Oleh: hurahura | 27 Mei 2011

Tokoh: Pakar Epigrafi, Boechari

Oleh: Djulianto Susantio

Tabloid Mutiara, 1991 – Mahasiswa arkeologi UI sampai dengan angkatan 80-an pastilah sudah familiar dengan nama ini, Boechari. Beliau adalah seorang pengajar epigrafi senior. Namun sejak Mei 1991 beliau meninggalkan kita untuk selama-lamanya karena sakit.

Boechari sudah lebih dari 30 tahun berkecimpung di dunia epigrafi. Dunia yang dipandang paling sulit oleh kebanyakan mahasiswa arkeologi. Jangan heran kalau sampai kini jumlah epigraf di seluruh Indonesia masih minim.

Dalam perbincangan terakhir dengan Boechari Maret 1991 lalu, beliau mengatakan kalau saja kita mau bersungguh-sungguh, betapapun sulitnya suatu ilmu pengetahuan, pasti akan bisa dipelajari. Ada dua bekal yang harus dipenuhi, yaitu pengetahuan arkeologi dan linguistik. Bekal lain adalah ketekunan, ketelitian, dan kesabaran.

Bekal seperti itulah yang belum dimiliki para mahasiswa arkeologi. ‘Pak Boechari heran mengapa tidak ada mahasiswa yang menekuni epigrafi, padahal dulu dalam ujian sarjana pengetahuan epigrafi merupakan mata kuliah wajib,’ katanya.

Semula Boechari mengharapkan dua nama yang bakal menggantikannya. Mereka adalah Edi Sedyawati dan Hasan Djafar. “Dari banyak kelas, Edi merupakan murid terpandai,” begitu cerita Boechari. Namun ketika Edi diminta belajar epigrafi, dia bilang ngeri. Eh, malah belajar tari.

Hasan Djafar dinilai ulet, teliti, dan pandai. Dalam ujian sarjana, Hasan hampir memperoleh nilai maksimum. Tetapi ketika disuruh megang prasasti, Hasan hanya nyengir.

Menurut Boechari tahun 1980-an minat mahasiswa terhadap epigrafi mulai meningkat. D.S. Setyawardhani tadinya akan diorbitkan. Karena nilai skripsinya bagus, dia diangkat menjadi asisten Boechari. Namun ketika disekolahkan ke luar negeri, dia malah kecantol mahasiswa Indonesia yang juga bersekolah di sana, Dami S. Toda.

Gagal memikat D.S. Setyawardhani, harapan kemudian ditumpukan kepada Richadiana Kartakusuma, Titi Surti Nastiti, I Gusti Ngurah Tara Wiguna, Ninie Susanti, Agus Aris Munandar, dan Rita Fitriati. Dari sejumlah nama itu, Boechari berharap besar dari Ninie Susanti, Agus Aris Munandar, dan Rita Fitriati. Ketiganya memang menjadi pengajar di Jurusan Arkeologi UI.

Boechari menilai Ninie sangat tekun. Lagi pula perhatiannya kepada epigrafi sangat besar. Mudah-mudahan saja dia bisa menggantikan saya, begitu Boechari berharap sekali.

Agus Aris Munandar dianggapnya sangat cerdas. Hanya dia masih belum bisa menentukan pilihan, mau ikut dirinya atau ikut Hariani Santiko, pengajar Kepurbakalaan Indonesia. Tentang Rita Fitriati dikatakannya potensial, hanya kini masih mendalami bahasa Sansekerta di luar negeri.

Selain di UI, menurut Boechari, ketika itu di UGM pun sebenarnya ada seorang peminat epigrafi. Sayangnya, dia kuliah di dua tempat. Ketika lulus, si mahasiswi itu mendapat predikat cum laude. Namun dia lebih memilih mengajar di PTS ketimbang mendalami epigrafi.

Boechari mengatakan untuk menghasilkan peminat epigrafi, jurusan-jurusan arkeologi di Indonesia menetapkan Pengantar Epigrafi sebagai mata kuliah wajib. Ini sudah berjalan baik.


Teori

Selama hidupnya Boechari banyak melontarkan pendapat dan teori ke dunia ilmiah. Salah satu kerja kerasnya yang terkenal adalah pembacaan sebuah kata dari prasasti Kedukan Bukit. Disebutkan bahwa Dapunta Hyang datang di suatu tempat bernama ma…….Karena hurufnya sudah usang, maka muncullah berbagai tafsiran.

G. Coedes membacanya matayap. Menurut N.J. Krom adalah malayu, sementara Slametmuljana menganggap matadanau. Boechari dengan yakin mengatakannya mukha upang. Ternyata nama upang memang dijumpai di peta-peta kuno dan masih ada sebagai nama sebuah desa kecil di sebelah timur laut Palembang, di tepi sungai Upang.

Sebelumnya Boechari pernah mengemukakan teori tentang asal-usul wangsa Sailendra di Indonesia. Teori itu dimaksudkan untuk meruntuhkan teori-teori sarjana asing. R.C. Majumdar, sarjana India, menganggap wangsa Sailendra berasal dari Kalingga di India Selatan. Nilakanta Sastri, juga sarjana India, menduga dari Pandhya di India Selatan.

G. Coedes, sarjana Prancis, lebih condong berpendapat wangsa Sailendra berasal dari Funan atau Kamboja. J.L. Moens, sarjana Belanda, mendukung pendapat kedua sarjana India itu.

Namun berdasarkan prasasti Sojomerto, Boechari menyimpulkan bahwa wangsa Sailendra berasal dari Indonesia. Dasarnya adalah penyebutan nama Selendra yang jelas merupakan ejaan Indonesia dari kata Sansekerta Sailendra.

Teori-teori yang dikemukakan Boechari sering menjadi acuan para sarjana. Kesungguhan Boechari untuk menekuni dunia epigrafi telah membuahkan banyak hasil. Yang menjadi pertanyaan mampukah generasi muda arkeologi berprestasi seperti Boechari?

Artikel Terkait:
Boechari, Berburu Batu Dapat Doktor

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: