Oleh: hurahura | 21 November 2010

Tembang Merapi Masa Lalu

KOMPAS Jogja, Jumat, 19 Nov 2010 – Letusan Gunung Merapi hampir serupa kejadiannya dengan letusan yang terjadi tahun 1822. Babad Ngayogyakarta mengisahkannya dalam keindahan tembang sinom. Diceritakan, letusan Merapi selama tiga bulan diikuti letusan di Gunung Bromo, Kelud, Slamet, dan Guntur.

“Salelebete tigang warsa, wusnya murup Ardi Mrapi. Tumunten ing Ardi Brama, Redi Kelut genti muni, tri Gunung Slamet muni, kang sekawan Redi Guntur. Pating jeglug swaranya. Punika kang mertandhani, badhe hoyag wong sanagri Pulo Jawa…”

Naskah kuno Babad Ngayogyakarta mencatat, letusan Gunung Merapi itu pada 30 Juni 1822. Letusan Gunung Merapi terjadi sebelum pecahnya Perang Diponegoro (1825-1830). Babad Ngayogyakarta menyebut, letusan itu tanda akan terjadi kerusakan negara yang diikuti perang besar di Yogyakarta.

Letusan kala itu dirasakan penduduk Pulau Jawa karena kerasnya suara letusan dan panasnya lelehan lava. Kisah letusan Gunung Merapi tercatat dalam tiga bait naskah Babad Ngayogyakarta koleksi Museum Sonobudoyo, yang saat ini diteliti peneliti di Perpustakaan Pura Pakualaman.

Peneliti di Perpustakaan Pura Pakualaman, Rahmat, mengatakan, Babad Ngayogyakarta mengemas sejarah dalam bentuk sastra dari masa kepemimpinan Sultan Hamengku Buwono II hingga HB V. Cerita sisipan tentang letusan Gunung Merapi yang digambarkan sangat mengerikan itu terjadi pada masa pemerintahan HB IV.

Rahmat mengaku menemukan bait-bait kisah letusan Gunung Merapi ini justru ketika Gunung Merapi mulai kembali meletus sejak akhir Oktober lalu. “Dari Babad Ngayogyakarta, kita bisa belajar sejarah letusan Gunung Merapi di masa lalu,” kata Rahmat, Kamis (18/11).

Sebelumnya, Raja Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X juga sempat menyinggung erupsi Gunung Merapi di tahun 1822. Menurut Sultan, tipe letusan eksplosif Gunung Merapi saat ini serupa dengan peristiwa sebelum Perang Diponegoro itu. “Letusannya sama sekali beda dengan yang diingat masyarakat sehingga tidak dipahami,” kata Sultan.

Tak hanya Babad Ngayogyakarta, menurut Pengelola Perpustakaan Pura Pakualaman Sri Ratna Saktimulya, letusan Gunung Merapi juga dikisahkan dalam Babad Panembahan Senopati koleksi Perpustakaan Pura Pakualaman. Letusan yang dikisahkan dalam Babad Panembahan Senopati itu terjadi sesaat menjelang peperangan melawan Kerajaan Pajang.


Catatan ilmiah

Journal of Volcanology and Geothermal Research tentangSejarah Erupsi Gunung Merapi, Jawa Tengah, Indonesia 1768-1998 yang ditulis B Voight, EK Constantine, S Siswowidjoyo, dan R Torley juga menyebut letusan dahsyat tahun 1822 hingga 1833. Jurnal tersebut mencatat letusan itu tidak terduga dan diikuti gempa bumi dalam durasi yang lama.

Beberapa letusan bahkan disebutkan sangat menakutkan. Ketika Gunung Merapi bergemuruh, batu-batu terlempar ke udara.

Pada 29 Desember 1822 dicatat, api dari Gunung Merapi terlihat menutupi separuh bagian dari Gunung Merapi. Journal of Volcanology and Geothermal Research menyebutkan, erupsi berakhir pada 10 Januari 1823 setelah menghancurkan delapan desa.

Tak ada sesuatu pun yang baru di bawah matahari. Ketika manusia berani menengok ke belakang dan belajar dari sejarah, keterkejutan akibat letusan Gunung Merapi sebenarnya tidak perlu terjadi. Dari masa lalu, lewat tembang sejarah hingga jurnal penelitian modern, pemahaman terhadap Gunung Merapi bisa dibangun.

Mudah-mudahan tak ada lagi korban pada masa mendatang.
(MAWAR KUSUMA)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: