Oleh: hurahura | 11 Mei 2011

Dominik dan Mai Lin – Konsistensi Menguak Kejayaan Indonesia

KOMPAS – Kamis, 5 Mei 2011 – Pasangan arkeolog Prof Dr Dominik Bonatz dan sejarawan (“art historian”) Dr Mai Lin Tjoa-Bonatz adalah ilmuwan sejati yang sejak 15 tahun terakhir berupaya menguak kejayaan sejarah Indonesia di masa lampau.

Sejak 1996 pasangan suami istri ini meneliti lapangan dan penggalian arkeologis pada sejumlah kawasan yang diduga sebagai situs megalitik di Nias, Sumatera Utara; Kerinci, Jambi; dan Tanah Datar, Sumatera Barat.

Mulai 2003, anak pertama mereka, Sophie Bonatz (8), yang kala itu baru berumur delapan bulan, diajak serta mengikuti penelitian arkeologis di Danau Kerinci, Jambi. Bahkan, selama empat tahun terakhir anak kedua, Philipp Bonatz (4), yang lahir di Berlin, Jerman, pun diikutkan dalam setiap penelitian arkeologis atau ekskavasi di sejumlah negara.

Suriah, Lebanon, dan Indonesia adalah negara-negara di mana mereka mengaplikasikan ilmunya yang sudah berbuah puluhan publikasi berupa buku dan artikel ilmiah. Saat ini Dominik adalah ketua tim ekskavasi arkeologis pada kawasan Fakhariye di Suriah dan di Kabupaten Tanah Datar.

Ekskavasi terakhir yang dibiayai Pemerintah Jerman di Jorong Bukit Gombak, Nagari Baringin, Kecamatan Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar, pada rentang 16 Maret-15 April berhasil menemukan sejumlah peninggalan yang diduga kuat dari masa kejayaan Raja Adityawarman. Sejumlah temuan, seperti gerabah, manik-manik berbahan kaca aneka warna, sejumlah mata kapak genggam dari batu, tempat pemandian dan sumur kuno, bekas struktur bangunan, tutup wadah perunggu, serta keramik China dari masa Dinasti Song dan Dinasti Ming ditemukan pada dataran tinggi yang diduga sebagai pusat kerajaan kala itu.

Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar Budi Istiawan mengatakan, Dominik memang bukan arkeolog pertama yang melakukan penelitian di situs tersebut. Setidaknya penelitian pernah dilakukan ahli literatur, sejarah, dan budaya dari negara-negara di subkontinen India dari Jerman bernama Hermann Kulke, arkeolog Indonesia Bambang Budi Utomo, dan filolog asal Belanda JG de Casparis. “Tapi memang baru kali ini dilakukan penelitian dan penggalian secara besar-besaran dan lama,” kata Budi.

Dominik yang kerap membawa mahasiswanya melakukan ekskavasi ke sejumlah kawasan di Suriah dan Lebanon menyebut berbagai situs arkeologis di Indonesia sebagai hasrat dan ketertarikannya yang paling besar.

Tahun 1998 ia bertemu para peneliti di London yang bercerita soal banyaknya peninggalan megalitik di Kerinci. Mulailah ia melakukan riset pada 2002 dan selama 2003-2008 ia bersama Mai Lin dibiayai lembaga Swiss Liechtenstein Foundation.

“Kami lalu melakukan ekskavasi untuk menemukan konteks antara Kerinci dan Kerajaan Sriwijaya serta Kerajaan Melayu,” kata Dominik.


Sulit meyakinkan

Mai Lin mengatakan, apa yang mereka jalani sekarang dengan penelitian skala raksasa berbiaya besar tidak datang dengan gampang. Kesulitan melakukan ekskavasi seperti itu, khususnya ketika mencari dana. “Kami juga sempat mendapatkan tentangan ketika maju dengan proposal ekskavasi di Tanah Datar. Ada pertanyaan-pertanyaan, seperti kenapa harus orang Jerman yang mengurusi soal peninggalan arkeologis di Indonesia,” tuturnya.

Hal itu, lanjut Mai Lin, cukup wajar mengingat hingga kini studi arkeologi di negara-negara Asia Tenggara bukanlah yang lazim dilakukan universitas-universitas di Jerman. “Kami lalu berusaha meyakinkan Pemerintah Jerman sebagai donor bahwa penelitian ini juga penting. Penting bagi kita (Jerman), penting bagi Indonesia untuk bisa memahami keterkaitan sejarahnya,” katanya.

Khusus bagi komunitas peneliti, Mai Lin dan Dominik berjuang pada forum Konferensi Internasional ke-13 The European Association of Southeast Asian Archaeologists. “Ini penting juga buat kami. Penting dan harus dikembangkan,” kata Mai Lin.


Dimulai dari Nias

Menurut Mai Lin, kecintaan mereka pada situs arkeologis di Indonesia yang berbau peninggalan megalitik diawali saat kunjungan ke Pulau Nias tahun 1996. “Ketika itu kami sedang berbulan madu,” kata Mai Lin yang sejak 1987 sudah bersahabat dengan Dominik.

Sejak itulah keduanya tidak terpisahkan untuk bekerja sama. “Kami berdua tak bisa pisah. Saya tak bisa melakukan apa yang Dominik lakukan. Demikian juga Dominik,” kata Mai Lin.

Dominik yang arkeolog dan Mai Lin yang sejarawan sama-sama tertarik dengan situs megalitik di Indonesia untuk menemukan konteks kesejarahan dan interaksi politiknya dengan masa kini. Maka, pada tahun 2000 mereka memulai penelitian arkeologis di Nias dengan tujuan menemukan bentuk-bentuk kesenian tradisional dan statusnya dalam konteks kini.

Setelah itu mereka beralih ke Kerinci sembari membawa Sophie yang dilahirkan di Freiburg, Jerman, delapan bulan sebelumnya. “Kami menemukan permukiman kuno dan lokasi potensial untuk melakukan ekskavasi berikutnya,” kata Mai Lin.

Sejak saat itu, nyaris setiap tahun Mai Lin yang disertasinya membahas soal arsitektur di Penang, Malaysia, kembali ke Kerinci bersama Sophie dan Dominik. Setelah Philipp lahir, kesibukan mereka pun bertambah.

Di setiap negara di mana pasangan ini melakukan ekskavasi atau penelitian arkeologis, Sophie dan Philipp dititipkan pada seorang guru yang dipanggil ke rumah.

Sembari menunjukkan foto-foto Sophie yang tengah mementaskan tari piring khas Minangkabau, Mai Lin mengatakan jika sedang berada di luar negeri ia tidak terlalu menerapkan jadwal ketat pada kedua anaknya. “Tentu akan lebih ketat bila kami sedang di Berlin,” kata Mai Lin yang ayahnya berasal dari Surabaya, Jawa Timur, ini.

Mai Lin mengatakan, apa yang dijalaninya bersama Dominik memang nyaris mustahil bagi orang lain. “Tentu ayah saya juga tidak mengerti apa yang kami lakukan ini. Ayah saya seorang insinyur, sementara ayah Dominik profesor di bidang arsitektur,” katanya.


PROF DR DOMINIK BONATZ

* Lahir: Frankfurt, 2 Januari 1966
* Pendidikan:
– PhD di Freie Universität Berlin, Jerman
* Pekerjaan:
– Guru besar di Fakultas Ilmu Budaya dan Sejarah, Freie Universität Berlin, Jerman
– Kepala Peneliti The Formation and Transformation of Space and Knowledge in Ancient Civilizations (TOPOI)


DR MAI LIN TJOA-BONATZ

* Lahir: Frankfurt, 27 Maret 1968
* Pendidikan:
– PhD dalam bidang sejarah (art history) jurusan arsitektur di Technischen Universität Darmstadt (TUD), Jerman
* Pekerjaan:
– Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya dan Sejarah, Freie Universität Berlin, Jerman
– Nama anak: Sophie Bonatz dan Philipp Bonatz
* Buku-buku (antara lain):
– Bonatz, D./Kühne, H./Mahmoud, A., Rivers and Steppes. Cultural Heritage and Environment of the Syrian Jezireh. Catalogue to the Museum of Deir ez-Zor, Damaskus (1998)
– Bonatz, D., Das syro-hethitische Grabdenkmal. Untersuchungen zur Entstehung einer neuen Bildgattung im nordsyrisch-südos tanatolischen Raum in der Eisen-zeit, Mainz: Philipp von Zabern (2000)
– Humburg, M./Bonatz, D./Veltmann, C. (Hg.), Im Land der Menschen. Der Missionar und Maler Eduard Fries und die Insel Nias. Bielefeld:Verlag für Religionsgeschichte (2003)
– Mai Lin Tjoa-Bonatz: Vom Hofhaus zum Reihenhaus. Das Shophouse im kolonialzeitlichen Penang, Malaysia, Stuttgart (2003) [Ingki Rinaldi]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: