Oleh: hurahura | 19 Agustus 2010

Sejarah: Deli Serdang Siap Membebaskan Tanah

Kompas Sumbagut, Kamis, 12 Agustus 2010 – Pemerintah Kabupaten Deli Serdang saat ini tengah membentuk kelompok kerja untuk membebaskan lahan 12 hektar yang menjadi lokasi situs Benteng Putri Hijau di Kecamatan Namorambe, Deli Serdang. Kelompok kerja yang beranggota, antara lain, Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Unimed, serta Balai Arkeologi Medan tengah menunggu pengesahan dari Bupati Deli Serdang.

“Kami sudah mengajukan susunan kelompok kerja. Saat ini berkas masih berada di bagian hukum Pemkab Deli Serdang,” tutur Kepala Bidang Kebudayaan dan Museum Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Deli Serdang Deni Hapianto, Rabu (11/8). Pokja akan bekerja untuk melakukan pembebasan lahan eksisting situs Benteng Putri Hijau yang saat ini masih di tangan masyarakat dan sebagian dikuasai pengembang perumahan.

Menurut Deni, usulan dana untuk pembebasan tanah sudah dilakukan tahun ini dalam APBD Kabupaten Deli Serdang. Pemkab Deli Serdang juga tidak memberikan izin pembangunan di lahan seluas 12 hektar kawasan situs Putri Hijau. “Sampai saat ini pembangunan perumahan di kawasan itu juga sudah berhenti,” tutur Deni.

Namun, sejarawan Unimed, Ichwan Azhari, menilai, pembebasan lahan adalah langkah jangka panjang mengingat banyaknya dana yang harus dikumpulkan untuk membebaskan tanah. Dana juga dikumpulkan dari banyak lembaga dan rawan korupsi.

Yang terpenting dalam waktu dekat ini, kata Ichwan, adalah kehadiran Bupati dan Wakil Bupati Deli Serdang di lokasi situs Putri Hijau. Jika pemimpin kabupaten sudah hadir dan menetapkan bahwa kawasan itu dilindungi, proses penyelamatan benteng akan lebih mudah.

“Wakil Bupati pernah menjanjikan untuk datang ke situs sejak tiga bulan lalu, tetapi sampai saat ini belum hadir. Ini menunjukkan Pemerintah Kabupaten Deli Serdang tidak serius menyelamatkan situs dunia itu. Ini mengecewakan para sejarawan,” tutur Ichwan.

Langkah berikutnya, kata Ichwan, adalah negosiasi dengan pihak pengembang, yaitu PT Perumnas, untuk meminta alokasi tanah dan mendirikan museum di situ. Museum yang dirikan adalah museum situs.

“Hanya perlu pondok sederhana supaya peneliti, mahasiswa, dan masyarakat yang datang melihat mempunyai tempat berteduh,” tutur Ichwan.

Sejauh ini pihak pengembang sudah bersedia mengalokasikan 1.000 meter persegi lahan yang menabrak benteng untuk pendirian museum.

Ichwan mengatakan, sebelumnya Pemkab Deli Serdang juga sudah mendirikan pokja untuk ekskavasi kawasan itu. Pokja pembebasan lahan adalah pokja lanjutan dari pokja ekskavasi yang kerjanya jangka panjang.

Situs Benteng Putri Hijau adalah situs peninggalan Kerajaan Aru yang berkembang pada abad XI hingga XVI.(WSI)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: