Oleh: hurahura | 24 April 2012

Peninggalan Portugis di Batavia (1)

Warta Kota, Selasa, 24 April 2012 – Sejak zaman lampau, Nusantara dipandang merupakan wilayah yang kaya. Karena itu berbagai bangsa asing datang ke sini untuk jangka waktu lama. Hubungan yang pertama kali dilakukan antarnegara adalah hubungan dagang. Lama-kelamaan hubungan itu berkembang menjadi hubungan sosial (misalnya perkawinan) dan hubungan politik (misalnya invasi atau penjajahan).

Negara kita banyak didatangi bangsa asing, terutama dari Eropa, karena rempah-rempah kita dinilai berkualitas tinggi. Rempah-rempah sangat dibutuhkan oleh negeri beriklim dingin, sehingga berbagai bangsa Eropa itu berupaya mencari sendiri ke sini. Selain Belanda yang selama 350 tahun menjajah negara kita, jejak Portugis pun banyak dijumpai dalam berbagai ujud. Bangsa Portugis memang dikenal sebagai bangsa pelayar dan petualang yang tangguh.

Masa ekspansi kolonial Portugis dimulai pada 1385 ketika John I mendirikan Dinasti Aviz. Pada abad XVI daerah jajahan Portugis meliputi Amerika Selatan, Afrika, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Diperkirakan, timbulnya kolonialisme Portugis dimulai oleh “mimpi” seorang Pangeran bernama Dom Henrique, untuk mencari “dunia baru”. Dia meninggalkan istana dan mendirikan sekolah nautika di Portugis Selatan. Di sana dia mengundang para ahli geografi dan kartografi terbaik Eropa. Dengan uangnya sendiri lalu dia membentuk sebuah armada kapal yang pergi berlayar mencari “dunia baru” tadi.

Pada awalnya mereka berhasil melewati Tanjung Harapan di Afrika. Maka rute ke wilayah Timur pun terbuka dan dalam sekejap tujuan-tujuan komersial memperkuat jiwa petualangan bangsa Portugis itu. Ketika mereka tiba di Goa, India, mereka mulai menyadari betapa pentingnya perdagangan rempah-rempah. Setelah berhasil merebut Malaka di Malaysia pada 1511, maka Albuquerque mengirim sebuah ekspedisi untuk mencari Maluku. Dari sanalah Portugis mulai melakukan ekspansi ke seluruh wilayah Indonesia (Pengaruh Portugis di Indonesia, 2000). Dari rempah-rempah lalu berkembang menjadi hubungan militer, kebudayaan, etnis, komersial, dan agama.

Masa kolonialisasi Portugis di Indonesia antara lain dapat ditelusuri lewat tulisan seorang pengelana bernama Tome Pires. Catatan Pires banyak dipakai untuk merekonstruksi sejarah Indonesia pada abad XV. Tulisannya, Suma Oriental (Perjalanan ke Timur), dibukukan di London pada 1944.

Catatan Pires yang dinilai penting antara lain tentang adanya Kerajaan Sunda di Jawa Barat (regno de cumda). Begitu pula tentang asal mula kota Jakarta, yang sampai kini masih menjadi polemik. Ketika itu, menurut Pires, pada 1522 di Sunda Kalapa, Portugis menandatangani perjanjian dengan pangeran setempat. Hasil kerja sama itu diujudkan dalam sebuah padrao. Padrao adalah sebuah tiang batu setinggi kira-kira dua meter, dengan suatu inskripsi yang menyatakan bahwa orang Portugis telah lewat di situ. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: