Oleh: hurahura | 1 September 2010

Desa Pembangun Stonehenge

Para arkeolog menemukan pemukiman kuno yang luas, yang digunakan oleh orang-orang yang membangun monumen megalitikum Stonehenge.

Penggalian di Tembok Durrington, di dekat monumen yang terletak di Dataran Salisbury, mengungkapkan sisa-sisa perumahan kuno.

Situs itu tampaknya dihuni secara berkala setiap tahunnya, dan digunakan untuk mengadakan acara jamuan makan ritual dan upacara pemakaman.

Di masa lalu, pemukiman itu dihuni oleh ratusan orang yang membuat temuan itu desa terbesar dari akhir Jaman Batu (Neolitik) yang pernah ditemukan di Inggris.

Desa itu diperkirakan berasal dari tahun 2.600-2.500 Sebelum Masehi – menurut para peneliti pada saat Stonehenge dibangun.

Namun sejumlah arkeolog menyatakan tahun pembangunan Stonehenge sendiri sulit dikukuhkan karena monumen batu itu sudah dibangun kembali berkali-kali.

Namun Profesor Mike Parker Pearson dari Universitas Sheffield dan timnya yakin Stonehenge dan temuan desa itu memiliki kaitan.

“Di tempat yang dulu adalah rumah, kami menemukan garis bentuk lantai bekas tempat tidur kotak dan lemari kayu,” katanya.


Peneliti dari Universitas Sheffield itu mengatakan hal ini karena rumah-rumah itu memiliki tata ruang yang sama dengan perumahan dari akhir Jaman Batu di Skara Brae, Orkney, Inggris, yang masih terpelihara hingga kini karena – berbeda dengan rumah-rumah di dekat Stonehenge itu – dibangun dari batu.

Para peneliti menggali delapan rumah di Durrington. Namun mereka juga mengidentifikasi beberapa tempat yang kemungkinan juga pemukiman.

Mereka menduga diperkirakan di desa itu terdapat setidaknya 100 rumah.

Masing-masing rumah berukuran sekitar 5 m persegi, dibuat dari kayu dengan lantai tanah liat dan tungku di tengah rumah. Para arkeolog menemukan sampai berusia 4.600 tahun di lantai beberapa rumah.

Profesor Parker Pearson mengatakan kepada BBC: “Kami belum pernah melihat sisa-sisa gerabah, tulang belulang hewan dan batu api sebanyak itu.”

Peneliti dari Universitas Sheffield itu menilai tempat pemukiman itu kemungkinan tidak dihuni sepanjang tahun. Dia yakin Stonehenge dan Durrington adalah bagian dari satu kompleks keagamaan yang digunakan dalam upacara pemakaman.

Menurut Profesor Pearson tempat itu didatangi oleh orang-orang yang hidup di seluruh kawasan itu pada akhir Jaman Batu, yang datang untuk menghadiri jamuan makan keagamaan di tengah musim dingin.

“Sampah yang dibuang bukan sampah rumah tangga sehari-hari,” kata Pearson.

“Tulang hewan dibuang dari makanan yang belum habis disantap. Mereka datang ke tempat ini untuk berpesta.”


Bersantap

Durrington memiliki bangunan berbentuk lingkaran, yang mirip dengan Stonehenge tetapi terbuat dari kayu. Bangunan pra sejarah itu ditemukan pada tahun 1967.

Kedua bangunan lingkaran itu sejajar dengan kejadian di kalender astronomi – tetapi pada saat yang berbeda.

Stonehenge sejajar dengan posisi matahari terbenam di tengah musim dingin, sementara lingaran kayu di Durrington sejajar dengan posisi matahari terbit di tengah musim dingin. Keduanya saling berkaitan.

Ini sepertinya tepat dengan kebiasaan festival di tengah musim dingin, yang juga diperkuat oleh analisa gigi babi yang ditemukan situs itu.

“Salah satu yang kami dapati dari gigi babi yang ditemukan adalah kebanyakan dari hewan itu disembelih pada usia sembilan bulan.”

“Hewan kemungkinan disembelih di tengah musim dingin dan ini berhubungan dengan kejadian di Durrington dan Stonehenge.”


Monumen sakral

Profesor Parker Pearson yakin bahwa bangunan lingkaran di Durrington digunakan untuk merayakan kehidupan orang yang meninggal dan jenasah dihanyutkan di sungai dapal perjalanan ke alam baka.

Stonehenge adalah tugu peringatan dan tempat peristirahatan sebagian arwah mendiang.

Pearson berpendapat, setelah berpesta, orang-orang pergi lingkaran kayu untuk mengantarkan jenasah ke Sungai Avon yang mengalir menuju Stonehenge.

Mereka kemudian berjalan menuju Stonehenge, tempat mereka membakar dan menguburkan jenasah.

Arkeolog Universitas Sheffield mengatakan Stonehenge adalah tempat orang-orang datang untuk berbicara dan memuja arwah nenek moyang mereka.

Namun tidak semua arkeolog setuju: “Bagi saya, Stonehenge adalah monumen tentang kehidupan,” kata arkeolog Julian Richards kepada BBC.

Dr Andrew Fitzpatrick dari Wessex Archaeology, yang bukan anggota tim peneliti, mengatakan: “Dalam beberapa tahun belakangan tidak banyak penggalian di dekat Stonehenge dan temuan baru ini akan mendorong munculnya teori-teori baru dalam beberapa tahun ke depan.”

“Tetapi kita jangan melupakan bahwa Stonehenge menjadi monumen yang istimewa ketika orang membawa batu-batu raksasa itu dari Wales, sekitar 250 km dari tempat berdirinya. Beberapa jawaban tentang Stonehenge tidak cuma ada di Durrington, tetapi di tempat lain yang lebih jauh.”

Stonehenge adalah tempat pemakaman terbesar di Inggris pada saat itu, dengan sekitar 250 abu kremasi.

Di daerah yang lain, menjauh dari Tembok Durrington, Julian Thomas dari Universitas Manchester menemukan dua rumah lain dari akhir Jaman Batu. Tetapi rumah-rumah itu bersih dari sampah.

Tim peneliti menduga rumah-rumah itu sengaja dijaga agar bersih. Tempat itu kemungkinan adalah kediaman para pemuka masyarakat, atau kemungkinan dianggap situs sakral, tempat upacara keagamaan dilakukan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori