dalam prasasti bahwa prasasti dibuat sebagai penetapan sima desa Sangguran bagi kelangsungan bangunan suci di Mananjung. Maka diduga tempat para pandai besi di Mananjung tersebut adalah daerah Songgoriti sekarang, yang memang benar-benar terdapat bangunan suci (candi Songgoriti)


Pendahuluan

Candi Songgoriti pertama kali dicatat oleh Van I Jsseldijk tahun 1799, kemudian oleh Jonathan Rigg tahun 1849 dan Brumund tahun 1863. Tahun 1902 J. Knebel melakukan inventarisasi dan dilanjutkan dengan restorasi tahun 1921. Candi Songgoriti yang kita lihat sekarang ini merupakan hasil restorasi tahun 1938-1944 oleh Oudheidkundige Dienst Hindia Belanda.

Bangunan candi yang berada pada ketinggian 998 m diatas permukaan laut ini terletak di halaman belakang hotel ‘Songgoriti’. Sungguhpun berada di wilayah adiministratif kota Batu, namun masih merupakan asset pemerintah kabupaten Malang. Dinamakan candi Songgoriti karena letaknya di dusun Songgoriti Kelurahan Songgokerto kecamatan Batu kota Batu. Sebagian lagi menyebutnya candi Empu Gandring, seperti yang pernah dikenal pada tahun 1950-an yang tertera pada map/peta wisata Malang. Juga ada yang menyebut candi Empu Supo atas dasar tradisi lisan masyarakat setempat yang rupa-rupanya mengadopsi dari sumber cerita ‘Babad‘ yang tidak asing bagi masyarakat Jawa Timur.

Menurut hasil wawancara dengan juru pelihara candi Songgoriti sekitar tahun 90-an (Pak Parlan) berkenaan dengan tradisi lisan masyarakat Songgoriti, diperoleh sebuah cerita bahwa Empu Supo, seorang empu di masa akhir kerajaan Majapahit, diutus oleh prabu Brawijaya untuk mencari pusaka keraton bernama ‚kyai Sengkelat‘yang menghilang dari keraton Majapahit. Dalam pengembaraannya Empu Supo sampai di daerah Songgoriti. Di sana Empu Supo berdiam lama dan mendirikan padepokan pandai besi. Di Songgoriti Empu Supo membuat sebuah keris baru. Di sana pula ia beristri dan mempunyai seorang anak bernama Empu Supodriyo. Setelah Supodriyo dewasa, maka padepokan pandai besi diserahkan kepadanya, sedangkan Empu Supo sendiri melanjutkan perjalanan mencari pusaka ‚kyai Sengkelat‘.

Air panas yang mengandung besi merupakan sisa-sisa dari para pandai besi murid-murid empu Supo dan Empu Supodriyo yang membuat pusaka keris . Bahan keris yang akan ditempa dipanaskan ke bara api hingga memerah, kemudian ditempa sesuai bentuk yang diinginkan, baru dimasukkan ke dalam air, demikian berulang-ulang hingga didapat bentuk yang diinginkan. Air kolam yang terus menerus dimasuki bahan pembuatan keris yang baru dipanaskan tersebut akhirnya menjadi panas dan berbau besi, maka demikianlah akhirnya keberadaan sumber air di Songgoriti sampai sekarang, panas dan berbau besi.

Candi Songgoriti memiliki langgam bangunan yang mirip dengan gaya arsitektur candi-candi di Jawa Tengah periode abad IX – X M. Jika ditilik dari bentuk tulisan yang tertera di lembaran emas dalam kotak-kotak tempat peripih yang ditemukan di candi Songgoriti, maka dapat diduga bahwa candi Hindu ini berasal dari sekitar abad IX M. Masa tersebut sejaman dengan dikeluarkannya prasasti Sangguran yang bertanggal 14 paro terang (suklapaksa) bulan Srawana 850 saka atau equivalen tanggal 2 Agustus 928 M (sekarang di Scotlandia), oleh Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa bersama dengan patihnya, Rakryan Mapatih Pu Sindok Sri Isanawikrama dari kerajaan Mataram kuna Jawa Tengah.

Prasasti Sangguran menyebutkan bahwa desa Sangguran yang masuk wilayah Waharu, dijadikan sima atau desa perdikan oleh raja, yang penghasilannya diperuntukkan bagi kelangsungan bangunan suci para pandai besi (sima kajurugusalyan) di Mananjung. Menurut laporan bahwa prasasti tersebut dahulu ditemukan di dusun Ngandat desa Mojorejo kota Batu. Namun sampai saat ini belum dapat dipastikan tempat-tempat yang dimaksudkan di dalam prasasti Sangguran, seperti Waharu, Sangguran, dan Mananjung, serta bangunan suci yang dimaksudkan.

Dari latar belakang di atas dapat diajukan sebuah rumusan masalah, yaitu adakah korelasi antara Candi Songgoriti dengan Prasasti Sangguran Tahun 928 M?


Metode

Metode yang dipakai dalam penulisan karya tulis ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu a) Pengumpulan data yang terdiri studi pustaka dan studi lapangan, serta b) Pengolahan data. Studi pustaka dimaksudkan untuk mendapatkan data dari sumber-sumber tertulis yang berhubungan dengan topik penelitian. Studi lapangan untuk mendapatkan data secara langsung di lapangan.

Dalam studi ini dipakai cara pengamatan obyek, pencatatan, pengukuran, penggambaran, dan pemotretan. Di samping itu juga dilakukan wawancara langsung dengan informan yang dianggap mengetahui tentang obyek yang bersangkutan.

Pengolahan data dengan melalukan analisa bentuk bangunan candi Songgoriti serta isi dari prasasti Sangguran. Sementara pengamatan lapangan berhubungan dengan kewilayahan dan toponimi sekitar daerah obyek penelitian, yang diambil baik dari sumber prasasti dan asal prasasti (wilayah sekitar Kandat) maupun sumber candi Songgoriti (wilayah sekitar Songgoriti). Ketiga data kemudian dianalisa guna diperoleh suatu simpulan ada tidaknya korelasi antara bangunan candi Songgoriti dengan isi prasasti Sangguran.


Pembahasan

A. Candi Songgoriti
Seperti yang disinggung di atas bahwa candi Songgoriti dapat diperkirakan berasal dari sekitar abad IX M, atas dasar temuan-temuan peripih yang terdapat pada 4 kotak batu (Garbhapatra), yang berisi cepuk perunggu, yoni perunggu, lingga emas, dan beberapa kepingan emas bertulisan (Soekmono, 1974:57-58), maka ditilik dari bentuk hurufnya, tulisan tersebut diperkirakan berasal dari abad IX M. Sedangkan ukuran bangunannya adalah P. 3.82 m; Lb. 3.73 m; Tg. 2.47 m (sisa reruntuhan)

Seperti candi Hindu lainnya, candi yang hanya tinggal bagian kaki dan sebagian badan ini terdiri dari ruang utama yang dikelilingi oleh 3 relung pada sisi-sisinya, yang tentunya dahulu berisi arca Siwa Mahaguru (selatan) kini arcanya telah hilang, Ganesya (barat) masih berada di tempatnya, dan Durga Mahisasuramardini (utara) tinggal bagian bawah arca, masih berada di tempatnya, kadang arca ini dipindah di sisi timur. Dinding-dinding luar yang mengapit relung berhiaskan dewa-dewi berdiri dengan posisi dwibangga (dua lekukan badan), suatu ragam hias yang khas dalam kelompok candi-candi Jawa Tengah seperti Kalasan, Sari, Banyunibo, dan sezamannya.

Songgoriti-01Candi Songgoriti dilihat dari sudut Timur laut (Sumber: penulis 2008)

Keanehan dari candi yang menghadap ke timur ini adalah tidak adanya tangga masuk untuk menuju bilik induknya. Dan memang bilik induk tersebut dirancang untuk tidak perlu dimasuki, disebabkan ukurannya yang kecil. Di duga sisi timur merupakan pintu untuk sebuah ruang induk, ruang tersebut tentunya hanya diperuntukkan bagi lambang Siwa beserta saktinya, yaitu Parwati yang diwujudkan dalam bentuk lingga-yoni yang sekarang tidak ditemukan kembali.

Di bawah ruang induk merupakan sumber air panas. Sumber air belerang tersebut berasal dari sungai bawah tanah yang diduga bermata air dari gunung Welirang. Sumber tersebut secara teknis dialirkan melalui sela-sela kaki candi yang diberi pipa dan keluar menyatu dan tertampung sebagai kolam air yang diberi pagar dinding-dinding batu mengitari kolam, yang nantinya air dari kolam buatan tersebut dialirkan lagi melalui pancuran-pancuran (jaladwara) yang ada pada dinding sisi-sisi kolam (soekmono, 1974:50). Dengan struktur demikian, maka posisi candi Songgoriti sebenarnya berada di tengah-tengah kolam air panas tersebut. Oleh karena itulah dalam konstruksinya yang kecil seperti yang disinggung di atas bahwa dalam prosesi pemujaan, orang tidak perlu naik sampai ke candinya, cukup berada di pinggir kolam air. sehingga secara jelas candi Songgoriti berperan sebagai transformator dari air belerang biasa menjadi air suci yang mujarab.

Konsep transformator tersebut diilhami oleh sebuah cerita dalam mitologi Hindu akan keberadaan gunung Mandara yang dihubungkan dengan Ksirarnawa dalam peristiwa Samodramantana, yang merupakan usaha para dewa dan danawa mencari air kehidupan (Amerta) (Sukirman, 1953:13; Soekmono, 1985:43). Peristiwa mitologi ini terdapat dalam kitab Mahabharata parwa I. Dengan demikian candi Songgoriti bukanlah merupakan bangunan pemujaan berhubungan dengan pendharmaan (Yantra), tetapi lebih merupakan bangunan peringatan (Palladium) sebagai replika Meru atau gunung Mandara/tempat tinggal para dewa yang melegitimasi sumber air panas, yang memang dapat menyembuhkan penyakit tertentu, sehingga disebut sebagai ‘amerta‘. Bangunan semacam ini dalam pengertiannya memang lebih dekat kepada Prasada atau Meru daripada bangunan pemakaman (Soekmono, 1974:219-220).

Seperti telah disinggung di muka bahwa candi Songgoriti didapatkan sudah tidak utuh lagi. Bagian badan hingga puncak sudah lenyap. Batu-batunya banyak yang hilang. Di sekitar reruntuhan candi terdapat fragmen kemuncak kecil, simbar, serta beberapa batu candi. Berdasarkan hasil pengamatan sistem konstruksinya, bangunan candi Songgoriti memiliki kaki dan badan candi yang bidang sisi-sisinya diberi penampil-penampil. Dengan demikian diperoleh kesan adanya sebuah bidang induk yang dikelilingi oleh empat penampil. Apabila bidang induk dan keempat penampil tersebut mulai dari badan candi bagian atas ditarik ke atas mengikuti garis perspektif, maka bagian atas candi merupakan sebuah puncak yang tinggi yang dikelilingi oleh empat puncak yang lebih rendah. Konstruksi semacam ini sesuai dengan konsep Meru yang merupakan sebuah puncak tertinggi dengan empat puncaknya yang lebih rendah, seperti yang diterapkan pada bangunan candi-candi lainnya seperti candi Kalasan, candi Sewu, candi Prambanan, dan candi Singosari.

Pada halaman candi sisi utara dan timur, ditemukan sisa-sisa tembok (dinding) dari batu andesit bekas semacam patirthan. Sungguhpun tembok tersebut sekarang rata dengan permukaan tanah halaman candinya, namun di sisi timur dan utara masih tampak jelas dinding-dindingnya yang dihias dengan pola mistar serta sisi genta. Dugaan bahwa halaman candi Songgoriti dahulunya adalah sebuah patirthan adalah adanya beberapa jaladwara (pancuran) yang masih in situ menempel pada dinding temboknya. Diduga tembok-tembok patirthan adanya hanya di sisi timur, utara, dan sebagian selatan, mengingat bagian barat merupakan sebuah tebing, sehingga menurut dugaan bagian barat tersebut dahulunya adalah sebuah tebing terjal (tampak dari sisa-sisanya sekarang apabila kita mengamati kontur tanah sisi barat candi yang merupakan tebing memanjang dari sebuah kaki pegunungan).

Songgoriti-02Sisa-sisa dinding kolam sisi utara dan timur (Sumber: penulis 2008)

Dari hasil pengamatan di lapangan serta analisa konstruksi, dicoba untuk merekonstruksi di atas kertas. Hasilnya didapat sebuah bangunan candi kecil dengan gaya percandian Jawa Tengah berada di tengah-tengah kolam, yang dinding sisi-sisinya diberi pancuran (jaladwara).

Songgoriti-03Gambar Perkiraan Rekonstruksi Candi Songgoriti dilihat dari sisi utara (menurut penulis)

B. Prasasti Sangguran
Raffles dalam bukunya ‚History of Java‘ (Hamonangan dan Revianto, 2008) mencatat adanya sebuah prasasti dari pedalaman Jawa atas laporan kolonel Mackenzie yang pada saat itu (1813), prasasti sudah berada di Surabaya dan segera diberangkatkan ke Inggris dengan kapal Matilda (sesuai dengan berita dari surat Earl Minto tertanggal 23 Juni 1813). Transkrip secara lengkap pada tahun 1913 diterbitkan oleh Krom dan Brandes dalam Oud-Javaansche Oorkonde. VBG, LX. Disebutkan bahwa batu prasasti tersebut berasal dari daerah Malang, yang menurut Krom berasal dari desa Ngandat atas dasar laporan-laporan kolonel Adams sekitar tahun 1814 (Krom, 1917: 30-31).

Melacak tempat asal prasasti saat ini di daerah Ngandat kecamatan Junrejo kota Batu, didapat suatu keterangan dari para penduduk yang mendengar dari cerita-cerita leluhurnya masa itu bahwa asal prasasti berada di sebuah belik (mata air), yang dikenal dengan ‘belik tengah’. Belik tengah itu sekarang adalah sebuah kolam mata air yang di sisi permukaan sebelah barat ditumbuhi sebuah pohon beringin besar, di dalam komplek wihara ‘Dhammadipa Arama’ jalan Mojorejo no.44 kota Batu. Di atas kolam tersebut kini terpasang sebuah patung ‘Boddhisatwa Avalokitesvara’.

Songgoriti-04Tempat terakhir prasasti Sangguran sebelum dibawa ke Surabaya oleh Kolonel Mackenzie Tahun 1812. Tempat ini sekarang di dalam area Wihara Dammadipa Arama Kota Batu (Sumber: penulis 2013)

Menurut keterangan penduduk pula bahwa di tempat tersebut dahulunya juga didapati sebuah arca dari batu. Namun arca tersebut hilang dicuri orang. Memang tempat itu dahulunya merupakan sebuah sumber mata air di tengah sawah. Oleh masyarakat setempat dikeramatkan, sehingga tidak setiap hari penduduk desa berada di sana jika tidak ada keperluan seperti ‘nyadran’, sesaji untuk upacara bersih desa, atau aktivitas sejenisnya yang berhubungan dengan ritual.

Berpijak dari penjelasan para penduduk serta pengamatan di lapangan, yaitu tidak ditemukannya benda-benda yang lain selain sebuah prasasti yang sudah tidak ada di tempatnya serta arca yang kabarnya pernah ada tetapi sudah hilang. Penulis berargumen dengan mengikuti pendapat Krom bahwa tempat asli prasasti tidaklah di tempat tersebut. Kalau kita konsisten dengan anggapan Krom bahwa menurut keterangan kolonel Adams bahwa di Ngandat pernah ditemukan reruntuhan sebuah bangunan (candi?), maka di atas bangunan itulah sebenarnya asal prasasti.

Di desa Mojorejo kecamatan Junrejo kota Batu, apabila dari arah Malang sampai di pertigaan Pendem, maka kita ke kanan mengikuti jalur ke Karangploso. Sekitar 100 meter dari pertigaan, dan sebelum sampai jembatan kali Lanang, ada jalan ke kiri yang beraspal. Mengikuti jalan tersebut ke barat kurang lebih 900 m, sampailah di punden Mojorejo, di sisi kiri (selatan) jalan. Di sana didapati adanya sisa-sisa batur dari sebuah bangunan (candi) serta banyaknya bata merah besar, yang menurut pemberitaan merupakan sebuah temuan baru (padahal sudah diketahui sejak lama). Posisinya dengan wihara Dhammadipa berada di Timur lautnya. Sementara waktu belum dapat diidentifikasi sisa-sisa bangunan tersebut berasal dari jaman apa. Masayarakat setempat menyebut Punden Mbah Joyo Slamet atau lebih dikenal Punden Mojorejo. Mengamati sisa-sisa yang ada, bangunan tersebut merupakan sebuah bangunan candi dari bata merah, sementara pondasinya dari batu andesit.

Songgoriti-05Sisa-sisa pondasi candi dari punden Mojorejo (Sumber: Penulis, 2011)

Dengan mengikuti konteks adanya sebuah prasasti yang dahulu ditemukan di Ngandat-Batu serta adanya sisa-sisa bangunan yang pernah diberitakan oleh kolonel Adams dua abad yang lalu, maka tidak menutup kemungkinan dan dapat diduga bahwa sisa-sisa bangunan candi yang menurut penduduk ditemukan dalam kondisi masih baru di Mojorejo itu, tidak lain adalah bangunan yang telah dilaporkan oleh kolonel Adams pada jaman Raffles di Indonesia, yaitru sekitar tahun 1812. Perlu pula menjadikan catatan bahwa nama Mojorejo adalah nama baru, nama yang lebih tua lagi adalah Ngandat. Mengikuti perkembangan zaman, Ngandat sekarang hanya sebagai wilayah pedukuhan dari desa Mojorejo.

Kembali kepada masalah prasasti Sangguran. Prasasti ditulis pada sebuah batu berbentuk lempengan dengan tinggi sekitar 2 m. Bagian atas membentuk kurawal, sedangkan bagian bawah terdapat pedestal (lapik) yang membentuk padmasana ganda.

Songgoriti-06Prasasti Sangguran di Scotlandia Inggris (Sumber: Srs dalam Sumadio, 2010:45 )

Pada bagian depan memuat 38 baris tulisan, bagian belakang 45 baris, serta bagian samping 15 baris. Huruf dan bahasa yang dipakai adalah Jawa kuna. Isi secara menyeluruh dapat disebutkan sebagai berikut:
Sebelas baris pertama dari prasasti Sangguran yang berhubungan dengan pokok permasalahan adalah:

  1. //o//awighnamastu// śiwamastu sarwwajagatah parahitaniratah bhawantu bhuta(gan)ah (keadaan makhluk hidup setengah dewa, kekurangan
  2. —————— dosa praghanatsat sarwwatra sukhi bhawatu lokah ( //o// )
  3. swasti śakawarsatita 850 śrawana masa tithi caturdaśi śuklapaksa wu. ka. śa. wāra hastā naksatra wisnu dewatā sobhagya
  4. yoga irika diwasa ni ājñā śrī mahārāja rakai paŋkaja dyah wawa śrī wijayaloka namostuńga tinadah rakryān mapatih i hino pu si
  5. ndok śrī īsānawikrama umiŋsor i samgat momahumah kālih madandĕr pu padma ańgĕhan pu kundala kumonakan ikanaŋ
  6. wanua i sańguran watak waharu gawai (pa)ńguhan tapak mas su 6 līmān (sīma?) susukan denīkanaŋ punta i manañjuŋ mańaran daŋ ācāryya
  7. — litikya, mamaŋ yańgu i sĕpĕt dapu jambaŋ kisik (kĕ) dapu bhairawa wasya lukiŋ bhanda tamblaŋ ha aŋ wigĕr dapu sat
  8. sari —- i bhatāra i saŋ hyaŋ prāsāda kabhaktyan iŋ sīma kajurugusalyan i manañjuŋ paknānya sīmangun pa* (sīma punpunana?) (bhatara)
  9. umaŋaksa iŋ (umyāpāra asiŋ?) samadanā (sambhadanā?) i saŋ hyaŋ dharmma ŋkānāni śiwa catur niwedya i bhatāra pratidina maŋkana ista prayojana śri mahā
  10. rāja muaŋ rakryān mapatih rikanaŋ wanua i sańguran inarpannākan i bhatāra i saŋ hyaŋ prāsāda kabhaktyan iŋ sīma kajurugusalyan iŋ manañjuŋ
  11. mā i waharu parnnahanya swatantra tan katamāna deniŋ patih wahuta muaŋ saprakāra niŋ mangilala drawya haji iŋ daŋū, ………… (Brandes, 1913:43; Damais, 1955:102-103).
  1. //Ong semoga tidak ada rintangan // Semoga sejahtera seluruh jagat,
  2. dan semuanya yang berbuat kebajikan //0//
  3. Selamat tahun Saka telah berjalan ke 850, bulan srawana, tanggal 14 paruh terang, hari wurukung kaliwuan saniscara, gugus bintang hasta, (di bawah naungan) dewa wisnu, yoga sobhagya
  4. pada saat itulah perintah Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sriwijayalokanamottungga diterima oleh Rakryan Mapatih i Hino Pu
  5. Sindok Sri Isana Wikrama menurun kepada samgat momahumah berdua (yaitu samgat) Madander Pu Padma (dan samgat) Anggehan Pu Kundala memerintahkan agar
  6. desa Sangguran (bagian dari) wilayah Waharu, dengan persembahan penghasilan desa 6 suwarna mas, hendaknya dijadikan daerah perdikan yang diperuntukkan bagi rohaniwan di Mananjung bernama Dang Acaryya
  7. Litikya (……………… ) di sepet, Dapu Jambang (di Kisik) Dapu Bhairawa, Waisya, Luking, Bhanda, Tamblang, (ha …..) Wiger, Dapu Sa ( … )
  8. Sari, kepada bhatara di sang hyang kabhaktyan di tanah perdikan kajurugusalyan di Mananjung. Perlunya menjadi sima pumpunan (bhatara)
  9. agar siapapun berusaha keras demi (kelangsungan) sang hyang dharmma termasuk empat (macam) persajian siwa kepada bhatara setiap harinya. Demikianlah niat sri Maha
  10. raja bersama rakryan mapatih, desa Sangguran itu hendaknya dipersembahkan kepada bhatara di sang hyang prasada kabhaktyan di tanah perdikan kajurugusalyan di Mananjung
  11. yang berada di wilayah Waharu tersebut. Statusnya menjadi daerah swatantra. Hendaknya tidak dimasuki oleh patih, wahuta dan segala macam pengumpul pajak kerajaan semenjak dahulu, ……..

Baris-baris selanjutnya sampai baris ke 29 menyebutkan tentang berbagai jabatan kelompok penarik pajak istana yang dilarang untuk memasuki wilayah desa Sangguran. Baris ke 30 sampai dengan baris ke 38, disambung pada permukaan batu bagian belakang baris pertama sampai ke 19 memuat daftar para pejabat yang memperoleh bulu bekti (hadiah) baik yang hadir sebagai saksi dalam upacara sima maupun yang tidak hadir. Pada baris ke 19 itu pula sampai baris ke 22, sang hyang makudur (dukun pemimpin upacara penetapan sima), menjalankan pekerjaannya dengan melakukan prosesi upacara berawal dengan memecahkan telur dan memotong ayam di atas batu kulumpang di tengah lapangan. Baris ke 22 sampai baris ke 38 berisi do’a-do’a hyang makudur yang disertai dengan sumpah dan kutukan-kutukan bagi siapa saja yang melanggar ketetapan sang raja. Baris ke 39 sampai dengan baris ke 45 ditambah pada permukaan sisi batu baris pertama hingga baris 14, berisi tentang gambaran para hadirin yang berpesta pora makan-makan dan menikmati tarian di lapangan upacara. Baris ke 15 (terakhir) memuat si penulis prasasti, yaitu citralekha (dari) rakryan i hino (bernama) Laksana.

C. Korelasi Candi Songgoriti dengan Prasasti Sangguran
Nama ‘Songgoriti‘ berasal dari kata dasar ‘sanggha‘ yang berarti kelompok, rombongan, kumpulan (Zoetmulder, 2004:1020; Mardiwarsito, 1986:507), dan ‘riti‘ yang artinya logam sebangsa perunggu, kuningan (Zoetmulder, 204:953). Dengan demikian nama Songgoriti berarti ‘timbunan logam’. Di daerah sekitar Songgoriti sampai sekarang masih didapati nama-nama tempat seperti Kemasan (tempat pengrajin emas) dan Pandesari (pusat pandai logam). Dengan demikian daerah Songgoriti, yang dalam perkembangannya menjadi sebuah desa/kelurahan bernama Songgokerto, dahulunya merupakan sebuah tempat perkumpulan atau tempat adanya suatu usaha pembuatan barang-barang dari logam.

Seperti yang telah dibicarakan di atas bahwa candi Songgoriti bukan merupakan bangunan pemujaan berhubungan dengan pendharmaan (Yantra), tetapi merupakan bangunan peringatan (Palladium) sebagai replika Meru atau gunung Mandara/tempat tinggal para dewa yang melegitimasi sumber air panas, yang memang dapat menyembuhkan penyakit tertentu, sehingga disebut sebagai ‘amerta‘. Dengan demikian bangunan candi Songgoriti diperuntukkan bagi ’sang dewa‘ yang bersemayam di bangunan tersebut. Hal ini cocok dengan pemberitaan dalam prasasti Sangguran bahwa bangunan suci di Mananjung itu merupakan ’sang hyang prasada kabhaktyan i kajurugusalyan‘, suatu tempat pemujaan kepada dewa yang bersemayam di bangunan candi.

Prasasti Sangguran menyebutkan bahwa daerah Sangguran dijadikan tanah swatantra guna pembiayaan bangunan suci bagi ’kajurugusalyan‘ (para pandai logam) di Mananjung. ‘Bangunan suci dari sekelompok para pandai logam‘ identik dengan ‘candi Songgoriti tempat para ahli membuat barang-barang dari logam‘. Didukung pula oleh cerita rakyat bahwa candi Songgoriti didirikan oleh Pu Supo (seorang empu pembuat pusaka yang terkenal dari jaman kerajaan Majapahit). Dari keterkaitan keterangan dari prasasti Sangguran, nama tempat, dan cerita rakyat, terdapat suatu korelasi yang menunjuk atau mengindikasikan bahwa candi Songgoriti berhubungan erat dengan para pandai besi.

Yang menjadi persoalan sekarang adalah letak ’wanua Sangguran‘ watak Waharu. Dengan pertimbangan prasastinya yang besar, tentunya wanua/desa Sangguran tidak jauh dari prasasti itu berada. Sebenarnya, apabila mencermati nama-nama desa yang ada pada prasasti Sangguran, maka akan didapat suatu hipotesa bahwa Sangguran adalah Ngandat sekarang. Nama ‘Sangguran‘ berasal dari akar kata ‘anggur‘ yang berarti menganggur, tidak berbuat sesuatu, berhenti (Zoetmulder, 2004:49; Mardiwarsito, 1986:59), secara harfiah Sangguran berarti ’berhenti‘. Kata tersebut sinonim dengan kata ‘Ngandat‘ dari kata dasar ’Kandat‘, yang juga berarti ’berhenti‘ (Poerwadarminta, t.t :87). Dengan demikian tidak ada keberatan untuk mencari letak desa Sangguran yang dimaksud di dalam prasasti Sangguran, karena desa tersebut adalah desa di mana prasasti tersebut berada, hanya di kemudian hari berubah menjadi nama Kandat. Kandat merupakan bentuk krama dari Anggur. Seperti halnya nama Karuman yang tiba-tiba muncul di dalam kitab Pararaton jaman Majapahit, padahal desa ini ternama di masa-masa sebelumnya, tetapi di dalam prasasti tidak pernah dijumpai suatu desa di wilayah Malang bernama Karuman. Tentu saja, karena di dalam prasasti, salah satunya adalah prasasti Kanuruhan 935 M, nama desa tersebut adalah ‘Kawangyan‘, di dalam Pararaton dikramakan menjadi ’Karuman‘. Arum merupakan bentuk krama dari wangi.

Sementara watak atau wilayah Waharu ada yang berasumsi bahwa wilayah tersebut adalah Lowokwaru sekarang. Hal ini kurang tepat, karena apabila mencermati wilayah-wilayah kerakaian yang termuat di dalam prasasti-prasasti dari daerah Malang, daerah Lowokwaru sekarang termasuk dalam watak (wilayah) kanuruhan. Watak kanuruhan dapat diidentifikasi berpusat di sekitar Dinoyo-Merjosari-Tlogomas sekarang, sementara Ngandat berada di wilayah barat Kanuruhan. Akankah Sangguran menjadi wilayah Waharu, sementara wilayah kerakaiannya berada di dalam wilayah Kanuruhan? Dengan kata lain akankah di dalam wilayah kerakaian muncul kerakaian? Seperti negara di dalam negara?

Melihat semua itu, tentunya watak Waharu harus dicari di dekat desa Sangguran pula. Di sebelah selatan Kandat ± 3 km, didapat sebuah desa bernama Tegal Weru sekarang. Dengan demikian diduga bahwa Tegal Weru pada jaman Mataram kuna sampai jaman Pu Sindok di Jawa Timur, pernah menjadi sebuah wilayah kerakaian (watak), yaitu watak Waharu. Perhatikan peta kabupaten Malang berkenaan dengan posisi Ngandat (Mojorejo) – Songgoriti (Songgokerto), yang menunjuk arah Timur-Barat dengan Ngandat (Mojorejo) – Tegalweru, yang menunjuk arah Utara-Selatan.

Songgoriti-07Peta kota Batu dan sekitarnya Skala 1:100.000 (Sumber: Peta Kabupaten Malang)

Dengan demikian sangat masuk akal apabila disebut bahwa wanua Sangguran merupakan bagian dari wilayah (watak) Waharu, karena jarak antara Waharu (Tegal Weru) dengan Sangguran (Kandat) hanya sekitar 3 km. Sedangkan Sangguran/Kandat dengan bangunan candi Songgoriti hanya berjarak 6 km. Kondisi geografis tersebut sangat cocok dengan pemberitaan dalam prasasti Sangguran bahwa sima wanua Sangguran watak Waharu merupakan sima pumpunan (sima yang dekat dengan bangunan candinya) dari sang hyang prasada kabhaktyan bagi kajurugusalyan di Mananjung.

Desa Mananjung selain disebut-sebut dalam prasasti Sangguran, juga disebut-sebut dalam prasasti tembaga yang berasal dari Malang, dua lempeng yang ditemukan tidak berangka tahun, tetapi menurut gaya isinya dapat diduga berasal dari jaman Airlangga atau Kadiri. Dalam prasasti yang dilaporkan oleh Stutterheim (1929:107) tersebut terdapat nama Mananjung, Waharu, Hujung, Tagaran, Kanuruhan, dan Wwaryang. Isi prasasti menyebutkan soal aturan dagang antara para warga Mananjung dengan keempat warga yang disebut di atas. Identitas Mananjung yang disebut-sebut pada sekitar abad XI M dekat dengan keempat desa tersebut, sesuai dengan pemberitaan prasasti Sangguran pada abad X M yang menyebutkan bahwa Mananjung adalah bagian dari wilayah Waharu. Dengan demikian desa Manajung yang disebut-sebut itu tentunya desa Songgoriti sekarang, yang dikemudian hari menjadi kelurahan Songgokerto.


Kepustakaan:

Bernet Kempers, A.J. 1959. Ancient Indonesian Art. Amsterdam: C.P.J. Van Der Peet.

Blom, J.Oey. 1954. Peninggalan-Peninggalan di Sekitar Malang. Dalam Amerta 2. Hal: 7-19. Jakarta : Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional.

Brandes, J.L.A. 1913. Oud-Javaansche Oorkonde, nagelaten transcripties van wijlen Dr. J.L.A. Brandes, uitgegeven door N.J.

Krom. VBG, LX. Batavia : Albrecht & Co’s – Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Krom, N.J. 1917. De Herkomst van den Minto Steen. BKI LXXIII. Blz. 30-31.

Mellema, RL dan Poerwadarminta, WJS. 1934. Purana Çastra I. Hal: 7-16. Groningen-Den Haag-Batavia: JB. Wolters.

Peta Kabupaten Malang. Surabaya: PT. Karya Pembina Swajaya.

Poerwadarminta, W.J.S. tanpa tahun. Kawroeh Tegesing Temboeng. Groningen-Batavia: J.B. Wolters.

Raffles, Th. S. 2008. The History of Java. Penyunting : Hamonangan Simanjuntak dan Revianto B. Santosa. Yogyakarta : Penerbit Narasi.

Soekmono, R. 1974. Candi Fungsi dan Pengertiannya. Dissertasi. Semarang: IKIP Semarang.

——————–. 1985. Amertamanthana. Dalam Amerta No. 1 Hal. 43-47. Jakarta: Puslit ArKenas.

Stutterheim, W.F. 1929. Transscrieptie van Een Defecte Oorkonde op Bronzen Platen uit Het Malangsche. O.V. 1928 :105-108. KBG. Albrecht & Co. Martinus Nijhoff.

Sukirman, Ki. 1953. Djawa Kuna Kutipan dari Adiparwa. Yogyakarta : SGA Persamaan PGRI.

Sumadio, Bambang et al. 2010. ed. Zaman Kuna (edisi pemutakhiran). Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosusanto, ed. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka

Zoetmulder, P. J. dan Robson, BD. 2004. Kamus Jawa kuna Indonesia. Jakarta: Gramedia.


Informan:

Nama : Likning
Umur : 73 tahun
Alamat : Jl. Raya Mojorejo 100 Batu

Nama : Sucipto
Umur : 56 tahun
Alamat : Jl. Diponegoro dusun Ngandat Mojorejo Batu

Oleh: Suwardono

*Penulis adalah, Staf Pengajar Jurusan Pendidikan Sejarah dan Sosiologi IKIP Budi Utomo Malang, Purbakalawan klasik (masa Hindu-Buddha), serta Guru SMA Negeri 7 Malang

Iklan

Responses

  1. Informasi yang berguna dan sangat bagus untuk mengenal leluhur kita

  2. […] Candi Songgoriti pertama kali dicatat oleh Van I Jsseldijk tahun 1799, kemudian oleh Jonathan Rigg tahun 1849 dan Brumund tahun 1863. Tahun 1902 J. Knebel melakukan inventarisasi dan dilanjutkan dengan restorasi tahun 1921. Candi Songgoriti yang kita lihat sekarang ini merupakan hasil restorasi tahun 1938-1944 oleh Oudheidkundige Dienst Hindia Belanda. […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: