Oleh: hurahura | 23 Januari 2014

Ekskavasi Candi Kedaton Dinilai Ceroboh

Kompas, Kamis, 23 Januari 2014 – Ekskavasi Candi Kedaton dalam kawasan cagar budaya Muaro Jambi, Jambi, dilaksanakan secara ceroboh. Hal itu mengakibatkan banyak bagian situs yang rusak dan sebagian data sejarah hilang.

Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Junus Satrio Atmodjo mengkritik pengupasan kompleks Candi Kedaton yang cenderung mengabaikan metode arkeologi yang benar. Hal itu diduga akibat target dalam proyek ekskavasi tak didukung waktu dan anggaran yang memadai.

Selama proses pengupasan, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi lebih banyak melibatkan tenaga lokal yang tak cukup ahli mengerjakan proses pengupasan candi. Para pekerja kurang berhati-hati dalam menggali dan memanfaatkan peralatan sederhana, seperti cangkul dan dodosan, untuk menemukan struktur detail kompleks candi yang tersimpan di permukaan dan bawah tanah.

Akibatnya, proyek yang berjalan sejak 2012 tersebut banyak meninggalkan kerusakan pada situs. ”Yang saya lihat, penggaliannya memang luar biasa, seperti terlalu terburu-buru. Padahal, ini bukan proyek untuk menghabiskan dana. Ini upaya merekonstruksi sejarah,” ujar Junus, Rabu (22/1).

Junus mencontohkan, penggalian dinding kiri dan kanan candi dilakukan dalam waktu bersamaan, dapat menyulitkan arkeolog merekonstruksi tiap bagian. Junus juga mendapati pekerja menebangi pohon-pohon tua yang menempel dengan situs dalam kompleks Kedaton. Itu tentu merusak struktur candi yang melekat di sekitar pohon.

Selain itu, sejumlah tukang dengan ceroboh menggali serpihan bata kuno dan memanfaatkannya untuk menimbun tanah kubangan dekat gapura Kedaton. Padahal, pemindahan struktur candi dari tempat aslinya berarti mengacaukan rekonstruksi. ”Generasi muda di masa mendatang akan mengalami kebingungan sejarah,” tuturnya.


Diminta cepat selesai

Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan BPCB Jambi Rusmeijeni Setyorini mengatakan, terdapat sejumlah kekurangan dalam proses ekskavasi Candi Kedaton. Secara ideal, ekskavasi Kedaton membutuhkan waktu 5 atau 6 tahun. Ekskavasi saat ini sudah hampir selesai dalam rentang dua tahun. ”Banyak tekanan dari pihak lain dan masyarakat agar pemugaran situs cepat selesai,” ujarnya.

Rini melanjutkan, pihaknya berupaya mengamankan bata dan relief kuno yang ditemukan di Kedaton selama proses ekskavasi.

Adapun temuan selama ekskavasi Candi Kedaton mengungkap betapa besarnya kompleks peribadatan agama Buddha tersebut. Kalangan arkeolog menilai Kedaton sangat istimewa. Kompleks Kedaton sangat luas, berukuran 120 meter x 120 meter. Kedaton memiliki tiga halaman, dan masing-masing dibatasi gapura. Pada gapura depan, tim arkeolog tahun lalu menemukan sebuah makara. (ITA)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: