Oleh: hurahura | 12 Agustus 2012

Kegigihan Guru Sejarah Gaul

TRIJONO (KOMPAS/DODY WISNU PRIBADI)

KOMPAS, Selasa, 7 Agustus 2012 – Trijono, alumnus Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar, ini gagal menyelesaikan studi S-2 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sebuah insiden membuat beasiswanya terhenti. Ia kembali ke Denpasar, lalu menjadi guru Sejarah madrasah aliyah negeri di Tulungagung, Jawa Timur, tahun 2004.

Kecintaannya pada ilmu sejarah tak pernah surut. Trijono bahkan mengombinasikannya dengan penelitian, pendidikan, dan idealisme yang penuh semangat. Semua itu mampu mengobati ”luka akademiknya”.

Kepala Kantor Wilayah Pendidikan Jawa Timur Rasiyo (kini Sekretaris Daerah Jawa Timur), saat mewakili Gubernur Jatim Imam Oetomo, mengaku kagum pada karya dan kerja keras Trijono dalam upayanya mengajarkan sejarah secara ”lebih hidup”.

Apa yang dilakukan Trijono melampaui tugasnya sebagai guru Sejarah siswa sekolah menengah. Ia membuat acara wisata sejarah se-Tulungagung yang diikuti siswa SMP dan SMA yang berminat pada pelajaran Sejarah, termasuk guru Sejarah sejumlah sekolah.

Ia memberdayakan apa yang tak disadari orang dari kota sekecil Tulungagung sebagai salah satu daerah dengan jejak penting dalam sejarah. Ada sembilan situs yang bisa dikaitkan dengan sejarah Kerajaan Majapahit. Candi, arca, dan prasasti, sumber-sumber primer periode keemasan sejarah Nusantara, ada di Tulungagung.

Seperti umumnya studi sejarah, fakta ini diiringi perdebatan. Namun, sebagai warga baru Tulungagung, Trijono cepat memahami dan mengimplementasikan kekayaan situs sejarah itu sebagai keunggulan Tulungagung.

Ia tak merasa istimewa dengan sejumlah aktivitas yang berbeda dengan guru Sejarah umumnya. ”Sebagai alumnus jurusan sejarah, naluri akademik saya, ya, mengajak siswa melakukan riset langsung ke situs sejarah. Mereka juga senang diajak ’bermain’ di lokasi situs, bahkan ada yang saya ajak melakukan ekskavasi.”

Sejumlah karya tulisnya mendokumentasikan wilayah riset Trijono yang merentang dari prasejarah hingga era Indies (1940-an). Bukunya yang telah terbit antara lain Djember 1859-1929, Melacak Sebuah Kota Berbasis Perkebunan di Jawa Timur. Pada 1996, ia melakukan dua riset sejarah perkebunan di Tulungagung.

Ia juga melakukan kodifikasi (pengumpulan data) bangunan budaya Indies era kolonial Belanda saat imperialis Jepang datang, yang masih banyak terdapat di Tulungagung. Ia juga meriset makam tokoh-tokoh Islam dan mengumpulkan banyak cerita rakyat (folklor).

Trijono pun membuat buku panduan sejarah terapan bagi sejawat guru Sejarah. Ia memperkenalkan bagaimana sejarah bisa menjadi ”hidup”. Intinya adalah pembelajaran secara multimedia sehingga siswa bisa menghayati, bahkan berimajinasi. ”Tujuannya tetap pendidikan, agar pesan-pesan seperti cinta Tanah Air dan nasionalisme dipahami siswa,” katanya.


Dituduh mencuri

Sepak terjangnya sempat membuat dia berurusan dengan polisi. Model pendidikan sejarah terapan itu membuat muridnya pun antusias hingga membawa benda purbakala dari desa. Peristiwa ini membawa Trijono dan komunitas pembelajaran sejarah Tulungagung, Kajian Sejarah Sosial dan Budaya?, ke desa murid itu.

Ia juga mengajak komunitas sejarawan prasejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan ekskavasi. Kehebohan tim ini di Kecamatan Campurdarat, Tulungagung, membuat Trijono dituduh melakukan pencurian.

Pada saat bersamaan, ia justru mendapat temuan besar, lanskap luas medan penelitian fosil biota laut purba di Campurdarat. Di sini, Trijono dan tim menemukan situs prasejarah dan mendokumentasikannya. Di perbukitan ini, fosil aneka binatang laut dan kerang-kerangan purba hanya tertimbun beberapa sentimeter di bawah tanah.

Kesal karena dilaporkan aparat birokrasi Pemerintah Kabupaten Tulungagung kepada polisi gara-gara ekskavasi itu, ia lalu bertemu DPRD Tulungagung. Di sini, ia antara lain memberi masukan betapa pentingnya Tulungagung memiliki Peraturan Daerah (Perda) Perlindungan Benda Cagar Budaya ( BCB).

DPRD dan Pemkab Tulungagung pun sepakat. Jadilah Trijono memimpin tim penulisan naskah akademik Perda Perlindungan BCB. Naskah Perda Perlindungan BCB rampung dan sudah disahkan.


Manusia purba

Kecintaan pada sejarah pula yang membuat Trijono menemukan lokasi tempat arkeolog prasejarah zaman kolonial, Eugene Dubois, menemukan tengkorak manusia purba Homo wajakensis, di wilayah Tulungagung.

Tentang Dubois, Homo wajakensis, dan adanya Kecamatan Wajak di Tulungagung sudah diketahui umum. Namun, di mana persisnya Dubois menggali dan menemukan tengkorak manusia itu masih tanda tanya. Dubois menemukan Homo wajakensis tahun 1889.

Ketekunan Trijono pun membuahkan hasil. Perjalanan akademiknya sebagai guru Sejarah yang gelisah membuat ia menemukan tugu dari batu marmer yang dicari-carinya di wilayah Kecamatan Wajak.

Sumber sejarah tentang karya Dubois yang terbit kembali tahun 1995 antara lain buku karya Paul Strom. Buku itu merinci rekaman jejak Dubois, berikut peta dan goanya. Ia mendapati goa tempat Dubois menemukan tengkorak di depan pabrik marmer zaman Belanda di Kecamatan Wajak.

”Saya mengajak tim prasejarah UGM melakukan penelusuran di goa lokasi penemuan Dubois dan mendapati deskripsi lokasi sama persis dengan dokumen Dubois. Misteri lokasi temuan Homo wajakensis telah ditemukan lagi,” ujarnya.

Trijono senang aktivitasnya telah dilindungi Perda Perlindungan BCB. Saat ditanya apakah lebih merasa sebagai pendidik, sejarawan, atau arkeolog, ia menjawab, ”Sebut saja saya arkeolog gaul, seperti kata murid-murid saya, ha-ha-ha.”

• Lahir: Jember, Jawa Timur, 7 Januari 1971
• Pendidikan:
– Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana, lulus 1997
– Akta Mengajar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jember, 1998
• Istri: Nani Soengkono
• Anak: Istiqlal Widyatama Ihsan Fasya
• Pekerjaan: Guru Sejarah Madrasah Aliyah Negeri 1 Tulungagung
• Kegiatan:
– Ketua Kajian Sejarah Sosial dan Budaya Tulungagung
– Pegiat Rumah Belajar Sobontoro, 2009-kini
• Penghargaan:
– Guru Berprestasi Se-Jawa Timur pada Gelar Adhikara Budaya, 2008
– Juara IV Lomba Kreativitas Guru Ilmiah Tingkat Nasional LIPI, 2008
– Juara Harapan II Lomba Karya Tulis Ilmiah Guru Sejarah Jawa Timur, 2008
• Buku:
– Djember 1859-1929, Melacak Sebuah Kota Berbasis Perkebunan di Jawa Timur, 2011
• Penelitian, antara lain:
– Kota Jember, dari Kota Kolonial hingga Republik (1929-1992), 1996
– Sejarah Perkebunan di Jember (1859-1928), 1996
– Akulturasi Masjid Beratap Tumpang dan Budaya Meru di Tulungagung, 2006
– Pengembangan dan Pemberdayaan Candi-candi sebagai Media Pembelajaran Sejarah Tulungagung, 2008
– Sejarah Makam-makam Tokoh Islam sebagai Obyek Wisata Religi di Tulungagung, 2008
– Folklor, Cerita Desa-desa di Kabupaten Tulungagung, 2010
– Sejarah Terapan: Dari Riset hingga Mengajarkan Ilmu Sejarah (Panduan Tingkat SD, SMP, SMA), 2010


(DODY WISNU PRIBADI)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: