Oleh: hurahura | 14 Oktober 2010

Asing Dominasi Penelitian Situs Bersejarah

Erabaru.net, Selasa, 12 Oktober 2010 – Para peneliti asing mendominasi penelitian yang dilakukan terhadap berbagai situs-situs bersejarah yang ada di Indonesia.

Staf peneliti Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan, Erond Damanik MSi, di Medan, Senin (11/10), mengatakan, minimnya penelitian tentang situs sejarah yang dilakukan peneliti dari Indonesia diketahui dari Konferensi Sejarah Internasional ke-13 di Frie Universitas Berlin, Jerman.

Konferensi bertajuk “Cross Borders in Southeast Asian Archaeology” yang diselenggarakan oleh European Assosiation of Southeast Asian Archaeologist (EurASEAA) dari 27 September-1 Oktober 2010 itu dikuti 200 sejarawan dari berbagai negara.

Dari konferensi itu pula diketahui bahwa peneliti-peneliti asing dari mancanegara yang melakukan penelitian tentang situs bersejarah di Indonesia telah menghasilkan ratusan tulisan. Tulisan-tulisan tersebut baik dalam bentuk buku, disertasi, tesis, maupun makalah dalam bentuk jurnal.

“Ini tentu saja menimbulkan kesenjangan pengetahuan, karena peneliti Indonesia cenderung menjadi penonton atau mendapatkan hasil penelitian setelah penelitian tersebut dipublikasikan oleh peneliti luar negeri,” katanya.

Dalam konferensi tersebut, lanjutnya, dari 200 judul penelitian yang dipaparkan masing-masing peneliti yang juga peserta konferensi, hampir 80 persen hasil penelitian yang disajikan merupakan penelitian tentang situs bersejarah Indonesia.

Misalnya peneliti dan Arkeolog McKinnon yang menyajikan makalah tentang Kota Rentang Hamparan Perak yang menyoroti periode Islam berdasarkan nisan-nisan Islam yang ditemukan di Kota Rentang.

Sedangkan arkeolog Perancis, Daniel Perret menyajikan hasil penelitiannya tentang Candi Sipamutung, Padang Lawas Sumatera Utara.

Hanya sebagian kecil paparan yang disampaikan para peneliti peserta konferensi yang merupakan penelitian tentang situs bersejarah dari negara lain, seperti Malaysia, Vietnam, Burma dan Asia Tenggara lainnya.

“Banyak hal yang menyebabkan minimnya penelitian yang dilakukan oleh peneliti bangsa kita. Bisa saja karena wadah atau forum ilmiah di Indonesia belum berkembang dengan baik atau karena memang budaya penelitian belum berkembang pada orang-orang Indonesia,” katanya.(ant/waa)


Responses

  1. dalam konferensi euraseaa 13 yg sekarang ini ada 8 arkeolog,1 sejarahwan,1 org itb dari indonesia dan ini adalah konferensi plg banyak yg menghadirkan peneliti dari indonesia.penelitian mc kinnon di kota rentang kerjasama dgn prof naniek harkantiningsih sedang penelitian daniel perret di pdg lawas kerjasama dgn heddy surahman keduanya dari puslitbang arkenas.mohon diluruskan bahwa tidak ada peneliti asing yg melakukan penelitian arkeologi tanpa kerjasama dgn peneliti(arkeolog) dari indonesia demikian halnya publikasi hasil penelitìannya(penerbitan).

  2. harusnya penulis memahami topik pembicaraan seminar adalah: Crossing Borders in Southeast Asian Archaeology of the European Association of the Southeast Asian Archaeologists (EurASEAA 13); karena itu yang dibahas tentang hasil kerjasama ahli-ahli eropa di asia tenggara; termasuk benteng putri hijau, juga hasil kerjasama, lanjutan dari kota cina; banyak tulisan-tulisan peneliti yang bersifat internasional, mungkin karena sifatnya specifik ttg arkeologi yang tidak disebarluaskan, maka tidak dapat diketahui secara luas/umum; mungkin kita harus sering berkomunikasi pak erond


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori