Oleh: hurahura | 25 Maret 2011

Cari Pedang dengan ‘Senter Ajaib’ di Museum Sejarah Jakarta

Anggota Teater Koma sedang memandu penonton untuk menikmati ‘Mystery of Batavia’

Diceritakan pada 1880 diselenggarakan pesta meriah di kediaman Ruud van Breukelen, seorang pejabat menengah di pemerintah Hindia-Belanda yang mengawasi keamanan dan ketertiban di Batavia. Satu per satu tamu undangan dipersilakan masuk. Tuan rumah ditemani sang istri, Victoria, menyambut para tamu dengan beragam hidangan menggiurkan. Di tengah keriuhan pesta, seorang pengawal datang menyampaikan laporan penting. “Pedang Pangeran Djajakarta hilang! Pedang Keadilan raib!”

Penduduk Batavia gempar. Pedang Pangeran Jayakarta membawa tuah tak terhingga bagi siapa saja yang menguasainya. Pedang itu juga menjadi penjaga kota dari segala malapetaka. Hilangnya penolak bala bakal membawa bencana besar. Gempa bumi, banjir, wabah penyakit, letusan gunung api, hingga pembantaian masal, seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Pedang itu harus ditemukan, bagaimana pun caranya dan apa pun taruhannya.

Tugas pun diemban Thomas Xavier Makatita, seorang anggota marsose yang dikenal ulet dan pemberani tapi keji. Bekas begal yang dijuluki sang Hiu ini harus meringkus si pencuri pedang atau pulang dalam peti kayu. Pecinan jadi sumber kecurigaan. Pasukan marsose merangsek, menangkap, dan menyiksa orang-orang tak berdosa. Ong Seng Hok alias sang Naga, yang menyimpan luka pembantaian 1740, tak rela kaumnya kembali dianiaya. Dia mencari jejak pedang dari menara hingga ke Laut Jawa. Hilangnya pedang Pangeran Jayakarta juga mengusik saudagar kaya Mustafa putra Khalid dan Victoria van Breukelen. Mereka mempunyai misi serupa: segera menemukan jimat pedang Pangeran sebelum Batavia jadi neraka selamanya.

Kisah hilangnya pedang Pangeran Jayakarta dengan kemasan cerita silat peranakan gaya baru itu disajikan dalam bentuk interactive animated performance. Ini merupakan sebuah seni pertunjukan yang memadukan animasi, video mapping, dengan pertunjukan teater. Sebuah hasil kolaborasi antara penulis, animator, pengembang game, pemain teater, sejarawan, dan komikus. Seniman Inggris, Ian Livingstone, yang memproduseri game laris Lara Croft: Tomb Raider, serta novelis grafis Ed Hilyer, yang karyanya diterbitkan Marvel, DC Comics, dan Dark Horse, juga dilibatkan. Hasilnya, pada layar lebar, kita menyaksikan lukisan mural karya Harijadi Sumodidjojo yang dibuat lebih “hidup” berkat kecanggihan teknologi.

Mencari pedang dengan ‘senter ajaib’. Lukisan mural di dinding Ruang Etnografi Museum Sejarah Jakarta sebagai objek.

Penonton bukan cuma penikmat, tapi juga partisipan aktif dalam pertunjukan. Selama kurang-lebih 30 menit, penonton menjadi bagian dari pertunjukan. Berperan sebagai tamu undangan, membaur dengan para pemain teater dari Teater Koma, penonton digiring memasuki ruang etnografi Museum Sejarah Jakarta di kawasan Kota Tua. Pada akhir pertunjukan, penonton juga berkesempatan mengikuti permainan The Magic Torch Game. Menggunakan senter khusus, secara bergantian, penonton diminta mencari pedang yang hilang itu dengan menyorot layar menggunakan senter tersebut.

Para penonton mencari tahu keberadaan pedang lewat website

Pertunjukan interaktif ini menjadi awal petualangan seru epik interaktif Mystery of Batavia, yang digelar British Council bekerja sama dengan Pemerintah Kota Jakarta. Diluncurkan pada 12 Maret lalu, Interactive animated performance ini dapat disaksikan oleh masyarakat luas setiap hari Sabtu dan Minggu mulai 13 Maret hingga 15 Mei 2011.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: