Oleh: hurahura | 20 November 2011

Penggalian Arkeologi dan Lukisan Rach

Warta Kota, Sabtu, 19 November 2011 – Seperti halnya Pulau Onrust, Pulau Cipir yang terletak tidak jauh dari Pulau Onrust, juga merupakan pulau bersejarah. Pada zaman Belanda, pulau ini dinamakan Kuifer. Bekas-bekas bangunan yang pernah berdiri di pulau ini, sampai sekarang masih terlihat di beberapa bagian pulau.

Diketahui pembangunan pertama di pulau ini dilakukan pada 1668 berupa sebuah dermaga. Pada 1675 dibangun satu kincir angin untuk penggergajian kayu. Selanjutnya untuk membantu peran Pulau Onrust, di Pulau Cipir dibangun gudang. Gudang-gudang ini berfungsi untuk menyimpan beras atau barang-barang lain yang akan dikirim ke Eropa.

Adanya dok-dok alam di Pulau Cipir, pernah dilukis oleh Johannes Rach. Diperkirakan terletak di sebelah selatan karena pantai-pantai lain di sekelilingnya dangkal. Dari lukisan Rach juga tergambar bahwa di Pulau Cipir pernah terdapat banyak budak yang melakukan pekerjaan pada masing-masing kapal dengan cara dirantai.

Sejarah Pulau Cipir hampir sama dengan pulau-pulau di sekitarnya, yakni Onrust, Sakit, dan Edam. Keempat pulau pernah tiga kali diserang tentara Inggris, yaitu pada tahun 1800, 1806, dan 1810. Sisa-sisa bangunan yang masih terdapat di Pulau Cipir diperkirakan dibangun setelah terjadinya serangan yang terakhir. Sisa-sisa bangunan sebelumnya masih terdapat dalam bentuk-bentuk fondasi di bawah tanah.

Pertama kali Pulau Cipir digali secara arkeologis pada 1979 oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Hasil ekskavasi berupa pecahan keramik, batu bata, fondasi bangunan, pipa cangklong, tulang hewan, logam, peluru, dan kaca (Laporan Penggalian Arkeologi Pulau Cipir, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, 1983). Meskipun tidak ada bagian yang utuh, namun sebagai data arkeologi, temuan-temuan demikian sudah banyak memberi informasi kesejarahan.

Boleh dibilang kondisi masa kini bangunan-bangunan tua peninggalan zaman Belanda sangat memprihatinkan. Di sisi pantai sebelah timur, keadaan bangunan sudah runtuh karena kikisan air laut masa musim angin timur. Sementara pada pantai sebelah barat, karena letak bangunan agak jauh, bangunannya tidak rusak. Bagian-bagian bangunan yang roboh ke laut terlihat sangat banyak. Karena itu perlu diselamatkan segera mungkin agar tidak semakin tergerus dengan sia-sia. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori