Oleh: hurahura | 26 November 2010

Masalah Pengembalian Barang Antik Curian

Oleh: Djulianto Susantio

Perdagangan barang-barang antik curian, terutama yang berasal dari negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin, semakin lama semakin marak. Bisnis ini dilakukan melalui pasar gelap (black market) dan internet. Selain secara sembunyi-sembunyi, bisnis ini juga mulai merambah balai-balai lelang ternama.

Memang pada dasarnya balai lelang tidak boleh menjual barang-barang curian. Namun balai lelang tetap saja ‘kecolongan’. Balai lelang baru tahu kalau barang itu merupakan hasil curian justru karena informasi dari masyarakat berdasarkan katalogus yang mereka keluarkan.

Ironisnya, meskipun sudah tahu merupakan barang curian, sejumlah balai lelang tetap melanjutkan aktivitas lelang. Lebih ironis, yang membeli benda-benda tersebut adalah museum-museum besar dan ternama dari Eropa dan AS.

Awal April 2010 lalu di Kairo pernah diselenggarakan konferensi internasional untuk membahas perdagangan barang antik curian. Sebagai negara yang di masa lampaunya memiliki peradaban tinggi, sudah terang Mesir amat berkepentingan untuk hal ini. Dalam kurun waktu puluhan tahun, diawali pada abad ke-19, banyak warisan budaya Mesir diangkuti ke berbagai negara. Umumnya benda-benda tersebut menjadi koleksi masterpiece museum-museum Eropa.

Kepala Dewan Tertinggi Arkeologi Mesir, Dr. Zahi Hawass, adalah orang yang paling berantusias menginginkan kembalinya artefak-artefak purbakala Mesir dari banyak negara. Hawass menuding sejumlah museum mancanegara menjadi biang keladi maraknya pencurian dan perdagangan ilegal benda-benda kuno. “Museum merupakan sumber utama pembeli artefak curian. Jika museum berhenti membeli artefak, pencurian akan berkurang,” katanya sebagaimana dikutip Radio BBC dan Radio Suara Jerman baru-baru ini.

Konferensi internasional dua hari itu melibatkan 21 negara. Para peserta terdiri atas negara-negara yang telah menjadi pasar bagi barang antik curian dan negara-negara yang menjadi asal-muasal artefak tersebut, di antaranya Mesir, Suriah, Cina, Peru, dan Italia.

Salah satu tujuan utama konferensi itu adalah untuk memperluas realisasi konvensi UNESCO, yang saat ini hanya mencakup artefak yang dicuri setelah 1970-an. Persoalan terbesar justru adalah artefak-artefak yang diangkuti sebelum 1970, terlebih semasa penjajahan abad ke-18 hingga awal abad ke-20.

Menurut Hawass, pemilik sah artefak-artefak tersebut adalah negara asal. Jadi berbagai koleksi museum itu harus dikembalikan ke Mesir dan juga ke beberapa negara lainnya. Beberapa artefak yang diinginkan Hawass, antara lain batu Rosetta, sebuah lempengan batu yang bertuliskan petunjuk untuk menguraikan tulisan hieroglif Mesir. Batu Rosetta tersebut kini berada di Museum London (British Museum). Batu Rosseta ditemukan pada 1799 oleh pasukan Napoleon yang sedang melakukan operasi penaklukan di Mesir. Dua tahun kemudian, batu ini jatuh ke tangan Inggris.

Sejumlah museum paling terkenal di dunia memang sejak lama memiliki berbagai koleksi benda antik dari Mesir. Kebanyakan di antaranya didapatkan dalam masa penjajahan. Artefak-artefak tersebut berhasil keluar dari Mesir berkat kongkalikong antara arkeolog, petualang, dan pencuri barang antik.

Hawass sudah lama berkata lantang menyuarakan desakan pengembalian benda-benda antik tersebut. Akibatnya pada 2007 otoritas Perancis secara sukarela mengembalikan rambut Fir’aun. Benda antik tersebut nyaris dijual di internet oleh seorang pekerja pos yang mendapatkan artefak itu dari ayahnya. Sang ayah sendiri memperolehnya dari sebuah penyelidikan ilmiah terhadap mumi kerajaan 30 tahun sebelumnya.

Mesir juga menuntut Berlin untuk mengembalikan patung dada Ratu Nefertiti yang legendaris. Artefak tersebut ditemukan oleh arkeolog Jerman, Ludwig Borchardt, di tepian sungai Nil pada Desember 1912. Artefak lain berupa patung dada Ankhaf di Museum of Fine Arts di Boston, AS dan patung Fir’aun Ramses II di Museo Egizio, di Turino, Italia.

Langkah arkeolog Hawass dilakukan sangat serius. Bahkan Hawass berani memutuskan hubungan bilateral dengan museum tersohor Perancis, Louvre. Menurut Hawass, sebelum mendapatkan kembali benda purbakala yang dicuri, yang sekarang menjadi koleksi museum itu, Mesir akan menolak bekerja sama dengan Museum Louvre.

Menurut tudingan Hawass, Museum Louvre banyak membeli barang antik asal Mesir, meski para kurator museum itu mengetahui bahwa barang tersebut adalah barang curian. “Kami membuat keputusan untuk sepenuhnya mengakhiri kerja sama dengan Louvre hingga mereka mengembalikan benda antik tersebut,” kata Hawass akhir Januari 2010.

“Pembelian barang-barang curian adalah sebuah pertanda bahwa sejumlah museum tengah bersiap untuk menggalakkan penghancuran dan penjarahan benda-benda antik milik Mesir,” tambah Hawass.

Menteri Kebudayaan Perancis, Frederic Mitterand, mengatakan bahwa benda antik yang dituntut oleh Mesir itu adalah pecahan-pecahan dekorasi dari sebuah makam di Lembah Raja-raja yang berada di dekat Luxor. Artefak tersebut berusia 3.200 tahun.

Menurut Mitterand, artefak-artefak arkeologi itu didapatkan dengan cara “baik-baik” oleh pihak Louvre pada tahun 2000 dan 2003. Namun dia menambahkan bahwa memang seharusnya artefak-artefak tersebut dikembalikan kepada negara asal, yakni Mesir.

“Semua orang berusaha keras dan mengupayakan kemungkinan pengembalian pecahan benda antik tersebut ke Kairo, jika kerangka hukum yang jelas telah ditemukan,” kata seorang sumber Perancis menambahkan.

Beberapa tahun lalu Hawass pernah memutuskan hubungan dengan museum lain, yakni Museum Seni Saint Louis karena museum tersebut menolak untuk mengembalikan topeng emas dari mumi seorang wanita bangsawan.

Suara lantang Hawass berhasil menarik perhatian dunia internasional, termasuk UNESCO, yakni organisasi PBB yang membidangi warisan budaya. Sejauh ini Mesir sudah berhasil menghimpun kembali sekitar 5.000 artefak yang pernah berada di museum-museum mancanegara.

Mesir sendiri telah lama bekerja sama dengan AS untuk melacak benda-benda purbakala miliknya. Pemerintah AS kemudian membentuk tim yang bertanggung jawab atas investigasi warisan budaya tersebut. Kini sudah ada perbaikan dalam kerja sama internasional.

“Semakin mudah dari perspektif penegakan hukum. Kami bekerja sama dengan baik. Kami telah menemukan dan menentukan cara berkomunikasi, memahami kebutuhan, dan sistem hukum masing-masing,” demikian James McAndrew dari Departemen Keamanan Dalam Negeri AS.

Beberapa artefak Mesir berhasil dikembalikan dari AS, di antaranya adalah sarkofagus kayu yang berumur 3.000 tahun. Artefak tersebut merupakan sitaan pejabat pabean AS karena masuk ke sana secara ilegal.


Nasib Indonesia

Sebenarnya nasib Indonesia tidak ubahnya nasib Mesir. Pemerintah Indonesia juga terus berupaya melakukan hubungan diplomasi dengan pemerintah Belanda agar benda-benda bersejarah yang menjadi koleksi museum di sana bisa dikembalikan ke Tanah Air.

Benda-benda itu diboyongi ke sana ketika Belanda menjajah Indonesia selama 3,5 abad. Mereka memperolehnya dengan cara agresi militer, merampas atau membeli dari penduduk. Setelah itu pemerintah Hindia Belanda mengambil kebijakan, yakni sebagian koleksi diserahkan kepada Bataviaasch Genootschap (sekarang Museum Nasional Jakarta) dan sebagian lagi dibawa ke Belanda untuk didistribusikan kepada sejumlah museum di sana.

Berkat Perjanjian Wassenaar memang beberapa artefak berhasil kembali ke Tanah Air pada 1970-an, misalnya arca Prajnaparamita, naskah Nagarakretagama, dan gong Geusan Ulun. Sayangnya, nasib artefak-artefak tersebut malah menjadi kurang terawat di sini. Justru lebih terjamin berada di negeri orang.

Di luar Belanda, diperkirakan warisan-warisan budaya Indonesia sampai kini masih berada di 30-an negara. Banyak pakar menilai, koleksi-koleksi itu tidak perlu diminta kembali secara tergesa-gesa. Hal ini karena kondisi museum-museum di Indonesia masih memrihatinkan. Bahkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pernah mengatakan, 90 persen museum-museum di Indonesia masih belum layak dikunjungi.

Menurut para pakar itu, untuk sementara lebih baik benda-benda tersebut tetap berada di mancanegara. Ini karena secara tidak langsung dapat mempromosikan pariwisata Indonesia. Kita pun tidak perlu mengeluarkan anggaran perawatan yang demikian besar, toh di sana sudah terpelihara baik.

Beberapa arkeolog yang bekerja di museum juga setuju dengan cara demikian. “Di sini menangani benda cagar budaya saja masih pusing. Kalau disimpan di museum, bisa dicolong lagi. Lebih baik berada di mancanegara dulu, hitung-hitung bagi kerjaan mengurusi benda cagar budaya kita,” begitu komentar mereka.

Betapapun, cepat atau lambat warisan-warisan budaya itu perlu diketahui anak-cucu kita secara langsung. Masak kita tidak mampu memelihara warisan budaya milik nenek moyang kita sendiri. Mudah-mudahan jika museum sudah dihargai masyarakat kita, maka warisan-warisan budaya tersebut bisa kembali ke negara asalnya, serupa dengan impian Hawass di Mesir.***

Iklan

Responses

  1. Bilang z zma orang Orang Belanda untuk mengemablikan semua Benda-benda yang di ambil dari Indonesia, Klo tidak bunuh sjaa mereka karena mereka itu sama saja sperti pencuri barang Kuno Indonesia

  2. Kalau berbicara dengan barang antik curian negara kita termasuk salah satu yang terparah, karena barangnya banyak yang hilang. Perawatan dan penjagaannya juga sangat minim sekali


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: