Oleh: hurahura | 18 Februari 2012

Pengaruh China di Batavia (1)

Warta Kota, Selasa, 14 Februari 2012 – Menurut catatan tertulis yang ada, hubungan Nusantara dengan China sudah terjalin sejak abad ke-5 Masehi. Hubungan itu berkembang pada masa Kerajaan Majapahit, abad ke-13 hingga ke-15 Masehi. Dari masa yang lebih dekat, hubungan Nusantara-China berlangsung sejak masa kolonial.

Sejak awal kedatangan Belanda di Banten pada 1596, banyak orang China bermukim di sana. Mereka dinilai berperan penting dalam mengangkat perekonomian Kesultanan Banten. Belanda yang melihat kegigihan dan kerajinan orang-orang China, kemudian mengajak mereka pindah ke Batavia, kota baru yang didirikan pada 1619. Hal ini terutama untuk mendukung kemajuan kongsi dagang Belanda yang disebut VOC atau Kompeni.

Pada tahun pertama keberadaan Batavia, yakni pada 1620, pemukim China berjumlah 800. Pada 1630 jumlah mereka berkembang menjadi 2000. Ada beberapa alasan orang-orang China datang ke Nusantara, yakni pertanian yang mandek di China dan situasi politik yang kacau pada akhir kekuasaan Dinasti Qing. Di pihak lain, pemerintah Hindia Belanda memerlukan banyak tenaga kerja untuk membuka wilayah-wilayah baru, salah satunya di Batavia.

Di pusat pemerintahan VOC, yakni Batavia, orang-orang China banyak mendapat peranan. Hingga kini pengaruh mereka masih tersisa dalam berbagai bentuk. Di Batavia pada 1611 terdapat Pecinan (China Town) yang sudah mapan dan makmur. Di dekat Pecinan, orang-orang China membangun loji pertama. Masyarakat China itu berada di bawah kekuasaan Wattingh, mengkhususkan diri dalam perdagangan beras (Nusa Jawa: Silang Budaya, 2, 1996). Ketika itu terdapat juga beberapa pabrik arak yang menyuling minuman keras dari beras dan tebu.

Lebih dari seabad orang Belanda tidak memperhatikan pertanian. Baru setelah 1740, yang dikenal sebagai ’Pembantaian Orang-orang China’, keadaan ekonomi Batavia terguncang. Mereka mulai menyadari betapa jasa para petani China amat diperlukan. Gubernur Jendral G. van Imhoff kemudian menulis, ”Orang China-lah yang mulai mengolah tanah, kini tiba saatnya bagi kita untuk menyempurnakan dan meluaskan pertanian”. Imhoff menambahkan, ”Kita tahu dari pengalaman bahwa orang Belanda sama sekali tidak cocok untuk mengolah tanah”.

Besarnya pengaruh pertanian China, ditulis panjang lebar oleh Jan Hooyman dan Andries Teisseire. Kata mereka, orang China pantas diteladani keunggulan dan kerja kerasnya. ”Tanpa peran serta mereka, sulit bahkan mustahil terdapat semua ladang beras, tebu, nila, dan kacang tanah, di wilayah pinggiran,” kata Hooyman. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori