Oleh: hurahura | 21 Juni 2010

Dekonstruksi Sejarah Mbah Priok

Kamis, 17 Juni 2010 – TEMPO Interaktif – Skandal Raja Idrus dan Permaisuri Markonah pada 1950 adalah kasus penipuan nasional pertama yang makan korban sampai tingkat presiden. Selanjutnya aksi tipu-tipu bergaya sahibul hikayat yang lebih banyak kebohongannya ketimbang kebenaran faktual menghiasi sejarah sosial-budaya Jakarta.

Pada 1970-an, ramai berita Presiden Soeharto dan Ibu Tien kena cipoa. Penipunya, Cut Zahara Fona, bilang orok dalam perutnya bisa berbicara dan mengaji, tapi terbukti suara bayinya dari recorder kecil yang disisipkan di perut si ibu. Sampai saat itu, aksi tipu belum sampai makan korban nyawa. Lantas datanglah Mbah Priok dari Koja, Jakarta Utara.

Si mbah memang sudah tiada, tetapi ia hadir dalam bentuk cerita legendaris di seputar kekeramatannya, penyiar Islam yang tangguh di Jakarta dan sosok leluhur cikal-bakal dari mana nama Tanjung Priok berasal. Tapi sesah bertiup dari Koja. Mereka yang mengaku ahli waris dan menjadi kuncen makamnya merasa posisi dan jasa penting serta kesucian Mbah Priok terancam. Makam akan digusur. Massa pun tergerak oleh sensasi cerita ketokohan Mbah Priok dan berduyunan memagari makam. Sementara itu, Satpol PP maju merangsek. Bentrokan tak terhindarkan. Korban jatuh.

Simpati berdatangan. Mbah Priok yang asing tiba-tiba menjadi buah bibir. Jubah mitos yang dikenakan kepadanya semakin mendekati accepted history, sejarah yang diterima kebenaran faktualnya. Bahkan gubernur dan presiden akan memahkotainya sebagai bangunan cagar budaya. Tapi semua itu tanpa kesadaran bahwa–seperti banyak bangunan keramat di Indonesia–makam Mbah Priok itu lebih mengandung story (cerita) dan kurang history (sejarah). Lantaran story, sukar ditemui bukti sejarah faktual. Kebanyakan mitos, legenda belaka.

Secara historis dalam network orang yang dianggap berjasa mengislamkan tanah Betawi tak tercantum nama Mbah Priok alias Habib Hasan al-Hadad. Sebut saja studi penting Abdul Azis, Islam dan Masyarakat Betawi (1998). Lalu disertasi keluaran 2002 dari Muhammad Zafar Iqbal, “Islam di Jakarta: Studi Sejarah Islam dan Budaya Betawi”. Selain itu, dalam pohon silsilah tokoh-tokoh yang dianggap berjasa membuat Betawi identik dengan Islam, tidak didapati pula nama Mbah Priok ditelusur ke atas, bawah, kiri, dan kanan garis network pengislam Betawi dari posisi Syekh Djuneid al-Batawy sebagai syaikhul masyaikh pengislam Betawi.

Mungkin pohon silsilah pengislam Betawi itu terbatas, elitis, maka perlulah ditengok sumber yang lebih luas merekam komunitas Hadramaut dan koloni Arab di Nusantara, terutama karya L.W.C. Van den Berg tahun 1886 yang kebetulan terjemahannya, Orang Arab di Nusantara, terbit hampir bersamaan dengan heboh keramat Mbah Priok. Inilah buku yang sampai sekarang dianggap laporan terlengkap berdasarkan riset, observasi, dan wawancara terhadap kelompok Arab-Hadramaut, terutama yang ada di Batavia. Tetapi di dalamnya tak disebut nama Mbah Priok, meskipun dia banyak sekali menceritakan tentang tokoh-tokoh Arab-Hadramaut yang mengambil peranan sebagai penyiar Islam.

Lantas siapakah Mbah Priok sejatinya, pada periode mana dia hidup, dan betulkah ia seorang pengislam Betawi? Dari keterangan ahli waris, sebagaimana ditulis dalam buku panduan peziarah makam, si mbah lahir pada 1727 dan wafat pada 1756. Kalau makam Mbah Priok itu memang betul dari tahun 1700-an, seharusnya makam itu tercantum dalam Platenground van Batavia tahun 1887, yang banyak menyebut heilig graf atau makam suci, seperti keramat Luar Batang, Sawah Lio, Tambora, dan Tanah Abang. Apalagi, pada saat hampir bersamaan dikeluarkan Platenground itu, Tanjung Priok sedang menjadi perhatian penting pemerintah kolonial karena pembangunan haven alias pelabuhan Tanjung Priok. Kalaupun masih terlupa tentu akan tersebut di Platenground yang diperbarui pada 1918, tapi di sini pun nihil.

Adalah menarik di sini menyimak keterangan Alwi Shahab dalam satu wawancara dengan majalah Tempo awal Mei 2010, yang meneliti silsilah Habib Hasan al-Hadad yang dibuat oleh Rabithah Alawiyah, perkumpulan para habib, terutama bagian nasabnya. Ditambah bahan-bahan sejarah lisan susunan Yayasan Makam Keramat Kampung Bandan. Sumber-sumber yang adalah rekaman sejarah di lingkungan jemaah atau peranakan Arab-Hadramaut di Nusantara ini, semua menyatakan bahwa memang ada orang bernama Hasan al-Haddad dimakamkan di Pondok Dayung, Tanjung Priok. Dia cucu buyut dari Habib Hamid, mufti yang wafat pada 19 Juli 1820 dan dimakamkan di Kampung Ulu, Palembang. Fatwa-fatwanya didengarkan Kesultanan Palembang. Tetapi Hasan lahir di Palembang pada 1874, bukan 1727. Tidak terdapat data bahwa Hasan adalah seorang dai. Tersebutkan ia bekerja sebagai awak kapal Syekh Mahdiyid, rute pelayaran Palembang-Bangka Belitung. Pada 1927, ia meninggal dalam sebuah pelayaran ke Jawa untuk menziarahi makam Wali Songo dan Habib Husein bin Abubakar Alaydrus di Luar Batang.

Nah, tak aneh kalau dua edisi Platenground yang menyebut cukup lengkap heilig graf tak mencatat nama Habib Hasan al-Hadad, dia adalah “orang kemaren sore” dan tampaknya bukan pula seorang mubalig yang secara total mengabdikan hidupnya untuk siar Islam. Jadi wajar pula tak tersebut dalam satu pun studi tentang islamisasi di Betawi. Masa hidup Mbah Priok yang di awal abad ke-20 itu pula yang dapat dijadikan penjelasan dari kejanggalan ihwal adanya foto diri si mbah yang tergantung di dinding atas makam. Sebab, kalau mengikuti keterangan kuncen bahwa ia berasal dari pertengahan abad ke-18, mustahil ada foto dirinya. Bukankah teknologi foto baru dikenal di Hindia Belanda akhir abad ke-19. Berdasarkan masa hidup Mbah Priok yang sejati itu pula dapat disimpulkan bahwa tak mungkin nama Tanjung Priok berasal darinya. Sebab, pada 1883, pemerintah kolonial mulai melaksanakan proyek pelabuhan yang namanya Haven Tanjung Priok. Sedangkan saat itu si mbah baru umur 11 tahun dan mukim di Palembang.

Anakronisme alias keterbolakbalikan waktu menjadi unsur yang makin meyakinkan betapa makam Mbah Priok lebih merupakan–pinjam istilah Taufik Abdullah–mitos yang diciptakan dari sejarah atau peristiwa masa lalu seorang “tokoh” yang diidealisasi, ketentuan normatif yang “disejarahkan”. Malah, dalam kasus Mbah Priok, mitos telah mengalami transformasi bukan hanya sebagai accepted history, tetapi juga lebih lagi–seperti kebanyakan makam keramat–menjadi kepercayaan peneguh iman.

Berlatar belakang itulah segala anggapan ihwal Mbah Priok tokoh penting sejarah dan sebab itu makamnya adalah situs sejarah, bahkan lebih tinggi lagi akan dijadikan cagar budaya, mesti dilihat sebagai–pinjam ungkapan Henri Chambert Loir dan Anthony Reid dalam The Potent Dead: Ancestors, Saints and Heroes in Contemporary Indonesia (2002)–“urusan politik dan perkaitannya dengan mitos makam keramat”. Bukan pertimbangan berdasarkan kategorisasi yang sudah dibuat oleh pemerintah sendiri tentang benda cagar budaya.

Sungguh yang ada hanya kepalsuan sejarah yang disemai-suburkan para kuncen dan kelompok-kelompok kepentingan di sekitarnya. Cilakanya adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengundang mereka ke Istana. Ini sama artinya mengakui kepalsuan sejarah yang sudah dilakukan. SBY pun tak membantah ketika para kuncen itu menyebarkan berita ia adalah pengunjung setia dan malah pernah menggelar pengajian bersama di makam itu. SBY pun menyatakan siap menjadi pelindung makam keramat Mbah Priok.

Suatu petunjuk lagi betapa mudah penguasa dicipoa, ditipu. Histoire repete, sejarah berulang, ada kemiripan dengan skandal Raja Idrus dan Permaisuri Markonah, tetapi dalam hal ini ada ironi besar bahwa pemalsuan sejarah itu telah makan korban nyawa. Terlebih menyedihkan lagi betapa pemikiran purba ihwal kepercayaan pengaruh orang-orang tertentu yang sudah meninggal (kalau tidak bisa disebut klenik) sesungguhnya sudah menjadi komoditas politik yang penting dalam sejarah kekuasaan Indonesia.

Iklan

Responses

  1. ijin menyimak…

    http://djiesaka.wordpress.com/

  2. kenapa satelit amerika merekam di makam tersebut ada sinar misterius dari makam si mbah. terus tahun 1997 kenapa waktu pembongkaran banyak buldoser malah patah

  3. Mungkin suatu kebetulan saja, tapi banyak masyarakat sering mengaitkan fenomena ini dengan peristiwa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori