Oleh: hurahura | 18 Februari 2012

Calin dan Bishou Menjadi Kaleng dan Pisau (3)

Warta Kota, Kamis, 16 Februari 2012 – Secara umum kebanyakan produk pertanian di Batavia diperkenalkan oleh orang-orang China. Bahkan mereka banyak memberikan dorongan dan bimbingan untuk mengolah tanah. Cara persemaian yang dibuat dalam baris-baris, merupakan pengaruh China. Cara itu memungkinkan petani membersihkan rumput dengan bajak.

Pembaruan yang paling menyolok, tulis Hooyman, adalah diperkenalkan model alat penyosoh yang sangat efisien. Dengan dua atau tiga ekor lembu, bisa mengolah empat sampai lima ratus pon beras per hari. Sebelumnya dengan lesung tradisional, hanya mampu menghasilkan seratus pon beras. Persebaran alat itu di daerah pedalaman, kemudian merangsang produksi beras di kawasan itu. Bahkan turut memecahkan masalah persediaan pangan buat Batavia, yang saat itu sangat memprihatinkan.

Budi daya kacang tanah, diperkirakan masuk Batavia, pada 1755. Kemungkinan besar diperkenalkan oleh orang China. Hasil panen dibawa ke penggilingan terdekat untuk dibuat minyak. Kacang Batavia dikirim ke Jawa untuk makanan dan penerangan. Hooyman mencatat pada 1778 terdapat 51 penggilingan kacang di daerah Batavia.

Pada 1751 Gubernur Jenderal Jacob Mossel sempat mengeluhkan kekurangan minyak di Batavia. Tapi berkat orang-orang China, keadaan itu berubah sama sekali, demikian tulis Hooyman. Pembudidayaan nila untuk zat pewarna juga dilakukan oleh orang-orang China di kota dan daerah pedalaman.

Tanaman lain yang dibudidayakan adalah sayur-sayuran dan buah-buahan. Di pinggiran Batavia mereka menanam semangka. Dari bentuk kosakata terlihat bangsa China mempunyai andil dalam memasukkan adas cina, kacang cina, dan pacar cina.

Ada dugaan kuat, sejumlah tanaman yang dikenal sampai sekarang, dulunya diperkenalkan oleh peranakan China di Batavia. Nama-nama tanaman itu masih menggunakan nama China, misalnya kucai, lokio, lobak, pecai, caisim, kailan, dan cincau. Taoge, taoco, tahu, kecap, mie, asinan, pangsit, bakpao, siomay, dan juhi juga merupakan pengaruh China di bidang kuliner.

Dalam pertukangan logam, bangsa China bisa dibilang menjadi pelopor. Pada awal abad ke-18 Valentijn menyebutkan bahwa orang China di Batavia sangat maju dalam pengerjaan tembaga dan calin (kata ini kemudian berubah menjadi kaleng). Karena mahir, pisau (berasal dari kata bishou), pernah diproduksi besar-besaran di Batavia. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori