Oleh: hurahura | 27 November 2010

Arkeologi, Untuk Pendidikan atau Pariwisata?

Oleh: Djulianto Susantio

Pada 1994 Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi menyelenggarakan kegiatan Forum Komunikasi Hasil Penelitian Bidang Sastra dan Seni. Dalam kesempatan itu diutarakan suatu orientasi yang berfungsi mengarahkan kegiatan-kegiatan penelitian arkeologi di Indonesia hingga 25 tahun mendatang.

Ada lima tema utama yang terkandung dalam kebijakan penelitian arkeologi nasional itu, yakni: (1) proses dan aliran imigrasi nenek moyang, (2) proses persentuhan budaya Nusantara dengan tradisi-tradisi besar, (3) adaptasi dan tumbuhnya budaya-budaya lokal, (4) diversifikasi kultural, dan (5) integrasi budaya.

Kebijakan penelitian yang diwujudkan dalam lima tema itu dilengkapi dengan delapan butir arah kebijakan sesuai dengan paradigma arkeologi, yaitu: (1) pendekatan interdisipliner, holistik, dan wawasan, (2) pemanfaatan teori-teori kesinambungan dan perubahan, (3) survei, ekskavasi, dan wawancara, (4) analisis secara interdisipliner, (5) penanganan dokumentasi, (6) manajemen dokumentasi, (7) sistem informasi manajemen, dan (8) sistem informasi arkeologi (Moendardjito, 1996).

Banyak pandangan menarik dari kebijakan tersebut. Pertama, apakah para mahasiswa arkeologi (S-1 hingga S-3) harus melakukan penelitian sesuai kerangka acuan kebijakan nasional itu? Kedua, bagaimana dengan penelitian arkeologi yang sudah dirancang oleh institusi lain, seperti perguruan tinggi, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, museum, lembaga nonpemerintah, dan lembaga nonarkeologi?

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah kebijakan nasional itu sudah memerhatikan dan merangkum berbagai kepentingan, keinginan, dan kebutuhan lembaga-lembaga arkeologi lain? Ini mengingat setiap institusi memiliki kebijakan masing-masing, seperti pelestarian (Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala), penelitian (Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional), pendidikan (perguruan tinggi), dan pemanfaatan (museum dan pariwisata).


Jawa-Bali

Kini penelitian arkeologi telah menjangkau seluruh provinsi. Pemerintah sendiri kerap melakukan upaya untuk sedapat mungkin menyebarkan penelitian di seluruh wilayah provinsi. Meskipun belum merata, upaya mengungkap ribuan situs kuno dari berbagai masa itu, sudah merupakan hasil maksimal di tengah keterbatasan dana.

Namun tidak dimungkiri kalau penelitian arkeologi selalu dihubungkan dengan Jawa dan Bali. Sekitar 60 persen penelitian arkeologi memang berlangsung di Jawa dan Bali. Alasannya adalah selain lebih murah, situs-situs arkeologi yang terdapat di Jawa dan Bali amat beragam. Mulai dari masa prasejarah dan pengaruh agama Hindu-Buddha hingga masa kolonial dan Islam ada di sini.

Mengingat masih minimnya penelitian di luar Jawa-Bali, diharapkan intensitas penelitian ditingkatkan sedikit demi sedikit. Selain itu, penelitian yang lebih berkualitas harus dilakukan pada daerah-daerah yang situs-situsnya sering diteliti. Fakta selama ini menunjukkan kecenderungan bahwa penelitian yang dilakukan baru mencakup permukaan saja, belum mengarah kepada substansinya.

Ambil contoh penelitian candi di Jawa. Ratusan situs candi yang tersebar itu memang sudah dapat diketahui lokasinya. Bahkan bangunannya sudah dipugar atau dilestarikan. Akan tetapi persoalannya adalah hingga kini masih banyak pertanggalan candi belum dapat ditentukan secara jelas karena berbagai penyebab, misalnya data pendukung belum lengkap.

Maka dari itu sampai sejauh ini kita hanya bertumpu pada pertanggalan relatif, yakni atas dasar bentuk dan gaya bangunan. Karena sumber informasinya masih langka maka kita belum mampu mengungkapkannya dengan analisis pertanggalan mutlak. Padahal, dengan diketahuinya pertanggalan mutlak suatu candi, kemungkinan akan diketahui pula siapa raja atau penguasa yang memerintahkan pembangunan candi itu. Kelengkapan informasi akan membuat penulisan sejarah kuno Indonesia menjadi lebih tematis, kronologis, dan terarah.

Kita sudah lama mengagung-agungkan Candi Borobudur. Meskipun sudah diakui sebagai monumen dunia, ternyata sampai sekarang tahun berdirinya masih belum bisa dipastikan dengan tegas. Benarkah Candi Borobudur didirikan tahun 800-an oleh Raja Samarotungga, sebagaimana tertulis dalam buku-buku sejarah, masih menjadi perdebatan di kalangan arkeolog hingga kini.

Di pihak lain, banyak epigraf berhasil membaca bagian yang memuat angka tahun suatu prasasti secara cermat. Akan tetapi, lokasi di mana prasasti itu ditemukan masih belum jelas karena penemu-penemu zaman dulu tidak merincinya dalam catatan. Hal seperti ini juga menyulitkan para arkeolog untuk menyusun informasi sejarah dalam dimensi ruang.

Yang paling menyedihkan adalah bila suatu temuan purbakala sulit ditentukan tarikhnya. Juga lokasi di mana benda tersebut pernah ditemukan, tidak terdokumentasi dengan baik. Jadi, bukan hanya dimensi ruang yang tidak diketahui, tetapi juga dimensi waktu dan dimensi bentuk masih sangat kabur.


Pendidikan atau Pariwisata?

Sejak zaman kolonial, bumi Indonesia sudah dianggap “surga” bagi penelitian arkeologi. Tidak heran banyak lembaga penelitian asing kemudian mendirikan cabang di Indonesia, seperti KITLV (Belanda) dan EFEO (Prancis). Bahkan beberapa lembaga penelitian asing juga bermitra dengan lembaga-lembaga penelitian Indonesia. Dampaknya tentu saja sangat menguntungkan para peneliti Indonesia karena bisa memperoleh kesempatan memperluas cakrawala pengetahuan mereka, di kala anggaran yang disediakan pemerintah kita kurang memadai.

Pertanyaannya kemudian adalah untuk apakah arkeologi melakukan penelitian? Di satu sisi orang melihatnya sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas ilmu arkeologi. Selama ini berbagai penelitian arkeologi memang selalu dikaitkan dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Tidak dimungkiri, dalam perjalanannya telah tercipta berbagai metode penelitian arkeologi berikut perangkatnya. Selama itu pula berkembang teori-teori baru, bahkan sub-subdisiplin arkeologi, seperti arkeologi perkotaan, arkeologi permukiman, arkeologi publik, dan arkeologi sejarah.

Namun tidak dapat diingkari kalau berbagai kegiatan arkeologi selalu dihubungkan dengan kepentingan pariwisata. Ini mengingat tujuan akhir dari arkeologi memang adalah menyajikan segala temuan untuk kepentingan masyarakat umum. Temuan-temuan itu kemudian dipamerkan di dalam museum, yang selalu dicanangkan sebagai objek pariwisata sekaligus pendidikan yang bersifat rekreatif edukatif.

Di sinilah kepentingan itu tampak berbenturan, apakah arkeologi ditekankan kepada unsur pendidikan dan kebudayaan ataukah pariwisata. Selama bertahun-tahun arkeologi menjadi bagian dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kemudian Kementerian Pendidikan Nasional. Kini justru arkeologi menjadi bagian dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Tidak dimungkiri kalau orang berpandangan bahwa pariwisata hanya bersifat hiburan dan glamor. Tujuan utama pariwisata adalah menjual segala produk kebudayaan yang sudah ‘matang’, dengan kata lain ‘mencari uang’ berdasarkan pekerjaan yang dilakukan oleh arkeologi. Upaya itu antara lain dilakukan dengan cara mengomersialkan banyak candi, umpamanya Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Sebaliknya kebudayaan adalah kegiatan yang dianggap ‘menghambur-hamburkan uang’. Berbagai kegiatan penelitian, seperti pemugaran, ekskavasi, survei, dan pendokumentasian memerlukan perlengkapan yang memadai agar hasilnya memuaskan. Dana terbesar yang dikeluarkan oleh arkeologi adalah untuk memugar bangunan-bangunan kuno yang sudah rusak bahkan hampir runtuh.

Di berbagai daerah yang memiliki Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, termasuk dengan nama lain, anggaran bidang pariwisata memang selalu terbesar. Jangan heran kalau renovasi museum selalu tersendat-sendat karena kekurangan dana. Jadi yang perlu dijawab tuntas sekarang, arkeologi untuk pariwisata atau pendidikan?***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: