Oleh: hurahura | 24 Maret 2011

Pesan Moral dari Kitab Kuno Bhagavad Gita

Penulis: Djulianto Susantio
Arkeolog, di Jakarta

ilustrasi – foto: internet

Sejak lama, banyak terjadi peperangan di seluruh dunia, baik perang besar antarnegara maupun perang kecil di dalam suatu negara. Yang termasuk perang besar antara lain Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan Perang Dingin antara blok Barat dengan blok Timur, sementara yang termasuk perang kecil misalnya perang saudara di Kamboja dan Afghanistan. Perang dengan berbagai motivasi sudah terjadi sebelum era masehi, seiring manusia mulai hidup berkelompok. Maka kemudian timbullah berbagai kitab epik dan heroik, terutama di sejumlah negara yang masa lalunya cemerlang.

Di antara berbagai kitab purba yang sampai kepada kita, dua kitab yang sudah dikenal luas di seluruh dunia adalah Ramayana dan Mahabharata(yudha). Kedua kitab itu berasal dari India, ditulis oleh pujangga termashur pada zamannya. Banyaknya sampai berjilid-jilid. Karena itu isinya pun mengenai berbagai hal, seperti filosofi kehidupan, nasehat, dan peristiwa sehari-hari.

Salah satu bagian dari Mahabharata yang dianggap masih memiliki relevansi dengan masa sekarang adalah kitab Bhagavad Gita (BG). Meskipun isi utama kitab itu adalah percakapan antara Arjuna (sebagai murid) dengan Kresna (sebagai guru), namun banyak pesan moral terkandung di dalamnya. Kedua tokoh sentral itu banyak menampilkan dialog yang menyentuh hati. Isinya pun penuh dengan hal-hal kebajikan dan keteladanan.

Dialog Arjuna – Kresna itu berlangsung di medan perang Kuruksetra, sebelum terjadi perang besar antara dua keluarga, Pandawa dan Kurawa, untuk memerebutkan takhta kerajaan. Perang itu terjadi akibat ketidaksediaan pihak Kurawa untuk mengembalikan takhta kerajaan kepada pihak Pandawa.

Sebenarnya, sebagai sesepuh Kresna sudah mengusahakan perdamaian. Namun usahanya ditolak oleh pihak Kurawa. Pertempuran pun nyaris dimulai. Tapi Arjuna, salah seorang pahlawan Pandawa, malah menolak untuk bertempur dan berniat merelakan dirinya dibantai saja oleh kaum Kurawa tanpa perlawanan.

Arjuna merasa tidak bergairah untuk bertempur, mengingat pihak musuh terdiri atas para saudara, guru, sahabat, dan orang-orang yang dikasihinya. Seketika tanpa sadar, seluruh tubuh Arjuna kaku, mulutnya kelu, senjata terjatuh dari tangannya, kakinya bergetaran, dan pikirannya linglung.

“Aku mendapat firasat buruk dan tak kulihat hal yang baik dalam membunuh sanak saudara di dalam pertempuran. Aku tidak mencari kemenangan, juga tidak mencari kekuasaan tertinggi dan kesenangan-kesenangan duniawi. Jauh lebih baik hidup sengsara di dunia ini daripada membunuh para tetua yang patut dimuliakan itu. Setelah membunuh mereka, tak ada yang kudapatkan selain suka cita bergelimang darah,” kata Arjuna kepada Kresna (Bhagavad-Gita, 2004, hal. 43-48).

Kresna yang menjadi sais kereta perang Arjuna lalu menimpali bahwa bunuh-membunuh itu hanya terjadi di dunia yang semu. Di dalam keadaan yang sebenarnya tidak ada bunuh-membunuh. Tiap kasta pun, kata Kresna, mempunyai tugas masing-masing. Seorang ksatria seperti Arjuna harus berperang. Kalau tidak bersedia berperang, maka hinalah dia.

Arjuna merasa serba salah. Berperang berarti melukai atau membunuh keluarga sendiri. Bahkan sebaliknya, dilukai atau dibunuh keluarga sendiri. Kalau tidak berperang, berarti menghancurkan martabat sendiri.


Kitab Suci

Keberadaan BG semakin populer karena kitab itu merupakan bagian dari Bhismaparwa, jilid keenam dari kitab Mahabharata(yudha). Di banyak negara, termasuk negara asalnya India, BG dipuja-puja sebagai kitab yang mengandung makna filosofis tentang kehidupan yang luar biasa. Bahkan BG (arti harfiahnya Nyanyian Dewa atau Nyanyian Suci) dianggap sebagai kitab suci yang kelima bagi umat Hindu setelah Rigveda, Samaveda, Yajurveda, dan Atharmaveda.

BG yang diperkirakan ditulis pada tahun 400-450 SM oleh Bhagawan Vyasa, pada garis besarnya terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama, melukiskan disiplin kerja tanpa mengharapkan buah hasilnya dan sifat jiwa yang ada di dalam badan kita. Bagian kedua, mengutarakan disiplin ilmu pengetahuan dan kebaktian kepada Brahman (Tuhan). Bagian ketiga, menguraikan kesimpulan kedua bagian terdahulu disertai disiplin pengabdian seluruh jiwa raga dan kegiatan kerja untuk dipersembahkan kepada Brahman yang kekal.

Menurut BG, terpisahnya jiwa kita dengan Jiwa (Atman) yang langgeng dan terbatasnya jiwa kita ini oleh badan jasmani yang memisahkan diri kita dengan Brahman disebabkan oleh ketidaktahuan kita yang dibungkus rapat-rapat oleh ke-Aku-an kita sendiri. Satu-satunya cara untuk kesadaran tersebut adalah yoga yang berarti jalan. Karena itu BG pun mempunyai nama lain, yakni Yogasastra. Yogasastra merupakan buku petunjuk yang praktis untuk melakukan yoga.

Banyak pihak juga menganggap BG adalah dharmasastra (buku petunjuk untuk berbuat yang benar) dan smriti (ilmu pengetahuan yang harus selalu diingat untuk dipergunakan sebagai petunjuk berbuat yang benar).

Para sarjana Barat menilai BG kekal abadi dan universal sifatnya. Artinya, tidak untuk zaman dulu saja atau golongan tertentu saja. Tetapi merupakan kepunyaan umat manusia yang mencari kesempurnaan hidup dan kedamaian. Tokoh India terkenal, Mahatma Gandhi, pernah berkomentar bahwa BG adalah puisi religius yang agung. Katanya, semakin dalam kita menyelaminya, maka semakin kaya makna yang kita dapatkan (Bhagavad-Gita, hal. 22).

BG sangat jelas menggambarkan bahwa perang fisik itu tidak perlu karena menghasilkan kesia-siaan. Dikatakan, perang telah membuat para pemenang berurai air mata, kesedihan, dan penyesalan. Tidak ada apa pun yang tersisa dari perang, kecuali warisan kesengsaraan.

Sesungguhnya, kita juga selalu menghadapi perang yang berkecamuk di dalam diri dan kehidupan kita. Perang fisik terjadi di berbagai daerah sampai kini. Ada yang berawal dari perebutan batas wilayah dan areal kekuasaan. Ada pula yang bermula dari protes daftar caleg dan kenaikan harga BBM. Namun yang terberat adalah perang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Sebagaimana ucapan Kresna, kita tidak boleh mundur dan kita harus menjalankan tugas dengan hati yang tulus, jujur, dan sebaik-baiknya.

Jelas, perang fisik harus dihindari karena tidak ada gunanya. Tentu saja yang terbaik adalah “damai di bumi, damai di hati”. Sebaliknya, perang nonfisik mesti dilawan karena merugikan banyak pihak. Mudah-mudahan dengan moral yang baik, maka korupsi semakin menurun, premanisme semakin jarang, dan berbagai perbuatan negatif lain semakin ditekan. Inilah perang yang sesungguhnya, yakni perang melawan diri kita sendiri.***

Iklan

Responses

  1. BUKU YANG BAGUS UNTUK DIBACA


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: