Oleh: hurahura | 14 September 2010

Toleransi Beragama di Masa Lampau

Oleh DJULIANTO SUSANTIO

Ketika pertama kali dibangun pada abad ke-8, Candi Borobudur jelas-jelas ditujukan sebagai tempat pemujaan agama Buddha. Namun, sepuluh abad kemudian setelah muncul dari semak belukar yang menutupinya, candi itu telah menjelma menjadi peninggalan masa lampau yang bersifat lintas agama. Karena merupakan monumen mati (dead monument), artinya tidak digunakan secara terus-menerus oleh pendukung agama Buddha, maka banyak pakar tertarik mengkaji bangunan ini. Ada yang membahasnya dari aspek-aspek filsafat, arsitektur, sejarah, dan planologi. Ada pula yang mengulasnya dari segi seni, teknik, budaya, dsb.

Lebih dari itu, Candi Borobudur telah dianggap sebagai monumen milik dunia. Karena itu, ketika candi ini mengalami kerusakan parah dan perlu dipugar secara besar-besaran, banyak negara ikut berpartisipasi tanpa memandang keagamaan yang diwakilinya. Mereka menganggap Candi Borobudur adalah milik semua agama. Terbukti, banyak pemeluk non-Buddha amat mengagumi candi ini dan terus berdatangan ke sini hingga sekarang. Candi Borobudur merupakan contoh nyata dari adanya kerukunan dan toleransi beragama di tanah air kita.


Toleransi

Sebenarnya, bukan hanya Candi Borobudur yang menyontohkan adanya kepedulian seperti itu. Banyak peninggalan masa lampau menjadi bukti betapa kerukunan beragama sudah terjalin sejak lama.

Hingga saat ini adanya toleransi beragama yang paling tua ditemukan pada situs Batujaya, Karawang (Jawa Barat). Pertanggalannya ditaksir dari masa abad ke-5 Masehi. Sebagaimana laporan Tim Arkeologi UI, di situs ini pernah ditemukan candi Buddha dan candi Hindu yang berdekatan letaknya.

Situs Batujaya juga tergolong istimewa karena pernah memiliki tradisi berciri megalitik sebagai agama asli waktu itu. Tradisi tersebut berkembang sebelum zaman Hindu Buddha. Tiga agama hidup berdampingan secara damai, tanpa ada rasa saling bermusuhan tentu menunjukkan betapa toleransi beragama benar-benar dijunjung tinggi masyarakat kala itu.

Candi Jawi (Sumber foto: internet)

Toleransi beragama juga terdapat pada Candi Jawi di Jawa Timur. Atap candi yang berbentuk stupa atau genta, menandakan bangunan suci agama Buddha. Sementara di halaman candi pernah ditemukan sejumlah arca seperti Durga, Siwa, Ganesa, Mahakala, dan Nandiswara yang mewakili agama Hindu.

Kitab kuno Nagarakretagama pernah menyebutkan suatu bangunan Jajawa (identik dengan Candi Jawi) sebagai tempat pendharmaan Raja Singasari Kertanegara (1268-1292) dalam perwujudannya sebagai Siwa-Buddha. Siwa adalah salah satu dewa Trimurti dalam agama Hindu. Ditinjau dari kacamata arkeologi, candi Jawi termasuk unik dan langka karena mewakili dua agama sekaligus.

Menara Masjid Kudus (Sumber foto: internet)

Bukan hanya toleransi Hindu-Buddha yang tercipta waktu itu. Toleransi Islam-Hindu juga kerap terlihat, antara lain pada menara Masjid Kudus. Bangunan itu terbuat dari bata tanpa lepa (semacam perekat). Teknik konstruksi demikian sangat populer pada masa pra-Islam.

Beberapa pakar menyebutkan Menara Kudus mirip candi di Jawa Timur, terlebih karena bangunan itu menghadap ke Barat. Kaki bangunannya yang bertingkat-tingkat dipandang merupakan pengaruh dari masa Majapahit. Ada juga pakar yang menafsirkan Menara Kudus mirip bangunan kulkul di Bali. Banyak ornamen masjid yang diperkaya dengan seni hias Arab, Cina, Vietnam, dan Eropa, semakin menunjukkan kemajemukan kala itu sangat luar biasa.

Di hadapan para pengikutnya, Sunan Kudus pernah memerintahkan agar sapi tidak disembelih dan dikonsumsi, lantaran banyak “saudara-saudara” beragama Hindu yang menganggap seekor sapi sebagai hewan suci. Supaya tidak menyakiti hati mereka, katanya, biarlah mereka yang Muslim tidak mencicipi daging sapi. Toh jika urusannya cuma menu makanan, masih banyak daging hewan lain yang bisa disate atau disop.

Di Jawa Timur, adanya toleransi beragama diperlihatkan oleh makam kuno Tralaya di Trowulan. Sejumlah batu nisan pada kompleks makam Islam itu bertuliskan huruf Jawa Kuno dan Arab pada tiap sisi, berupa tahun Saka dan gambar sinar matahari yang biasa dijumpai pada hasil seni Majapahit. Huruf Jawa Kuno dan tahun Saka merupakan pengaruh India yang sering diidentikkan dengan agama Hindu dan Buddha.

Toleransi beragama yang kuat diperlihatkan pula oleh Kelenteng Sampokong di Semarang. Pada saat-saat tertentu banyak masyarakat Islam, Buddha, Konghucu, dan etnis Tionghoa datang ke tempat itu untuk berbagai keperluan. Begitu pula kelenteng Tuban, yang dipenuhi oleh peziarah Tionghoa dan Islam ketika bulan ramadhan tiba. Satu untuk semua, begitulah kira-kira maknanya.

Pada zaman modern ini sebenarnya toleransi beragama masih diperlihatkan oleh masyarakat Indonesia. Pembangunan gereja di Ambon, misalnya, sering kali dibantu pengerjaan dan pembiayaannya oleh umat-umat agama lain. Begitu pula pembangunan masjid.

Kemajemukan yang rukun juga masih dapat ditemui di Bali hingga saat ini. Pembangunan masjid di tengah perkampungan umat Hindu, bukanlah hal aneh. Letaknya pun bersebelahan dengan sebuah pura dan gereja. Komunitas agama-agama itu selalu saling membantu karena beranggapan mereka adalah bersaudara. Karena itu tak ada sedikit pun kekhawatiran bagi umat Islam dan Kristiani yang tergolong minoritas untuk beribadah di Bali.

Malah setiap berlangsung perayaan Natal, sejumlah gereja dihias dengan ornamen khas Bali, seperti pura dan gapura. Ornamen demikian mengingatkan kita kepada kebudayaan Hindu.

Masjid Istiqlal (Sumber foto: internet)

Barangkali tidak banyak orang tahu kalau arsitektur Masjid Istiqlal Jakarta, salah satu masjid terbesar di Indonesia ini, dirancang oleh arsitek F. Silaban yang beragama Kristen. Setidaknya ini juga memperlihatkan bukti toleransi beragama.

Sayang, sekarang toleransi beragama sudah luntur. Meskipun pada prinsipnya semua agama mengajarkan kebaikan, tetapi ada saja oknum-oknum yang berbuat menyimpang. Akibatnya, sering terjadi penistaan terhadap golongan minoritas. Untuk itulah kita harus benar-benar belajar dari kearifan masa lampau.***


Responses

  1. tenks atas informasi nya

  2. ijin untuk saya posting di Indonesian History Reborn

    • Silakan mas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: