Oleh: hurahura | 23 Juni 2014

Prasasti Amburadul di Dalam Museum

Amburadul-01Prasasti amburadul di Museum Nasional

Sungguh miris menyaksikan beberapa koleksi prasasti batu di Museum Trowulan atau Museum Majapahit di Mojokerto. Batu-batunya pecah di sana-sini, entah apa penyebabnya. Bahkan ada bagian yang hilang, sehingga sulit dibaca secara keseluruhan. Hanya sebagian aksara masih bisa dikenali oleh para epigraf (ahli membaca aksara kuno). Jelas kerugian besar buat kita sekarang untuk memahami sejarah kuno Nusantara.

Banyak prasasti amburadul juga sejak lama menjadi koleksi Museum Nasional di Jakarta. Artefak-artefak itu terdapat di lorong kiri dan kanan gedung lama. Selain terpotong-potong atau terpecah-pecah, sebagian besar prasasti dalam kondisi aus dan rusak.

Di antara berbagai koleksi Museum Nasional itu, yang agak baik adalah nasib Prasasti Prapancasarapura dari daerah Surabaya. Ketika ditemukan, bagian atas prasasti sudah tidak ada lagi.

Diduga kuat sengaja dipangkas karena patahannya merata. Bisa jadi batu besar tersebut akan dijadikan potongan balok-balok batu yang lebih kecil. Terlihat bagian tulisannya sudah ditandai dengan dua pahatan garis melintang dan membujur sehingga sebagian tulisan menjadi rusak. J.L.A Brandes (1913) pernah mengalihaksarakan prasasti itu, tapi masih tidak lengkap.


Jawa Kuno

Umumnya prasasti merupakan perintah raja dan dituliskan pada bahan yang awet. Dengan demikian, perintah sang raja itu tidak mudah hilang bersama berlalunya waktu. Prasasti banyak dikeluarkan pada masa Jawa Kuno, dari abad ke-9 hingga ke-15 Masehi. Bahan yang digunakan adalah batu (gopala prasasti) dan juga logam (tamra prasasti).

Dibandingkan prasasti batu yang berukuran besar, rata-rata prasasti logam berbentuk relatif kecil sehingga mudah disimpan. Bahkan hurufnya tidak mudah rusak atau aus. Prasasti logam umumnya dipelihara dan dirawat dengan baik oleh ahli waris pemilik prasasti. Banyak prasasti tembaga, misalnya, ditemukan masih dalam keadaan relatif baik. Huruf pada prasasti masih jelas dan mudah terbaca.

Sebaliknya banyak prasasti batu hurufnya tidak terbaca lagi. Yang ironis, ada prasasti batu yang terpenggal menjadi beberapa bagian, bahkan ada yang pecah berkeping-keping.

Ada berbagai penyebab kerusakan prasasti, antara lain sengaja digodam oleh masyarakat sezamannya. Hal ini dialami Prasasti Pereng (856 M), temuan dari Bukit Ratu Baka. Ketika pertama kali dijumpai, prasasti tersebut sudah dalam keadaan berkeping-keping.


Kerusakan Aksara

Penyebab kerusakan lain adalah karena batunya lapuk (usang) dan disengaja karena konflik antar kerajaan (perang). Prasasti-prasasti dari masa raja Airlangga kebanyakan mengalami nasib demikian. Prasasti Truneng (Turun Hyang) dari masa akhir pemerintahan Airlangga, hancur lebur dalam keadaan rebah sehingga sulit dibaca ulang.

Tempat-tempat temuan prasasti batu yang aksaranya aus, menurut tafsiran arkeolog Prof. Dr. Agus Aris Munandar, adalah wilayah yang diperkirakan pernah menjadi area konflik zaman Airlangga. Lamongan dan Jombang bagian utara merupakan wilayah pengembaraan, jelajah, dan tempat-tempat pertempuran Airlangga ketika harus menundukkan sejumlah kerajaan yang belum mengakui kekuasaannya. Di tempat itu ditemukan banyak prasasti yang aus. Prasasti-prasasti batu Airlangga yang relatif utuh, ditemukan di luar wilayah Lamongan selatan dan Jombang. Di kedua wilayah tersebut banyak prasasti yang bercirikan batu prasasti Airlangga meskipun aksaranya hilang.

Di masa silam semua pembesar kerajaan yang kalah akan dihukum mati, dibuang, dipenjara, kecuali segera menyatakan sumpah setia kepada penguasa baru. Agaknya hal demikian juga terjadi dan diterapkan dalam konflik dan peperangan antar kerajaan pada masa Jawa Kuno. Dengan demikian prasasti-prasasti batu yang dikeluarkan oleh seorang raja akan menjadi salah satu sasaran penghancuran oleh raja pemenang jika saja terjadi peperangan.

Prasasti umumnya dapat dipandang sebagai tanda kebesaran seorang raja yang berkuasa, perintah raja yang harus ditaati hingga akhir zaman, merupakan bukti kekuasaan dan kewibawaan raja, sebagai penanda wilayah yang dikuasai oleh seorang raja pembuat prasasti, dan merupakan dokumen struktur kuasa pejabat.

Dengan demikian dapat dipahami apabila sekarang banyak prasasti batu dari masa Jawa Kuno telah aus aksaranya. Sangat mungkin keausan tersebut bukan karena perbuatan alam (angin, panas, dan hujan), melainkan sengaja diauskan, dipupus atau digerus aksaranya sehingga tidak bisa dibaca lagi. Yang melakukan pengggerusan aksara pada prasasti batu adalah pihak pemenang yang tidak suka lagi kepada keputusan-keputusan atau perintah raja atau dinasti raja yang dikalahkannya.

Biasanya dalam prasasti-prasasti juga dicantumkan sejumlah kutukan (sapatha) bagi siapa yang berani melanggar perintah sang raja atau malah merusak batu prasasti tersebut. Untuk memusnahkan “kesaktian” kutukan maka aksara pada permukaan prasasti harus lenyap semuanya. Jika demikian jadinya maka batu prasasti itu menjadi batu yang kosong tanpa aksara. Tidak salah kiranya apabila kemudian diduga sebagai batu calon prasasti.

Pemusnahan simbol kuasa raja tersebut agaknya tidak cukup hanya dengan pengikisan aksara pada batu prasasti, malah banyak prasasti yang kemudian dipecahkan menjadi dua bagian atau dipecahkan berkeping-keping menjadi beberapa bagian. Banyak fragmen prasasti batu yang ditemukan, menunjukkan bahwa batu prasastinya memang telah dipecahkan. Contoh yang terkenal adalah Prasasti Arca Camundi yang dikeluarkan oleh Raja Krtanagara. Mungkin karena begitu dahsyatnya kekuatan magis prasasti batu itu, maka perlu diremukkan berkeping-keping oleh pihak yang membenci Krtanagara. Mungkin sekali atas perintah Jayakatwang yang menurut Mpu Prapanca dipandang sebagai mitra drohaka.

Pengrusakan terhadap simbol-simbol kerajaan yang kalah oleh pihak kerajaan pemenang memang layak dilakukan untuk menunjukkan keunggulan pihak pemenang. Ketika peperangan kerap kali terjadi, maka terjadi pula penghapusan pada simbol-simbol dan pembentukan simbol-simbol baru. “Dalam pertalian dengan berbagai peperangan yang terjadi itulah, maka banyak prasasti batu dari pihak raja yang kalah akan dipupus secara sengaja oleh pihak kerajaan pemenang,” kata Agus lagi.

Meskipun demikian terdapat pula prasasti-prasasti batu yang ditemukan masih dapat dibaca dengan baik, walaupun dari masa yang sangat jauh di belakang era peperangan antar kerajaan. Misalnya beberapa prasasti dari Raja Pu Sindok (abad ke-10) yang masih bertahan hingga sekarang. Agaknya seorang raja yang dipandang berkharisma, prasasti-prasastinya akan tetap ditaati sampai waktu yang lama.

Batu yang digunakan untuk memahat prasasti, kebanyakan batu andesit. Batu sungai ini tergolong tahan lama, sebagaimana tercermin dari bangunan-bangunan candi. Namun untuk wilayah geografis tertentu, prasasti terpahat dari batu kapur atau batu karang. Batuan jenis ini tergolong lebih lunak dibandingkan batu andesit. Prasasti yang aus diketahui memakai jenis batuan ini. Pada prasasti tersebut jelas adanya tanda-tanda aksara, namun karena fisiknya aus, aksaranya menjadi tidak terbaca. (Djulianto Susantio)


Galeri Foto:

Prasasti-amburadul01Prasasti amburadul koleksi Museum Trowulan

Prasasti-amburadul02Meskipun sudah disambung, aksara pada prasasti
ini tetap tidak dapat dibaca secara utuh

Iklan

Responses

  1. Jika bnr prasasti2 dirusak oleh pmnang..dst hrus ada bukti naskah braksara kuno brisi kalimat yg mmbritahukn adanya pngrusakn prasasti2 pd tahun n abad pngrusakn trjadi krn prasasti itu salah 1 bnda,sumbr pnting ‘eksistensi/kbradaan pmrintahn krajaan. Tdk adanya bukti itu n lantas ‘brksimpulan’..dirusak oleh pemenang..dst itu disebut dgn istilahnya ‘logical error’ in archeology, epygraphy. Pinter2 keblinger logikanya tendensius emosional itu bukn ‘etika’ archeology.

  2. Ada saja ahli2 slalu mmakai catatan,laporan n atau sumbr sjarah yg dibuat oleh ahli2 pnjajah2 itu melanggar ‘etika’ lainya yaitu tdk adanya kmandirian/independency in archeology, hrusnya tliti,dsb n mmbuat sumbr rujukan sndiri krn itu sejarah bangsa sndiri ,semisal sbagian sumbr rujukn sndiri yg dibuat masih ada ksalahan itu adalah bagian dr proses penelusuran plurusan sjarah sbnrnya yg trus mnrus di ‘update’ sehingga sampai pd suatu sumbr rujukn ‘lengkap’ yg dpt diprtanggungjawabkn scara ilmiah minimalnya n bisa dimasukn dlm ‘kurikulum smntara’ sambil ttap trus mniliti,dsb ditmukan bukti2 baru pninggalan.

  3. Brksimpulan bahwa ditmukanya prasasti brangka tahun n jnis aksaranya brarti aksara tsb brasal dr abad ‘trtntu’ n dimulainya adanya prtama kali budaya tulis menulis, itupun logical error. Org2 yg bukn ahli adalah wajar brpndapat n ataupu brksimpulan sbagai ‘kreatifitas’ entah itu konstruktif atau dstruktrif namun org2 yg brkapasitas sbagai ahli2 tntunya tdk boleh brksimpulan brpndapat dgn tndnsius emosional n ‘ego’ tanpa diverifikasi dgn bukti2 pnguat krn konsekuensi nanti mngarah pd ‘penyesatan sjarah’ scara masif trhdap publik.

  4. Sbnrny jika ‘sdikit mnoleh’ adalh bukn rahsia umum lg bahwa ahli2 pnjajah adlh ‘org2 pilihn’,crdas dibidang msg2,dibawa,dibekali,di ‘dokrin’ superioritas’ n disumpah setia mngabdi kpd pmrintahan2 krajaan2/rpublik serikat dgn brmcm2 ‘modus operandi’ utk ‘mmanipulasi'(mnambah,mngurangi,mnghpus,mngganti) bukti2 fisik n non fisik sjarah sbnrnya dr bangsa2 yg dijajah apalagi trhdap bangsa ‘ rangkaian zamrud katulistiwa’/nusantara indonesia. Mrk juga mlakukn ‘pretending research expeditions on archeology’/ekspdisi pnilitian pura2/tdk utk mluruskn sjarah sbnrnya n apa adanya. Smua itu ‘secret project’ brujung utk mnguasai dunia.

  5. Juga mrampas,mmbawa,mnyimpan n mnjaga ketat banyak braneka mcm bukti2 asli pninggalan ke dan di negara2 pnjajah. Pninggalan apapun yg sudah ‘dijamah’ ahli2 pnjajah n sngaja ditinggalkn n atau tdk dibawa,dipastikn tlah ada sbagian n atau sluruhnya tlah di manipulasi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: