Oleh: hurahura | 24 Februari 2012

Sejarah Panah di Indonesia

Oleh: Djulianto Susantio
Arkeolog

Secara naluriah, manusia dari zaman paling kuno selalu membutuhkan makanan. Hal ini dimaksudkan untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Pada awalnya, makanan mereka terdiri atas tumbuh-tumbuhan atau makhluk lain. Tentu saja langsung dimakan, tanpa diolah terlebih dulu. Hal ini terjadi karena otak manusia paling primitif ini sangat kecil, maka mereka belum memiliki kepandaian.

Pada masa kemudian, manusia mulai berevolusi. Tinggi badan sudah sekitar 1,25 meter dengan berat kira-kira 25 kg. Australopithecus, salah satu spesies manusia purba, memiliki besaran otak sekitar 500 cc. Makhluk ini diidentikkan dengan ’manusia kera’.

Sekitar 2,5 juta tahun lalu, muncul ’manusia kera’ jenis lain, yakni Pithecanthropus. Otaknya sudah bertambah besar, paling kurang 750 cc. Cikal bakal manusia modern adalah Homo, dengan isi otak 1.000-2.000 cc.

Karena otak semakin besar, maka mereka sudah memiliki keterampilan membuat alat dalam bentuk yang paling sederhana. Alat ini digunakan untuk memburu binatang. Salah satu alat berupa tombak, yakni sebatang kayu yang ujungnya diruncingkan.

Tombak adalah alat lempar yang berukuran cukup panjang dan berat. Kalau sering dipakai pastinya akan melelahkan tangan. Daya jangkaunya pun tidak terlalu jauh. Lama kemudian, karena sudah mahir membuat alat batu atau tulang, tercipta busur dan anak panah. Senjata ini dianggap lebih ringan daripada tombak. Daya jangkaunya pun lebih jauh.

Rupanya pada masa ribuan tahun lalu, anak panah banyak digunakan oleh manusia purba Indonesia. Sayang, temuan-temuan arkeologi itu baru terbatas pada mata panah. Tongkat atau batang tempat menempelnya mata panah, kemungkinan besar sudah musnah oleh alam dan waktu. Begitu juga busurnya. Masuk akal memang karena artefak tersebut terbuat dari bahan kayu.


Terciptanya panah

Di Indonesia panah dikenal luas pada masa bercocok tanam, suatu babakan dalam prasejarah yang bertarikh beberapa ribu tahun yang lalu. Temuan mata panah banyak terdapat pada sejumlah situs arkeologi, antara lain di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Di Jawa Timur mata panah ditemukan di Gua Lawa (Sampung), Gua Gede (Tuban), Gua Petpuruh (Besuki), dan Gua Kramat (Bojonegoro).

Umumnya mata panah yang ditemukan di Jawa Timur berbentuk segitiga dengan bagian basis bersayap dan cekung. Ada pula yang cembung atau kadang-kadang rata tidak bersayap. Ukuran panjang dari mata panah yang ditemukan antara 3-6 cm, lebar basis 2-3 cm, dengan ketebalan rata-rata 1 cm. Bahan yang digunakan untuk pembuatan mata panah ini adalah batu gamping. Seluruh permukaan dikerjakan dengan amat teliti. Di bagian ujung dan tajamannya ditatah dari dua arah sehingga menghasilkan tajaman yang bergerigi atau berliku-liku.

(Bersambung)

*Tulisan ini merupakan bahan untuk penyusunan ARKEOPEDIA (ENSIKLOPEDIA ARKEOLOGI)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: