Oleh: hurahura | 30 Desember 2012

Kayu Direndam Comberan (Habis)

Dulu orang Betawi mengenal berbagai aturan untuk membangun rumah, yakni harus ditata serasi, harmonis, dan mendukung kelestarian lingkungan. Orang Betawi gemar duduk-duduk dan ngobrol sambil santai. Maka di teras sering terdapat semacam tempat duduk dan tiduran yang disebut bale. Untuk menimbulkan suasana nyaman, pelataran rumah dilengkapi berbagai jenis tanaman hias.

Ruang tengah, kamar tidur, dan ruang makan harus tetap bersih. Ruang belakang rumah dan dapur sedapat mungkin harus bersifat tertutup dan terlindungi dari pandangan orang luar. Orang Betawi sering menyebut kamar tidur dengan pangkeng. Nama ini merupakan pengaruh dari salah satu dialek China yang disebut bahasa Hokkian. Pekarangan yang ada di samping dan belakang rumah dimanfaatkan sebagai kebun buah.

Menurut Yahya Andi Saputra dari Lembaga Kebudayaan Betawi, tata ruang rumah Betawi dibagi dalam empat area utama, yaitu area publik, area semi publik, area pribadi, dan area pelayanan. Area publik adalah area teras atau beranda sampai pekarangan. Area semi publik adalah area di sekitar ruang tamu, sebagai ruang santai dan bercengkerama. Area pribadi adalah kamar tidur, sementara area pelayanan adalah dapur dan sekarang termasuk kamar mandi.

Untuk membangun rumah orang Betawi percaya kepada perhitungan yang berporos kepada alam gaib. Perhitungan dilakukan oleh seorang kiai berdasarkan ilmu falak. Dia akan menghitung tempat pembangunan, arah rumah, dan waktu dimulainya pembangunan. Tradisi juga mensyaratkan rumah tidak boleh dibangun di atas tanah yang dikeramatkan. Selain itu tidak boleh membangun rumah untuk anak di sebelah kiri rumah orang tua.

Tradisi Betawi mengenal tiga jenis rumah, yaitu Gudang, Joglo, dan Bapang atau Kebaya. Dulu ada yang disebut rumah Jengki, yakni jenis rumah panggung. Rumah yang belum dipasang pintu dan jendela pantang dihuni. Pekerjaan terakhir adalah memasang ragam hias, antara lain berupa gigi balang dan pucuk rebung.

Rumah Betawi mampu bertahan lama karena kayu-kayunya direndam dulu dalam comberan atau empang paling kurang selama sebulan. Pemeliharaan rumah biasanya dilakukan setiap tahun menjelang lebaran dengan cara bersih-bersih, terutama dari serangan serangga. Hal itulah yang membuat rumah Betawi bertahan lama. Mudah-mudahan siapapun pemiliknya tetap mampu mempertahankan kelestarian rumah tradisional Betawi yang kian langka. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: