Oleh: hurahura | 13 Juli 2012

Kampung Arab di Pekojan (1)

Warta Kota, Kamis, 12 Juli 2012 – Selain orang Cina, orang Arab merupakan golongan minoritas terpenting kedua di Batavia. Sayang, kajian historis atas orang Arab masih sedikit. Mungkin karena jumlah mereka dibandingkan orang Cina dianggap kecil.

Di Batavia, kampung Arab ada di Pekojan. Orang sering juga menyebutnya “Kawasan Moor”, terletak antara Ammanusgracht (Jalan Bandengan Selatan) dan Bacherachtsgracht (Jalan Pekojan). Permukiman ini mulai muncul pada abad ke-17. Namanya berasal dari Koja, sebutan bagi para pendatang dari Gujarat. Selanjutnya, istilah itu digunakan juga oleh orang-orang yang berasal dari pesisir Coromandel dan Malabar. Gujarat, Coromandel, dan Malabar terletak di India. Beberapa masjid tua masih terdapat di Pekojan, berasal dari masa 1648 hingga 1750, tapi beberapa rumah Moor telah hancur.

Dulu memang pemerintah kolonial mengeluarkan aturan bahwa etnis-etnis tertentu dikelompokkan pada wilayah-wilayah tertentu. Meskipun begitu, banyak orang Arab kelas bawah keturunan campuran berhasil menetap—tentu saja secara ilegal—di luar Pekojan. Pada akhir abad ke-19 beberapa orang Arab berhasil tinggal di tengah-tengah orang Eropa dan Indo di pinggiran Krukut dan Tanah Abang. Rumah mereka besar dan bagus seperti milik orang-orang Eropa. Sisanya bertebaran di kampung-kampung pribumi. Setelah penghapusan sistem permukiman pada 1919, sebagian besar orang Arab dari kawasan Pekojan yang terlalu padat, pindah ke Krukut, Petamburan, dan Tanah Abang. Dari sana, populasi Arab juga menyebar ke daerah-daerah lain, seperti Sawah Besar, Jatinegara, dan Tanah Tinggi (Jakarta Batavia: Esai Sosio-Kultural, 2007).

Pada awal abad ke-19 tercatat sekitar 400 orang Arab dan Moor tinggal di Batavia. Jumlah orang Arab secara eksplisit baru disebutkan pada 1859, yakni 312 orang. Pada 1870 jumlah mereka berlipat tiga kali lebih. Pada 1885 Batavia menampung 1.448 penduduk Arab, 972 di antaranya lahir di Hindia Belanda. Antara 1900-1930 minoritas Arab bertambah dari 2.245 menjadi 5.231. Menurut sensus 1930, minoritas Arab telah berkembang menjadi sebuah komunitas mapan. Kalau tadinya jumlah komunitas Arab terbesar terdapat di Surabaya, sejak sensus itu komunitas terbesar beralih ke Batavia.

Kedatangan orang Arab dari Hadramaut terjadi sejak pembukaan Terusan Suez pada 1869. Kaum pendatang itu umumnya laki-laki. Mereka kemudian menikah dengan perempuan setempat. Hingga pendudukan Jepang, para pendatang tetap memelihara hubungan rapat dengan kerabat mereka di Hadramaut. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori