Oleh: hurahura | 29 September 2012

Menarik Minat Sahibul Hikayat

Warta Kota, Sabtu, 29 September 2012 – Kata sahibul hikayat berasal dari bahasa Arab, sahib (pemilik) dan hikayat (cerita). Istilah sahibul hikayat menjadi sebuah bentuk kesenian karena dalam membawakan cerita, juru hikayat atau pencerita sering mengucapkan kata-kata, “Menurut sahibul hikayat…”. Cerita disampaikan dalam bentuk prosa dengan beberapa bait pantun. Penyampai sahibul hikayat disebut juru hikayat.

Dulu para juru hikayat menampilkan pertunjukan dalam suatu perayaan keagamaan, seperti maulid nabi, nuzulul quran, ramadan, atau pesta yang terkait dengan daur hidup. Para juru hikayat mendapatkan imbalan atas jasanya itu. Salah satu juru hikayat yang terkenal adalah Ahmad Sofyan Zahid. Ayahnya, Mohammad Zahid, yang keturunan Pakistan juga merupakan seorang seniman sahibul hikayat yang dikenal luas oleh masyarakat Betawi. Dalam pementasannya, Mohammad Zahid membawakan jenis cerita, antara lain Seribu Satu Malam, Hasan Husain, Malakarma, Ahmad Muhammad, Sahrul Indra, dan Laila Bangsawan. Sahibul hikayat menjadi populer sejak Zahid mengisi acara secara periodik pada beberapa stasiun radio swasta pada tahun 1970-an.

Keahliannya sebagai juru hikayat tidak didapat secara singkat. Seorang pembawa sahibul hikayat harus menguasai isi cerita dan paham betul isi Alquran dan Hadis. Juga mampu berkomunikasi dengan penontonnya. Selain di radio, Sofyan juga pernah muncul di stasiun televisi, bahkan perusahaan rekaman. Penelitian tentang sahibul hikayat pernah dilakukan oleh tim dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI.

Dalam membawakan hikayat, si tukang cerita mengambil posisi duduk bersila. Sesekali dia memukul gendang kecil yang diletakkan di sampingnya untuk memberikan penekanan pada jalan cerita. Dalam cerita sering diselipkan unsur humor. Tema pokok dalam sahibul hikayat adalah peperangan antara kejahatan melawan kebajikan. Dapat diduga, kebajikan selalu menang.

Sejak beberapa tahun lalu sahibul hikayat dikembangkan oleh Yahya Andi Saputra dari Lembaga Kebudayaan Betawi. Yahya merasakan gaung budaya sastra lisan Betawi ini lambat laun kurang mendapatkan apresiasi. Akibatnya kini kesempatan tampil para juru hikayat perlahan semakin berkurang karena jarang ada yang mau nanggap. Sebagai usaha menarik minat, terutama anak muda, beberapa hal sudah dilakoni Yahya, misalnya meringkas cerita dan menampilkan visual dalam bentuk teatrikal. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Responses

  1. yang penting tidak sirna dimakan arus jaman modern gan!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori