Oleh: hurahura | 17 Maret 2016

Prasastinya Kembar, Nasibnya Beda

Wanuatengah-01Prasasti Wanwa Tengah 1 di Museum Nasional, Jakarta. Kondisinya relatif aman karena terlindungi dari panas dan hujan.

Sejak lama banyak prasasti ditemukan dalam kondisi rusak karena ketidaktahuan masyarakat. Akibat rusak, pembacaan menjadi tidak lengkap. Dampaknya, kita kekurangan data untuk penulisan sejarah kuno Nusantara.

Yang ironis, banyak prasasti (akan) rusak justru karena kekurangpedulian kita sendiri, terutama para pengambil kebijakan. Contoh yang jelas Prasasti Wanwa Tengah 2 (kadang ditulis Wanua Tenah 2). Kini prasasti beraksara dan berbahasa Jawa Kuno tersebut, teronggok di bawah pohon, persis di depan pendopo Kabupaten Temanggung (Jawa Tengah).

Buku Kamus Arkeologi Indonesia 2 (1979) menyebutkan “prasasti masih terletak di tempatnya”. Jelas mengacu pada kawasan Candi Argapura, juga termasuk Kabupaten Temanggung, tempat pertama kali ditemukan. Entah sejak kapan prasasti itu dibawa ke dekat rumah dinas bupati. Mungkin dengan alasan keamanan, mengingat pengawasan di wilayah gunung sulit dilakukan.

Selama beberapa lama, keberadaan Prasasti Wanwa Tengah 2 sempat menghebohkan para peneliti karena diduga hilang. Ternyata bagian yang ada tulisannya diletakkan tertelungkup sehingga tidak kelihatan dari luar. Maklum, tidak banyak orang yang mengerti aksara kuno. Ironisnya sekarang, di dekat prasasti terletak bak sampah dan gerobak sampah. Bahkan ketika hujan deras beberapa hari lalu, lokasi prasasti tergenang air kotor cukup tinggi.

Wanuatengah-02Prasasti Wanwa Tengah 2, tergeletak di depan pendopo Kabupaten Temanggung (Foto-foto: The Lost History of Nusantara)

Bisa jadi kondisi prasasti semakin mengkhawatirkan. Siapa saja bisa melakukan vandalisme pada prasasti, karena prasasti terletak di kawasan terbuka tanpa pengawasan petugas. Berbagai jenis sampah pernah terlihat dibuang di atas prasasti. Angin, panas, dan hujan yang menerpa prasasti ganti-berganti, semakin menambah parah kondisi batu kuno itu. Dibandingkan dengan awal penemuan, kini beberapa aksara prasasti sudah mulai aus sampai tidak terbaca.

Dikabarkan pihak Pemkab pernah akan membuatkan taman untuk meletakkan prasasti. Namun disayangkan sampai sekarang pembuatan taman belum terlaksana. Hanya dibandingkan kondisi awal 2015, kondisi prasasti di awal 2016 ini sudah lebih terurus. Prasasti tersebut sudah memiliki pelindung, meskipun dalam bentuk sederhana.


Kembar

Prasastinya kembar, nasibnya beda. Begitulah kondisi bertolak belakang Prasasti Wanwa Tengah. Sebenarnya Prasasti Wanwa Tengah berupa dua buah prasasti dengan isi yang sama. Karena itu para peneliti menyebutnya Prasasti Wanwa Tengah 1 dan Prasasti Wanwa Tengah 2. Nasib Prasasti Wanwa Tengah 1 lebih beruntung karena sejak awal abad ke-19 ditempatkan di Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, sekarang  Museum Nasional Jakarta. Saat ini prasasti tersebut bisa dilacak dengan nomor inventaris D.81.

Karena sudah memiliki majikan, maka Prasasti Wanwa Tengah 1 aman dari terpaan hujan dan matahari, termasuk dari hal-hal lainnya. Bahkan prasasti tersebut sering dimandikan untuk menghilangkan segala kotoran yang melekat padanya.


Mataram Kuno

Prasasti Wanwa Tengah berbahan batu andesit, terdiri atas enam baris tulisan. Aksara pada baris ke-1 sampai ke-4 terbaca jelas. Hanya pada baris ke-5 dan ke-6, beberapa aksara tidak terbaca. Orang pertama yang menerbitkan Prasasti Wanwa Tengah adalah Brandes dan Krom lewat bukunya Oud-Javaansch Oorkonden (1920).

Prasasti Wanwa Tengah menyebutkan bahwa pada 5 Kresnapaksa bulan Jyesta 785 Saka (= 10 Juni 863 Masehi), Rakai Pikatan pu Manuku meresmikan desa Wanwa Tengah menjadi sima, ketika yang menjadi raja Rakarayan Kayuwangi pu Lokapala.

Uniknya struktur Prasasti Wanwa Tengah meniru struktur Prasasti Tulang Air. Prasasti Tulang Air juga berjumlah dua buah dengan isi yang sama, dipahat dengan aksara dan bahasa Jawa Kuno. Prasasti ini ditemukan di Candi Perot, Kabupaten Temanggung, sehingga dikenal dengan nama lain, Prasasti Candi Perot.

Prasasti Tulang Air menginformasikan peresmian Desa Tulang Air menjadi sima pada 2 Suklapaksa bulan Asadha 772 Saka (= 15 Juni 850 Masehi). Ketika itu yang meresmikan sima adalah Rakai Patapan pu Manuku atas perintah raja Rakai Pikatan.

Kedua prasasti—Wanwa Tengah dan Tulang Air—sama-sama  memuat daftar para pejabat tinggi kerajaan, para pembantu mereka yang hadir pada penetapan sima, serta para pejabat daerah dan pejabat desa yang bertindak sebagai saksi. Adanya pengulangan nama Rakai Pikatan inilah yang menjadi dasar penyusunan silsilah raja-raja Mataram Kuno.


Pujian

Ditemukannya prasasti tertua pada sejumlah situs arkeologi, dianggap menandai berakhirnya masa prasejarah, yakni babakan dalam sejarah kuno Indonesia yang masyarakatnya belum mengenal tradisi tulisan. Kata prasasti sendiri berasal dari bahasa Sansekerta. Arti sebenarnya adalah pujian. Namun kemudian diangggap sebagai “piagam, maklumat, surat keputusan, undang-undang, dan tulisan”. Di kalangan ilmuwan, prasasti disebut inskripsi. Sementara orang awam mengenalnya sebagai batu bertulis atau batu bersurat.

Meskipun berarti pujian, tidak semua prasasti mengandung puji-pujian kepada raja. Sebagian besar prasasti justru diketahui memuat keputusan mengenai penetapan sebuah desa atau daerah menjadi perdikan atau sima (tanah yang dilindungi). Sebagian lagi berupa keputusan pengadilan tentang perkara-perkara perdata (disebut prasasti jayapattra atau jayasong), sebagai tanda kemenangan (jayacikna), tentang utang-piutang (suddhapattra), dan berisi kutukan atau sumpah.

Di kalangan arkeologi, penemuan prasasti dianggap paling penting karena merupakan artefak bertanggal mutlak. Umumnya, sebagian besar prasasti memuat angka tahun dan nama-nama pejabat kerajaan.

Sayang kepopuleran prasasti masih kalah jauh dibandingkan arca atau candi yang juga berbahan batu. Akibatnya artefak prasasti jarang mendapat perhatian, karena tidak sembarang orang bisa membaca aksara yang tertera padanya. Malahan ada prasasti yang sengaja dirusak orang-orang tidak bertanggung jawab karena dianggap musyrik.

Di antara prasasti kembar, memang nasib Prasasti Wanwa Tengah 2 belum sebaik Prasasti Wanwa Tengah 1. Mudah-mudahan, seperti halnya prasasti kembar Tulang Air yang keduanya disimpan di Museum Nasional Jakarta, prasasti Wanwa Tengah 2 bisa menyusul saudara kembarnya untuk bermukim di sana.  Kalau tidak dilestarikan begitu, tentu saja aksaranya akan semakin aus bahkan hilang. (Djulianto Susantio)  


Responses

  1. Sayang sekali ya Pak kondisi prasastinya seperti itu, padahal informasi yang dimuat di sana sangat berharga bagi masyarakat untuk tahu bagaimana kondisi kerajaan dan masyarakat di masa itu. Mudah-mudahan di tempatnya yang sekarang Prasasti Wanwa Tengah 2 itu bisa dikunjungi dan informasi tentang isi prasasti bisa disebarluaskan :)).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: