Oleh: hurahura | 13 Mei 2011

Samin, Pengukir Miniatur Candi

Oleh: Djulianto Susantio

Samin sedang memahat miniatur candi Borobudur

Suara Pembaruan, 22 Januari 1989 – BAGAIMANA memanfaatkan waktu luang setelah memasuki masa pensiun? Buat mereka yang punya keterampilan, tentu tidak menjadi masalah. Apalagi kalau punya jiwa wiraswasta. Seperti halnya Samin (64 tahun) yang pernah bekerja menjadi zoeker (pencari) dan steller (penyetel) batu pada Kantor Suaka Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah.

Di kala senggangnya, Samin yang sudah dikenal sebagai pemahat dan pengukir batu, tiap hari selalu mengerjakan ukiran kayu berbentuk miniatur candi. Kalau tidak candi Borobudur, ya candi Prambanan. Dua candi itu memang sudah dikenal di seluruh dunia.

Hasil karya Samin umumnya dipesan oleh instansi purbakala seperti Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Kantor Suaka Sejarah dan Purbakala, Balai Arkeologi, dan Proyek Konservasi Candi Borobudur. Di luar itu turut memesan Bupati Magelang, Pemda Semarang, dan PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan. Bahkan, karya Samin sudah mencapai mancanegara, antara lain Thailand, India, Jepang, Belanda, AS, Spanyol, dan Prancis.

Hasil karya Samin dipajang di pendopo candi Borobudur

Menurut Samin, ukiran yang agak besar bisa diselesaikan dalam tempo lima bulan, terhitung dari penyiapan, pengerjaan, dan penyelesaian tahap akhir. Dalam bekerja, Samin dibantu oleh seorang putranya yang memang mempunyai bakat mengukir. Untuk membuat stupa candi Borobudur, karena agak rumit dan memerlukan peralatan khusus, biasanya Samin mengupah seorang rekannya yang kebetulan mempunyai peralatan membubut. Samin dan anaknya cuma menghaluskan stupa-stupa yang sudah agak sempurna.

Untuk membuat miniatur candi, Samin menggunakan kayu mahoni atau kayu sawo. Bahan-bahan tersebut diperoleh dari seorang kenalannya yang sering memborong kayu tebangan.

”Saya membeli secara meteran atau sudah berbentuk persegi. Pokoknya yang sudah dipotong. Soalnya, kalau membeli gelondongan, saya takut banyak yang terbuang. Siapa tahu bagian luarnya bagus, tetapi bagian dalamnya gosong,” kata Samin memberi alasan. Alat-alat yang digunakan untuk membuat miniatur candi, menurut Samin, masih tradisional, yaitu tatal, gergaji, pahat ukir, siku, dan golok.


Bakat

Menurut Samin, dia belajar mengukir dari orang tuanya. Selain itu, dia pernah mengenyam pendidikan ukir-mengukir di Yogyakarta. Selama beberapa waktu Samin pun sempat menimba ilmu dari seorang Belanda yang bekerja di Museum Sonobudoyo. Dia mengatakan, tidak ada resep khusus untuk berhasil kecuali bakat. Itu yang paling penting.

”Seseorang yang telah belajar bertahun-tahun, kalau tidak berbakat, tidak mungkin berhasil,” begitu ujar Samin.

Bapak tujuh anak ini mulai bekerja di bidang purbakala tahun 1942. ”Pertama kali saya dites memahat batu,” tuturnya mengenang. Setelah lulus tes, mulailah Samin memahat batu-batu andesit untuk mengganti bagian-bagian candi yang hilang. Misalnya kepala kala dan makara pada candi Prambanan.

Karena keterampilannya tergolong tinggi, lalu Samin ditunjuk membantu proyek makam Sunan Drajat. Tugasnya masih seperti di candi Pramnbanan, yakni memahat dan mengukir batu. Berikutnya Samin menangani kepurbakalaan Sendang Duwur.

Di samping bangunan purbakala, Samin pernah pula mengerjakan pahatan dan ukiran pada bangunan modern. Namun bangunan tersebut masih berkaitan dengan dunia kepurbakalaan. Bangunan itu adalah kantor Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di Jalan Condet Pejaten, Jakarta Selatan. Di kanan kiri pintu masuk kantor terdapat sepasang kepala kala dan makara, persis sebagaimana pintu masuk candi.

Sebenarnya, menurut Samin, pahatan dan ukiran itu bukan hasil karyanya, melainkan jerih payah pengrajin Muntilan yang banyak mangkal di sepanjang jalan Magelang – Yogyakarta. Beberapa orang menganggap karya seni itu memiliki kekurangan.

”Kepala kala salah, makaranya keliru. Lagi pula pahatannya begitu halus. Padahal, ukiran-ukiran zaman dulu, agak kasar. Justru yang tidak halus itulah yang hidup,” cerita Samin. Maka, pahatan pada kantor Pusat Penelitian Arkeologi Nasional diubah. Samin mengerjakannya selama dua minggu.

Samin bercerita, kalau untuk mencari uang, lebih enak memahat dan mengukir batu. ”Mengukir kayu sulit. Kalau tidak halus, hasilnya jelek,” ujarnya memberi alasan. Hanya keuntungan kayu, benda ini mudah dibawa-bawa karena ringan.


Menurunkan bakat

Saat ini Samin hanya mengukir berdasarkan pesanan. Harga satu buah karyanya berbentuk candi Borobudur yang agak besar Rp 2,5 juta. Yang lebih kecil, tentu lebih murah. Hingga kini Samin yang pensiun sejak 1980 tidak ingat lagi berapa banyak ukiran miniatur candi dan relief cerita candi yang pernah dihasilkan oleh tangan terampilnya.

Yanto, mewarisi keterampilan sang ayah (Foto-foto: Djulianto Susantio)

Seperti halnya Samin yang mewarisi bakat ayahnya, Samin pun menurunkan bakat kepada salah seorang putranya. Yanto yang kini bekerja di Balai Arkeologi Yogyakarta, rupanya mulai setaraf dengan kemampuan Samin. Setiap hari kalau ada waktu Yanto selalu mengerjakan pesanan miniatur candi membantu orang tuanya.

Bahkan bukan hanya itu. Yanto menyempatkan diri mengukir arca dewa-dewi pada batu gips. ”Saya sudah mencintai dunia kepurbakalaan. Maka hasil ukiran saya semuanya berhubungan dengan candi atau bagian-bagian candi,” kata Samin dan Yanto.

Manusia langka tentu saja perlu dilestarikan. Mereka ikut berjasa memperkenalkan dunia kepurbakalaan kepada masyarakat luas.


Responses

  1. mas, minta alamatnya pak samin atau mas yanto… saya tertarik memesan miniatur candi

    • Tulisan ini dibuat tahun 1987. Terakhir saya dengar Pak Yanto pensiun dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Jl Gedong Kuning 174, Kotagede, Yogyakarta 55171, telp 0274-377913


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: