Oleh: hurahura | 20 Juli 2011

Menumbuhkan Cinta Situs Budaya

(foto:SH/CR-16)

sinarharapan.co.id, 07.07.2011 – “Seharusnya di sini pasang AC dong,” ujar seorang anak ketika ikut membersihkan relief Candi Borobudur. Sontak ucapan polos anak itu membuat kami tersenyum, beberapa malah sempat tertawa. Ya, meskipun sudah melewati tengah hari, terik matahari memang terasa menyengat.

Kendati begitu, panas tak membuat rombongan kami patah semangat menyusuri setiap lantai candi. Pemandangan sarat sejarah yang disuguhkan di setiap lantai nyatanya sudah terlanjur memanjakan mata. Begitu pula dengan ratusan anak yang mendominasi rombongan. Keriangan tersirat di wajah mereka.

Sambil mendengarkan penjelasan pemandu, sesekali mereka terlihat asyik menyapu setiap lekuk relief dari debu dengan seikat lidi berukuran kecil. Soal cuaca tidak terlalu mereka keluhkan lantaran rombongan sudah dibekali caping untuk menepis panas dari wajah.

Hanya saja, rombongan kami yang terbagi dalam beberapa kelompok tidak bisa menjelajahi semua tingkat. Begitu sampai ke lantai 6, kami harus kembali ke bawah. Kami tidak bisa menyusuri sampai lantai 10 yang masih tertutup untuk masyarakat umum karena sedang dalam proses pembersihan debu letusan Gunung Merapi beberapa waktu lalu.

Bagusnya, pemandu masih sempat mengantarkan kami menuju pohon Bodhi yang berada di sisi candi. “Bentuk stupa candi terinspirasi bentuk lipatan daun pohon Bodhi,” kata salah satu pemandu kemudian memetik daun lalu melipatnya tepat di bagian tengah.

Sesudah mendekati pohon Bodhi, rombongan diarahkan ke sebuah lahan kosong seluas 80 hektare yang masih berada di dalam kompleks candi. Di situ sudah tersedia sekop dan beberapa pohon yang siap tanam. Satu per satu anak mulai proses menanam pohon yang bertuliskan nama mereka masing-masing.

“Capek, baru sekali saya bersih-bersih candi,” ujar Daffa Rizki (12), seorang anak dari Jakarta yang mengikuti kegiatan bertajuk “Cultural Heritage Education For The Young People Programme” pada Sabtu (2/7) dan Minggu (3/7). Walau sudah ke Candi Borobudur sebanyak lima kali, bagi Daffa kedatangannya yang terakhir inilah yang paling berkesan. “Kegiatan yang menyenangkan”, ungkapnya.


Pendidikan Budaya

Kegiatan pendidikan warisan budaya bagi generasi muda ini menjadi salah satu program dari United Nation Education, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Kepala Unit Kebudayaan UNESCO Jakarta, Masanori Nagaoka, menyebutkan kegiatan pengenalan warisan budaya kepada kalangan siswa diperlukan karena Candi Borobudur merupakan warisan budaya dunia. Di masa liburan sekolah, mereka diajak melihat langsung dan bisa bertanya kepada ahlinya. Ya, kebetulan kegiatan itu juga dihadiri arkeolog, Toni Tack.

Kegiatan ini diikuti sekitar 150 anak usia pelajar mulai usia 8 hingga 18 tahun. Semuanya merupakan siswa lembaga pendidikan bahasa, English First (EF) dari seluruh Indonesia. Country Director EF Indonesia, Arleta Darusalam, menjelaskan pihaknya bekerja sama dengan UNESCO agar para siswa bisa lebih peduli dalam pelestarian cagar budaya.

Karena juga terkait upaya revitalisasi kehidupan masyarakat setempat itulah, kami sempat mengunjungi Dusun Tingal, Wanurejo, Magelang, yang terletak tak jauh dari Borobudur. Di situ para siswa yang notabene lebih akrab dengan kehidupan kota diperkenalkan dengan budaya yang berkembang di desa. Mereka diajak untuk memainkan gamelan, menggunakan gerabah, sampai membuat janur kuning.

Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, Marsis Sutopo, mengungkapkan, perhelatan bersih-bersih candi yang dilakukan siswa merupakan kegiatan yang penting. Dia memercayai melalui kegiatan ini rasa cinta terhadap Borobudur akan tumbuh di benak para siswa.

Marsis mengatakan, pihaknya menargetkan pada November 2011 seluruh lantai Candi Borobudur sudah bisa kembali dibuka untuk umum.

Meskipun sudah dibuka untuk umum, sebenarnya perbaikan drainase juga masih terjadi di lantai 7, 6, 4, dan 3. Di lantai 7 dilakukan perbaikan lantai dan beberapa dinding yang bocor. Ini dilakukan untuk menyelamatkan Borobudur dari kerusakan akibat sulfur yang terkandung dalam debu. “Sudah seratus tahun Candi Borobudur tidak diperbaiki. Terakhir pada tahun 1911,” ujar Marsis. (CR-16)

Iklan

Responses

  1. lestarikan budaya … bagus … salam

    • untuk kelestarian, menuntut peran seluruh warga masyarakat, mari berpartisipasi…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori