Oleh: hurahura | 11 April 2012

Pengelola Museum Harus Kreatif dan Inovatif

Oleh: Djulianto Susantio

Sinar Harapan, Selasa, 10 April 2012 – Sampai kini pandangan masyarakat terhadap museum masih belum meningkat. Museum baru mendapatkan pemberitaan gencar di media massa, justru kalau ada masalah-masalah negatif. Pada 1980-an Museum Nasional dibobol maling. Media massa pun banyak memberitakan kasus tersebut. Inilah liputan paling sering tentang museum, mengingat Museum Nasional adalah museum terbesar dan terlengkap di Indonesia. Apalagi koleksi yang digondol maling itu merupakan koleksi unik dan langka. Sebelumnya Museum Nasional juga pernah dua kali kebobolan, satu di antaranya oleh penjahat besar yang telah dihukum mati, Kusni Kasdut.

Hikmahnya jelas ada, pemberitaan gencar tersebut mempunyai dampak positif. Tidak lama setelah kejadian, beberapa pihak mengulurkan tangan. Ada yang memberikan bantuan alat-alat keamanan, ada pula yang mendukung dana renovasi. Pada 2009 Museum Radya Pustaka kena musibah internal. Beberapa pemalsuan koleksi arca terjadi di sini. Beberapa pihak pun ikut memberikan sumbangan, baik pendanaan maupun koleksi.

Dua contoh di atas mengesankan bahwa perhatian terhadap museum baru diberikan setelah ada kasus. Ironisnya, ketika tidak ada kasus, museum ditinggalkan masyarakat, termasuk media. Jarang ada yang mau mengunjungi museum, walaupun tiket masuknya terbilang sangat murah. Media pun hanya sekali-sekali mengungkap museum dalam kilasan berita. Kesan kotor, kumuh, seram, dan hal-hal negatif lain memang telah melekat pada museum. Padahal sesungguhnya, tidak semua penilaian tersebut benar. Kini banyak museum sudah berkategori layak kunjung, terutama setelah adanya program Revitalisasi Museum.

Sepatutnya diketahui, di banyak negara museum lebih ditujukan untuk pendidikan bangsa. Kalaupun bersinggungan dengan pariwisata, hal itu merupakan dampak sampingan saja. Di Indonesia museum mempunyai empat tugas pokok, yakni di bidang pemeliharaan, riset, edukasi, dan rekreasi.

Daya tarik museum jelas kalah jauh dibandingkan mal. Jangan heran masyarakat cenderung lebih memilih mal daripada museum sebagai objek rekreasi karena tempat-tempat tersebut dipandang dinamis, bersih, tenang, dan nyaman. Demikian pula dengan taman-taman rekreasi seperti Taman Mini dan Ancol, lebih diminati karena beragamnya fasilitas untuk berbagai usia. Museum biasanya hanya dikunjungi oleh rombongan sekolah yang tengah mengadakan studi wisata atau membuat tugas akhir. Itu pun tidak serta merta membuat para anak didik menjadi tertarik pada museum.


Warisan Kolonial

Perkembangan museum di Indonesia tidak lepas dari adanya masa kolonial. Sebelum kemerdekaan, tujuan pendirian museum yang berkenaan dengan kebudayaan adalah untuk mengenal kebudayaan rakyat jajahan. Sementara pendirian museum yang berkenaan dengan sains adalah untuk mengeksploitasi sumber-sumber kekayaan alam di negara jajahan. Barulah tujuan pendirian museum setelah kemerdekaan adalah untuk kepentingan pelestarian dan pengembangan warisan budaya.

Museum-museum yang berasal dari zaman kolonial, di antaranya Museum Nasional, Museum Radya Pustaka, Museum Geologi, dan Museum Zoologi. Karena itu pada awalnya, konsep penyajian tata pameran berkiblat ke Eropa.

Perhatian pemerintah kepada museum mulai diberikan pada 1948 lewat Jawatan Kebudayaan dalam Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. Perhatian yang lebih serius diberikan pada 1957 ketika dalam Jawatan Kebudayaan dibentuk Bagian Urusan Museum (Luthfi Asiarto, 1999).

Karena masih berusia muda, maka bangunan museum cenderung menggunakan bangunan tua. Dalam arti sejumlah gedung tua, terutama yang berciri kolonial, dialihfungsikan menjadi museum. Misalnya Gedung Stadhuis menjadi Museum Sejarah Jakarta dan rumah tinggal Laksamana Maeda menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Jelas, tadinya bangunan-bangunan tersebut tidak diperuntukkan sebagai museum, makanya tidak bisa memenuhi kriteria bangunan museum modern. Museum-museum yang memanfaatkan bangunan-bangunan lama, masih berdiri sampai sekarang.

Menurut Amir Sutaarga (1962) museum bukanlah semata-mata alat untuk mencegah bahaya kemiskinan kebudayaan suatu bangsa tetapi merupakan suatu lembaga untuk memajukan peradaban bangsa. Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas museum, ’Bapak Permuseuman Indonesia’ ini pernah mengusulkan tiga hal. Pertama, jumlah museum ditambah; kedua, museum yang sudah ada diperluas dan diperbaiki; dan ketiga, ada pendidikan khusus untuk tenaga-tenaga museum.

Pembangunan museum yang monumental dan menarik dengan fasilitas yang modern, tentunya memerlukan dana besar. Hal inilah yang menyebabkan pembangunan museum dilakukan secara bertahap. Pada era pembangunan nasional, di setiap ibu kota provinsi didirikan museum negeri provinsi.


Dinamis

Museum merupakan lembaga yang dinamis. Selain sebagai tempat pelestarian, museum adalah lembaga pendidikan nonformal, sumber data penelitian, dan bagian dari industri budaya/pariwisata. Pasca otonomi daerah, museum dikembangkan dengan paradigma baru.

Sejak lama museum memang ditujukan menjadi objek yang rekreatif edukatif. Pada 2010 Direktorat Permuseuman, mencanangkan Tahun Kunjung Museum (TKM). Tujuan TKM adalah memperbesar jumlah pengunjung museum, juga meningkatkan apresiasi dan kepedulian masyarakat terhadap warisan budaya bangsa.

TKM merupakan sebuah momentum awal untuk memulai Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM) yang berlangsung hingga 2014. GNCM adalah upaya penggalangan kebersamaan antar pemangku kepentingan dan pemilik kepentingan dalam rangka pencapaian fungsionalisasi museum, guna memperkuat apresiasi masyarakat terhadap nilai kesejarahan dan kebudayaan. Salah satu kegiatannya adalah Revitalisasi Museum, yang bertujuan mewujudkan museum Indonesia yang dinamis dan berdaya guna sesuai dengan standar ideal pengelolaan dan pemanfaatan museum.

GNCM berlandaskan pada tiga pilar utama permuseuman di Indonesia, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, membentuk kepribadian (karakter) bangsa, serta menanamkan konsep atau memperkokoh ketahanan nasional dan wawasan nusantara.

Banyak informasi ilmu pengetahuan yang bisa digali dari museum. Ada yang bersifat kesejarahan dan kebudayaan. Ada pula tentang iptek dan keilmuan lain. Dengan memeras informasi dari koleksi-koleksi yang ada, maka pengetahuan dan kecerdasan masyarakat semakin meningkat.

Berbagai informasi dan aktivitas di museum juga tengah dikembangkan dalam rangka membangun kepribadian bangsa. Program-program pelatihan yang diselenggarakan sejumlah museum merupakan pengalaman berinteraksi langsung yang memiliki nilai edukasi, daripada sekadar melihat koleksi yang dipamerkan. Pencerdasan bangsa melalui program edukatif kultural yang dilakukan oleh museum, tentu akan berhasil baik jika melibatkan media. Selama ini jelas media merupakan sumber informasi bagi masyarakat dalam memperoleh tambahan pengetahuan.

Azyumardi Azra (2010 dan 2011) pernah mengatakan peranan museum dalam membangun jati diri nasional sangat besar. Museum, menurut Azra, bukan hanya tempat pelestarian, penyimpanan, dan penyajian warisan masa lampau, tetapi sekaligus dapat memainkan peran ke arah peningkatan kehidupan bangsa-negara yang lebih cerdas, dengan kepribadian dan karakter lebih tangguh, sehingga dapat memiliki ketahanan nasional dan pandangan komprehensif tentang wawasan nusantara.

Pada dasarnya museum merupakan tempat pelestarian, bukan hanya secara fisik, tetapi dalam sistem nilai dan norma. Tujuan pelestarian adalah agar masyarakat tidak melupakan kekayaan budaya atau tidak mengenal lagi akan kebudayaan mereka.

Sayang keberadaan Museum Nasional saja kurang mendapatkan perhatian, sebagaimana terhadap dua lembaga pelestari lainnya, yakni Arsip Nasional dan Perpustakaan Nasional. Apalagi terhadap museum-museum daerah atau yang lebih kecil. Betapa pun sudah saatnya berkunjung ke museum dimulai dan ditumbuhkan sejak dini. Kita tunggu adanya pengelola museum yang kreatif dan inovatif untuk menghadirkan museum yang lebih edukatif, interaktif, informatif, dan atraktif.***

Penulis adalah anggota
Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia

Iklan

Responses

  1. Ya namanya saja pergaulan dunia internasional, maka tak heran Artefak bisa saja berpindah ke luar negeri.

  2. Museum-museum sudah menunjukkan kemajuan pada masa akhir ini, khususnya museum-museum provinsi. Pemerintah Pusat sudah banyak menggelontorkan anggaran untuk renovasi, program publik,dll. Sejak bergulirnya otonomi Daerah, Museum-museum ex provinsi menjadi asset Pemerintah Daerah. Namun sejak itu timbul permasalahan serius, museum dianggap tempat penyimpanan rongsokan, para pemangku kebijakan yang ditempatkan adalah yang dianggap pantas dimuseumkan alias dihukum.Sehingga Musem exprovinsi itu kembali ketitik nadir sementara staf yang sudah didik oleh Pemerintah Pusat sampai S2 sekalipun meskipun bekerja di Museum itu sendiri dianggap berseberangan, ironis!.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: