Oleh: hurahura | 14 November 2012

Pameran “Jejak-jejak Karam”

Koleksi-koleksi yang berasal dari kapal karam (Foto: Djulianto Susantio)

Sejarah Nusantara senyata-nyatanya adalah sejarah tentang laut. Sejak awal penghunian Nusantara oleh para penutur Bahasa Austronesia, laut telah memainkan peranannya ketika terjadi migrasi besar-besaran para leluhur tersebut dari Formosa (Taiwan) ke berbagai wilayah di Asia Tenggara, sekitar 6.500 SM. Peran laut tak dapat dinafikkan pula ketika Nusantara menjadi surga rempah-rempah pada Abad Perdagangan, abad ke-16 sampai pertengahan abad ke-20 Masehi, yang lantas bermuara pada kolonialisme.

Maka, sebagian wilayah perairan Nusantara adalah juga situs bersejarah. Di dasarnya banyak sekali tersimpan bukti-bukti sejarah. Jejak-jejak karam. Tinggalan-tinggalan historis berupa kapal-kapal yang karam, bersama muatannya, saat mereka dulu melintasi wilayah perairan Indonesia. Menurut pendataan, ada sekitar 400-an titik-titik kapal karam di perairan Indonesia. Ini sangat dimungkinkan karena Nusantara, selain memang wilayah penghasil rempah-rempah berkualitas tinggi, juga merupakan wilayah perlintasan yang menghubungkan belahan bumi bagian barat dan timur.

Benda-benda muatan kapal tenggelam (BMKT), yang berasal dari masa lalu, jelas sangat penting artinya bagi pengungkapan sejarah Nusantara. Paling tidak dapat memberikan berbagai gambaran tentang aspek-aspek kehidupan sosial, politik, ekonomi, atau persentuhan-persentuhan budaya yang terjadi di masa lalu. Dan untuk itu, tentu saja, harus dilestarikan demi pemanfaatannya bagi kepentingan umat manusia.

Namun di sisi lain, tinggalan-tinggalan sejarah-budaya bawah laut itu juga memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Beberapa peristiwa belakangan ini membuktikan, harta karun bawah laut itu cukup laris di lelang-lelang internasional. Nilai rupiahnya bisa sampai ratusan miliar, atau bahkan triliunan. Pemerintah Indonesia pun menganggapnya sebagai aset ekonomi negara, dengan segera membentuk Panitia Nasional (PANNAS) BMKT, tahun 2007, untuk mengatur kegiatan eksplorasinya. Beberapa kalangan menilai, pembentukan PANNAS lebih bersifat komersial, didasari oleh nilai ekonomis BMKT semata.

Nilai ekonomis BMKT memang sangat menggiurkan. Permasalahan pun banyak muncul. Mulai dari perburuan-perburuan ilegal yang mengabaikan data-data arkeologis, sampai kepada hal-hal yang menyangkut batas-batas teritori laut negara. Untuk Indonesia, klaim kepemilikan pernah terjadi ketika De Geldermalsen ditemukan. Kapal dan muatannya itu, milik siapa? Pemerintah Belanda, Indonesia atau penemunya? Pemerintah Belanda menganggap sebagai miliknya, karena De Geldermalsen jelas-jelas merupakan kapal Belanda Abad ke- 18 Masehi. Pemerintah Indonesia berpendapat, kapal tersebut milik Indonesia, karena ditemukan di wilayah perairan Indonesia. Sementara Michael Hatcher, penemu De Geldermalsen, menganggap sebagai miliknya, karena ditemukan diperairan internasional. Indonesia memang sudah menetapkan Zona Ekonomi Eksklusif-nya, namun ada beberapa negara yang masih belum mengakuinya.

Setelah Undang-Undang Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010 resmi diberlakukan, permasalahan pun bertambah. UU itu menyebutkan, dasar laut tempat ditemukannya tinggalan-tinggalan sejarah-budaya, termasuk artefak-artefaknya, adalah situs bersejarah yang harus dilestarikan demi kepentingan ilmu pengetahuan dan masyarakat. Artinya, tidak lagi dapat dieksplorasi untuk dikomersialisasikan atau dilelang. Dengan itu, bukankah berarti pula PANNAS harus dibubarkan? Lantas, bagaimana upaya-upaya pelestarian yang akan dilakukan? Jujur saja, sekali lagi, secara ekonomi, teknologi dan SDM, kita belum siap. Dan pemanfaatannya secara nyata, apakah ujung-ujungnya hanya sekadar untuk obyek wisata, shipwrecks diving tourism?


LAUT INDONESIA

Secara geografis wilayah Indonesia terletak di antara dua benua: Asia dan Australia serta terletak di antara dua samudera: Pasifik dan Hindia. Indonesia sebagai negara kepulauan merupakan salah satu wilayah yang mempunyai tatanan geologi dan pola tektonik yang kompleks. Secara tektonik lempeng, Indonesia merupakan lokasi benturan antara tiga lempeng utama litosfir yaitu Hindia-Australia di bagian selatan, Pasifik di sebelah timur laut dan Eurasia di barat laut. Karena interaksi antara lempeng-lempeng tersebut, terjadi berbagai gejala-gejala tektonik yang berkaitan dengan pembentukan busur kepulauan, kegunung-apian, kegempaan, cekungan, dan struktur geologi yang kompleks.

Para pelajar sedang mengamati koleksi keramik (Foto: Djulianto Susantio)

Secara fisiografis wilayah Indonesia dibatasi di sebelah selatan oleh suatu palung laut dalam yang memanjang dan dapat diikuti mulai dari Burma-Andaman-Sumatra-Jawa hingga ke Kepulauan Banda di bagian Timur Indonesia, yang merupakan jalur penekukan dan penyusupan lempeng Hindia-Australia ke bawah lempeng Asia Tenggara. Antara Indonesia bagian timur dan barat, terdapat perbedaan fisiografis yang mencolok. Di Indonesia bagian barat terdapat busur-busur kepulauan, yang dibatasi oleh lautan dengan kedalaman rata-rata berkisar antara 200 meter dan membentuk suatu paparan yang luas yang dikenal dengan Sundaland.

Terkait hukum kelautan, Konvensi Hukum Laut III yang diselenggarakan PBB di Chicago pada 1982, telah menghasilkan dua buah keputusan, yaitu dengan diakuinya rezim zona ekonomi eksklusif (ZEE) dan rezim negara kepulauan (Archipelagic State). Lahirnya kedua rezim itu merupakan hasil dari negosiasi alot negara pantai dengan negara maritim yang selama ini menguasai laut, baik untuk eksplorasi perikanan, pertambangan, pelayaran, perdagangan, maupun militer.

Dengan disahkannya rezim ZEE maka laut bebas (high seas) yang semula terbuka lebar untuk jalur pelayaran dan eksploitasi laut menjadi berkurang 200 mil laut dari tiap-tiap pulau yang ada. Kesepakatan ini bagi negara-negara kepulauan di satu pihak mendapatkan keuntungan dengan bertambahnya luas wilayah laut. Namun, di sisi lain mempunyai tanggung jawab memberikan akses, baik laut maupun udara terhadap negara lain yang akan melintas di perairan kepulauan (archipelagic waters).


SEJARAH MARITIM INDONESIA

Berabad-abad lampau, sebelum terjadi kolonialisasi bangsa-bangsa Eropa, perairan Nusantara sudah merupakan jalur penting pelayaran niaga dari berbagai belahan dunia. Beberapa pelabuhan penting di Nusantara yang sudah ada antara lain Pasai Aceh, Kota Cina Palembang, Banten, Batavia (Jakarta sekarang), Semarang, Demak, Jepara, Makassar, Gowa, Tallo, Sangihe, Talaud, Seram, serta Ternate. Perdagangan luar negeri Nusantara mulanya ditengarai dengan adanya perdagangan rempah-rempah asal Maluku oleh pedagang Arab dan India. Transportasi awal perdagangan rempah Nusantara ini melalui rute laut ke India, kemudian melewati darat melalui rute perdagangan ke Timur Tengah, dan berakhir di Eropa.

Ketika Roman Emperor Vespasion melarang ekspor emas dari Roma pada sekitar abad pertama, pedagang India pun beralih ke Nusantara –terutama Sumatera dan Jawa– sebagai alternatif impor emas. Selain pedagang India dan Arab, pedagang Melayu pun telah memainkan peran penting dalam rintisan rute kapal ke arah timur (Cina, Jepang) dan ke barat (India, Timur Tengah dan Afrika). Sejak abad ke-9 bangsa Cina juga memberi kontribusi pertumbuhan perdagangan laut melalui ekspor keramik.

Oleh karena itu dari berbagai catatan dan dokumen sejarah sejak abad ke-7 sampai ke-19 Masehi, ratusan bahkan ribuan kapal diduga telah mengalami karam atau tenggelam di Nusantara. Kapal-kapal tersebut berasal dari kapal dagang Cina (dari berbagai dinasti), kapal kerajaan-kerajaan di Nusantara, kapal-kapal Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), Belanda, Portugis, Spanyol, Inggris, serta Jepang. Penyebab kapal-kapal tersebut karam antara lain oleh badai dan cuaca buruk, pengetahuan navigasi geografis pelayaran yang kurang sehingga kapal menabrak karang, atau sebab lain seperti menjadi sasaran perompak dan peperangan.

Jumlah kapal hilang dan karam selama berabad-abad di perairan Nusantara memang tidak terhitung. Pada tahun 2001 National Geographic pernah melaporkan tujuh kapal kuno yang karam di perairan Nusantara bagian barat (Selat Malaka) pada abad XVII-XX Masehi. Kapal-kapal tersebut adalah Diana (Inggris), Tek Sing dan Turiang (Cina), Nassai dan Geldermalsen (Belanda), Don Duarte de Guerra (Portugis), dan Ashigara (Jepang).

Kapal layar Cina yang telah mengarungi perairan Asia –termasuk Nusantara– selama berabad-abad pun dilaporkan banyak yang tidak kembali. Selain itu, sejak tahun 1650, dari sekitar 800 kapal Portugis yang berlayar dari Lisabon, hampir 150 kapal tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Hilang tanpa jejak.

Antara tahun 1600 sampai 1800, EIC menginformasikan telah kehilangan lebih dari 7.000 kapalnya. Umumnya kapal tersebut dinyatakan karam ke dasar laut terbawa bersama muatannya. Sementara pada tahun 1808 dan 1809, EIC kehilangan 10 kapal yang berlayar dengan muatan senilai satu juta sterling lebih. VOC Belanda juga telah kehilangan 105 kapal yang berlayar antara tahun 1602 dan 1794. Periode yang buruk adalah antara tahun 1725-1749, ketika VOC kehilangan 44 kapalnya dalam perjalanan pulang dari timur.


PENINGGALAN SEJARAH-BUDAYA BAWAH AIR

Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan (kini Departemen Kelautan dan Perikanan) telah menginventarisasi kapal karam atau kapal tenggelam sebelum Perang Dunia II. Setidaknya terdapat di 463 lokasi untuk periode antara tahun 1508 sampai 1878. Umumnya kapal karam tersebut adalah kapal dagang VOC, kapal Portugis, kapal Amerika, kapal Prancis, Inggris, Jerman, Belgia, dan Asia (Cina, Jepang, Nusantara). Dari 463 lokasi itu baru 43 lokasi yang telah berhasil disurvei. Namun, hanya 10 lokasi yang benda muatannya telah diangkat. Ada sekitar 300.000 benda yang terangkat dari dasar laut dan kini tersimpan di gudang khusus Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) di Cileungsi, Bogor.

Kesepuluh titik yang telah diangkat benda berharganya umumnya dari perairan Jawa dan Sumatera. Pengangkatan benda di perairan Jawa adalah di situs Blanakan, Kabupaten Subang, tahun 1998; Karangsong, Cirebon (2004); Karawang, Jabar, (2008); Pulau Karang Cina, Kepulauan Seribu, Jakarta; serta di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, pada 2008. Di perairan Sumatera, yang terlama dilakukan di Pulau Buaya, Kepulauan Riau, pada 1998. Selain itu, di Pulau Intan, di Selat Gelasa, Bangka Belitung; Teluk Sumpat di Tanjung Pinang; dan Karang Heliputan di Kepulauan Riau, tahun 2006.

Benda temuan serupa situs Karang Heliputan juga ditemukan di perairan Kepulauan Seribu, Bangka Belitung, Cirebon, dan Kalimantan Barat. Khusus di Kepulauan Seribu ditemukan 11.000 benda terbuat dari aneka logam, seperti emas, perak, perunggu, dan timah. Temuan-temuan itu diduga berasal dari abad ke-10 Masehi. Dari identifikasi sebagian badan kapal, kapal itu buatan Indonesia yang berlayar dari Ibu Kota Sriwijaya, Palembang, menuju Jawa Tengah atau Jawa Timur.

Medio 2008 di Desa Punjulharjo, Rembang, Jawa Tengah, sejumlah warga menemukan perahu kuno yang relatif utuh, sekitar 1 km dari pantai. Perahu itu berukuran lebar 4 m dan panjang 15,60 m. Profesor Pierre-Yves Manguin, arkeolog maritim asal Perancis, yang diundang Balai Arkeologi Yogyakarta untuk meneliti perahu tersebut menyatakan, perahu Rembang berasal dari zaman peralihan Kerajaan Mataram Kuno ke Sriwijaya, periode antara tahun 670-780 Masehi. Teknologi pembuatan perahu menggunakan tambuktu atau balok tempat pasak yang diperkuat dengan ikatan tali ijuk. Di perahu itu ditemukan benda seperti tempurung kelapa, potongan tongkat, dan kepala arca perempuan Cina berdandan Jawa. Diduga perahu itu merupakan perahu dagang antar pulau.

Pada tahun 2008, sebuah perahu kuno ditemukan di Bengawan Solo, tepatnya di Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk, Bojonegoro, Jawa Timur. Tahun 2010 ditemukan lagi tiga perahu kuno yang juga diperkirakan berusia ratusan tahun, di dasar sungai yang terletak di Desa Panjunan Kecamatan Kalitidu dan di Kecamatan Malo. Identifikasi awal menyatakan panjang perahu mencapai 30 m dengan lebar 4 m. Perahu tersebut lebih panjang dibandingkan dengan temuan perahu kuno pada 2006 di Desa Padang, Kecamatan Malo, yang diketahui asal Thailand buatan tahun 1312.


EKSPLORASI BMKT

Pada 1986 dunia gempar dengan peristiwa penemuan 100 lebih batang emas, serta 20.000 keramik Dinasti Ming dan Ching dari kapal VOC De Geldermalsen yang karam di perairan Riau pada Januari 1751. Penemunya Michael Hatcher, warga Australia, yang menyebut dirinya sebagai arkeolog maritim. Barang-barang tersebut dilelang di balai lelang Belanda, Christie, senilai 15 juta dolar AS.

Pemerintah Indonesia menganggap Hatcher telah melakukan tindak kriminal penjarahan karena melakukan pengangkatan BMKT secara ilegal. Pemerintah Belanda pun juga mengklaim lebih berhak mewarisi De Geldermalsen. Belanda bersikeras lokasi karam kapal berada di zona internasional. Oleh karena itu Penerbit Inggris, Hamish Hamilton Ltd, mempublikasikan kisah petualangan dan temuan Hatcher ini dengan judul The Nanking Cargo pada 1987 (karya Antony Thorncroft) sebagai upaya Pemerintah Belanda mengelabui tuntutan Pemerintah Indonesia. Nanking Cargo merupakan sebutan kargo kapal VOC De Geldermalsen yang berisi barang-barang berharga hasil transaksi perdagangan VOC di Nanking Cina.

Pemerintah Indonesia kurang memiliki bukti untuk mempertahankan argumennya, dan akhirnya tidak mendapat satu sen pun dari pelelangan muatan De Geldermalsen. Sementara itu Pemerintah Cina juga menyatakan seharusnya Pemerintah Cina memperoleh bagian. Sebagian besar muatan De Geldermalsen berasal dari Guangdong. Namun, seperti halnya pemerintah Indonesia, pemerintah Cina tak punya daya untuk mengambil kembali harta nenek moyangnya itu.

Tak hanya De Geldermalsen, Hatcher juga membuat gempar yang lain dengan pengangkatan muatan kapal Tek Sing yang karam di perairan Riau pada Januari 1822, dalam pelayaran dari Pelabuhan Amoy (kini Hsiemen) menuju Pulau Jawa. Kapal berpenumpang 2.000 orang dan memuat 350.000 keping porselen itu tenggelam setelah menerjang karang. Hatcher berhasil menemukan lokasi tenggelam Tek Sing pada 12 Mei 1999. Muatan keramik berasal dari Dinasti Qing, antara 1644 dan 1912. Hatcher pun pernah terlihat di perairan Cirebon, April 2010 dan diduga sedang mengincar keramik peninggalan Dinasti Ming.

Akibat ulah Hatcher ini, Pemerintah Indonesia lantas membentuk Panitia Nasional Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam (Pannas BMKT). Keanggotaan terdiri dari berbagai departemen dan instansi pemerintah. Di antaranya para ahli dari Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Pertahanan dan Keamanan, bahkan juga Departemen Keuangan. Salah satu tugas dan fungsi Panitia Nasional ini, selain menjaga dan mengelola potensi kekayaan harta benda Negara bernilai sejarah itu, juga menjadi jembatan penghubung antara pemerintah dengan pihak pengusaha/investor (swasta nasional atau pihak asing) yang berminat melakukan pengangkatan BMKT. Payung hukum perlindungan BMKT adalah Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, menggantikan undang-undang sebelumnya, UUCB Nomor 5 Tahun 1992.

Seperti pemerintah Indonesia, setelah tragedi De Geldermalsen, Pemerintah Cina pun membentuk tim arkeologi untuk melacak dan menyelamatkan harta karun sebelum keduluan para pemburu harta seperti Hatcher. Direktur Pusat Arkeologi Bawah Laut China, Zhang Wei, menyatakan tim arkeologi ini dibentuk untuk menemukan harta karun serta menjaganya, bukan untuk mencari keuntungan semata dari nilai ekonomisnya yang tinggi.


ARKEOLOGI BAWAH AIR

Ilmu yang mempelajari data arkeologi yang berada di bawah air seperti laut, sungai, danau, dan rawa disebut Arkeologi Bawah Air (ABA) atau Underwater Archaeology. Arkeologi Bawah Air merupakan bagian dari Arkeologi Maritim (Maritime Archaeology), suatu ilmu yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan laut.

Selain istilah Underwater Archaeology ada pula istilah lain yang lebih spesifik, antara lain Nautical Archaeology yaitu studi arkeologi yang mempelajari teknologi kelautan (kapal, perahu atau navigasi); Riverine Archaeology yaitu studi tentang artefak pada lalulintas sungai; Submerged Site Archaeology, studi yang mempelajari situs yang tergenang air akibat turunnya muka tanah atau naiknya permukaan air (di darat), dan Water Saturated Sites, studi yang mempelajari artefak di rawa-rawa, paya-paya, dan situs tanah berair lain yang terbentuk karena perubahan pada permukaan air karena perubahan alam atau ulah manusia.

Objek penelitian ABA beragam. Namun, yang paling sering menjadi fokus adalah kapal karam atau kapal tenggelam (shipwreck), BMKT, lingkungan bawah air yang signifikan terhadap perkembangan kebudayaan (misal sungai-sungai purba dasar laut), dan segala benda jejak manusia yang tenggelam di dasar laut. Di antara berbagai objek tersebut, yang paling menyita perhatian banyak pihak dan publik adalah BMKT karena sangat berharga sehingga banyak diburu.

Penelitian ABA pertama kali dibicarakan pada 1936. Pada 1956 UNESCO baru mengeluarkan keputusan penting ABA, sekaligus melaksanakan berbagai ekspedisi. ABA yang termasuk dalam kajian Arkeologi Maritim (AM) masih merupakan bidang baru di Indonesia. Perkembangannya sangat lamban. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mulai menguji-coba kegiatan ABA pada 1981, bekerja sama dengan pasukan katak dari Armada RI Wilayah Timur. Banyak kendala menyebabkan ABA sulit terlaksana secara ideal di Indonesia. Kendala terbesar masalah tenaga, biaya, dan hukum laut. Sekadar gambaran, untuk penyelaman di laut dangkal (100-200 kaki atau 30-60 meter), dibutuhkan minimal empat orang bersertifikat. Untuk laut dalam, tentu lebih banyak lagi, termasuk besaran pengeluaran biaya.


POTENSI LAUT INDONESIA

Setelah merdeka wilayah Indonesia menjadi lebih luas. Terdiri atas daratan dan lautan dengan perbandingan luas wilayah daratan dengan lautan 3:1. Hampir 70% wilayah Indonesia terdiri atas laut. Saat pendudukan Belanda wilayah perairan Indonesia masih terbilang kecil. Saat itu hanya ditetapkan 3 mil atau 5,5 km dihitung dari garis laut saat air sedang surut. Ketentuan tersebut mengikuti Territoriale Zee en Maritieme Ordonantie tahun 1939. Dengan perhitungan tersebut, banyak wilayah laut Indonesia yang bebas di antara pulau-pulau. Hal ini sangat merugikan Indonesia sebab banyak kapal asing yang bebas mengambil sumber daya laut di Indonesia.

Pada 13 Desember 1957 Pemerintah Indonesia menetapkan konsep wilayah perairan laut yang dikenal dengan Deklarasi Djuanda. Laut serta perairan antarpulau menjadi pemersatu dan penghubung antarpulau, dan batas-batas wilayah laut diukur sejauh 12 mil dari garis dasar pantai pulau terluar. Deklarasi Djuanda mendapat pengakuan dunia pada 1982 ketika Konvensi Hukum Laut Internasional yang diselenggarakan PBB di Chicago.

Dalam konvensi tersebut ditetapkan bahwa dunia internasional mengakui keberadaan wilayah perairan Indonesia yang meliputi perairan Nusantara, laut teritorial, batas landas kontinen, dan batas ZEE (Zona Ekonomi Ekslusif). Dengan berkembangnya wilayah perairan Indonesia maka kekayaan Indonesia meningkat. Di sektor perikanan, dengan luas wilayah perairan sekitar 5,8 juta km2, berarti memiliki potensi produksi ikan 6,7 ton per tahun. Selain itu, Panitia Pengembangan Riset dan Teknologi Kelautan serta Industri Maritim menyatakan, di Indonesia terdapat 60 cekungan yang berpotensi mengandung minyak dan gas bumi (hidrokarbon).

Tentu masih banyak lagi potensi-potensi laut Indonesia lainnya, seperti halnya temuan kapal karam. Selain nilai pentingnya bagi sejarah dan kebudayaan, temuan kapal karam pun memiliki potensi sosial-ekonomis bila pelestariannya juga diselaraskan dengan pemanfaataannya. Di beberapa negara, shipwrecks diving tourism sudah cukup berkembang dan terbukti menarik perhatian banyak wisatawan –meski sifatnya lebih spesifik– yang berarti dapat menjadi sumber devisa negara. Indonesia, yang di wilayah perairannya banyak ditemukan bangkai-bangkai kapal kuno, sepatutnya merasa beruntung untuk dapat juga mengembangkan jenis wisata tersebut. Ketimbang terus-menerus dijarah, lebih baik mengajak masyarakat untuk aktif menjaga dan melestarikannya, dengan memanfaatkan dan mengembangkannya.

Acara penunjang diselenggarakan mulai pukul 10.00,
kecuali kunjungan situs pukul 08.00

Iklan

Responses

  1. nice artikel gan

  2. […] https://hurahura.wordpress.com/2012/11/14/pameran-jejak-jejak-karam/ […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: