Oleh: hurahura | 16 November 2010

Selimut Abu Gerogoti Borobudur

Koran Tempo, Selasa, 16 November 2010 – Pagar Candi Borobudur itu baru saja diperbaiki. Marsis Sutopo ingat, belum lama besi pagar tersebut dicat ulang.”Tapi lihat saja sekarang! Sudah berkarat,” kata Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur itu di kantornya, Kamis pekan lalu.

Marsis tak sedang mengeluhkan pengerjaan pagar oleh tukang bangunan yang disewa. Namun dia hendak menunjukkan betapa berbahayanya abu vulkanik yang disemburkan Gunung Merapi, sejak tiga pekan lalu.

Tak hanya cepat membuat besi berkarat, abu Merapi juga berbahaya bagi batu Candi Borobudur.

Dengan tingkat keasaman mencapai 4-5, abu Merapi membuat batu candi cepat keropos dan lapuk.”Itu sifat korosif abu,” katanya.

Letusan Gunung Merapi menyebabkan sejumlah daerah di Kabupaten Magelang mengalami hujan abu, termasuk Borobudur. Akibat hujan abu, seluruh bagian candi Buddha terbesar di dunia itu seolah diselimuti abu.

Direktur Peninggalan Purbakala Kementerian Budaya dan PariwisataYunus Satrio Atmojo mengatakan abu vulkanik Merapi menye babkan proses kerusakan pada Candi Borobudur. Secara fisik, bangunan candi masih utuh dalam peristiwa hujan abu. Namun sisa abu yang menempel di batu, jika tak dibersihkan, akan berakibat fatal pada kondisi batu.

Balai Konservasi kini menyiapkan sejumlah upaya pembersihan. Sifat asam yang menjadi ancaman dan ketebalan abu membuat proses pembersihan tak sekadar menyiramnya dengan air. Abu yang bercampur pasir cepat mengeras saat lembap, dan rendahnya curah hujan menyebabkan abu lengket.

Bertumpuknya masalah itu membuat upaya pembersihan tak bisa dilakukan sembarangan.Terlebih hujan abu masih terus berlangsung dan tak bisa diperkirakan kapan akan berhenti.”Jangan sampai sia-sia,”katanya.”Setelah dibersihkan, batu kehujanan abu lagi.”

Hujan abu memang berkali-kali mengguyur candi. Saat Gunung Merapi pertama kali meletus pada 26 Oktober lalu, abu menutupi candi setebal 3-4 milimeter. Candi pun ditutup sementara dari kunjungan wisatawan. Selama sepekan, candi dibersihkan dengan disapu dan disemprot air. Selang sehari setelah Borobudur selesai dibersihkan pada 4 November, hujan abu kembali mengguyur Magelang. Kali ini lebih hebat. Abu kembali menutupi seluruh permukaan candi dengan ketebalan hingga 2,5 sentimeter. “Pembersihan harus dilakukan dengan cara berbeda,” kata Marsis.

Koordinator Kelompok Kerja Pemeliharaan Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, Nahar Cahyandaru, mengatakan pembersihan batu dengan air ternyata tak menghilangkan keasaman. Batu bersih dari abu, namun sifat korosifnya masih tersisa. “Cara penyiraman dengan air ternyata tak efektif,”ujarnya.

Kini Balai Konservasi mengubah taktik. Berbeda dengan cara pembersihan sebelumnya, setelah abu dibersihkan dengan sapu, batu tak langsung disiram air.

Setelah dianggap bersih, batu akan disemprot dengan natrium bikarbonat (NaHCO3), soda kue yang biasa digunakan untuk membuat adonan mengembang. Dengan takaran 1 per sen, cairan kimia itu disemprotkan ke batu untuk menghi Abu vulkanik dari Gunung Merapi menyelimuti Borobudur.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: