Oleh: hurahura | 30 Desember 2012

Rumah Betawi Semakin Menghilang (1)

100_1025Tim peneliti sedang mengamati rumah berciri Betawi di Rorotan

Warta Kota, Kamis, 27 Desember 2012 – Rumah tradisional Betawi semakin menghilang. Kalaupun masih tersisa, kondisi rumah semakin mengkhawatirkan. Kalau tidak segera dikonservasi, dipastikan rumah tersebut akan ambruk dengan sendirinya. Kebanyakan rumah tradisional Betawi dimiliki oleh golongan pas-pasan, seperti pekerja serabutan atau buruh kasar.

Salah satu rumah Betawi yang terdapat di daerah Rorotan, Cilincing (Jakarta Utara) merupakan contoh nyata kegalauan tersebut. Bocor ketika hujan, kayu semakin kapuk, dan genteng banyak pecah teramati jelas oleh tim Pelatihan Inventarisasi Kerusakan Kayu dengan inspeksi teknis pada rumah tradisional Betawi. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Balai Konservasi, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta pada 16-17 Desember 2012.

Rumah Betawi di Rorotan itu satu-satunya yang terselamatkan, sekarang dimiliki oleh Sarbinih (47 tahun). Rumah-rumah sejenis lainnya tergusur oleh pembangunan Kanal Banjir Timur. Ukuran rumah 5 m x 9 m. Sebagian besar didominasi oleh material kayu. Tiang rumah menggunakan kayu kuda-kuda. Penahan genteng menggunakan bambu bulat dan pengganti kayu reng adalah bambu yang dibelah. Dinding memakai tripleks.

Menurut Sarbinih, rumah tersebut dibangun oleh kakeknya. Ciri-ciri Betawi amat menonjol terutama pemakaian papan. Pada zamannya, rumah tersebut tergolong mewah. Apalagi bagian depan dibuat dari bata berukuran besar. Lantai menggunakan ubin abu-abu berukuran 20 cm x 20 cm. Semua bahan masih asli, sedikit pun tidak diubah oleh pewarisnya. Ketika itu kakek Sarbinih menjadi mandor, bisa disamakan dengan lurah sekarang. Rumah-rumah warga lainnya hanya menggunakan gedeg atau bilik, yang tentu saja kualitasnya lebih rendah daripada rumah kakek Sarbinih. Menurut Sarbinih, dulu jalan di depan rumahnya dikenal sebagai jalan kerbau karena seperti kubangan. Namun sekarang letak rumahnya lebih rendah dari jalan raya penghubung Cilincing dengan Cakung.

Beberapa arkeolog, antropolog, dan arsitek yang mengunjungi rumah tersebut sangat menyayangkan kondisi rumah Sarbinih. Gejala kerusakan struktur/mekanis (misalnya retak dan pecah) dan gejala kerusakan fisik/kimiawi (misalnya keropos dan lembab) ada di mana-mana. Sekadar untuk membantu perawatan, Kepala Balai Konservasi Candrian Attahiyyat memberikan sedikit sumbangan dana. Kita harapkan bangunan tersebut bisa bertahan selama beberapa waktu, sebelum adanya upaya pelestarian yang lebih terarah. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: