Oleh: hurahura | 7 Oktober 2014

Misteri Relief Karmawibhangga dan Stupa Induk

Kalau saja Raffles tidak berminat pada sejarah dan kebudayaan Indonesia, mungkin Candi Borobudur masih diliputi kegelapan. Raffles adalah Gubernur Jendral Inggris di Hindia Belanda (1811-1815). Dia berkedudukan di Jakarta tapi banyak berkeliling Pulau Jawa. Sebagai ilmuwan, Raffles menulis buku History of Java.

Pada 1814 ketika sedang berkunjung ke Semarang, dia mendapat laporan adanya sebuah candi di Desa Bumisegoro dekat Magelang. Karena berapresiasi, dia segera menugaskan Cornelius untuk melakukan penyelidikan. Di sana Cornelius menjumpai adanya sebuah bukit yang ditumbuhi pohon-pohon rindang dan semak-semak belukar. Di antara tumbuh-tumbuhan itu tersembul sejumlah batu berukir.

Dibantu sekitar 200 penduduk desa, Cornelius menebangi pohon, membakari semak belukar, dan menyingkirkan puing-puing bangunan. Hampir dua bulan lamanya mereka bekerja. Namun ujud utuh bangunan masih belum berhasil diketahui.

Pada 1817 hingga 1825 diadakan lagi pembersihan. Baru pada 1835 Borobudur kelihatan sebagai bangunan yang berdiri megah. Hartmann, yang waktu itu menjabat Residen Kedu, berhasil mengubah pemandangan di Desa Borobudur. Desa yang tadinya sepi, sejak adanya Borobudur menjadi ramai. Bahkan, masyarakat sekitar banyak mendapatkan bahan bangunan ideal dari lokasi ini. Maka, untuk menyelamatkan candi ini, pemerintah melakukan usaha pemotretan dan penggambaran tangan. Bahan-bahan inilah yang kemudian diterbitkan oleh Leemans menjadi buku monografi (1873).

Namun Candi Borobudur masih tetap terlantar. Batu-batunya tetap berantakan di halaman. Maka pada 1882 ada sebuah usulan untuk membongkar seluruh bangunan dan memindahkan semua reliefnya ke dalam museum khusus. Tapi usulan itu tidak diterima karena dianggap terlalu berisiko untuk kelestarian bangunan. Sebagai tindak lanjutnya, pada 1900 terbentuk Panitia Penyelamatan Candi Borobudur diketuai Th. Van Erp. Berkat van Erp lah, Borobudur menjadi tersohor, meskipun masih ada kekurangan di sana sini. Pemugaran Candi Borobudur pra-kemerdekaan selesai pada 1911.

Banyak pakar menilai pemugaran van Erp memiliki sejumlah kesalahan prosedur. Lagi pula ketika itu teknik dan peralatan konstruksi, masih belum semaju tahun-tahun pasca-kemerdekaan. Maka pasca-kemerdekaan dilakukan lagi pemugaran terhadap Candi Borobudur. Kegiatan ini berawal tahun 1971. Ketika itu banyak negara yang tergabung dalam UNESCO, bahu-membahu memberikan sumbangan. Lebih dari 20 negara terlibat dalam pemugaran ini. Akhirnya purnapugar Candi Borobudur diresmikan pada bulan Februari 1983.


Karmawibhangga

Sebagai candi terbesar, tentu saja banyak fakta dan misteri menarik tentang Candi Borobudur. Beberapa misteri belum terungkap sampai sekarang, di antaranya persoalan relief Karmawibhangga. Saat ini relief tersebut memang tidak bisa dilihat secara langsung. Lokasi relief ini dikenal sebagai ’kaki tertutup’ Candi Borobudur.

Adanya relief Karmawibhangga diketahui secara tidak disengaja pada 1885. Saat itu Yzerman tengah melakukan penyelidikan. Tiba-tiba ketika sedang membongkar batuan pada salah satu sudut di bagian bawah, Yzerman mendapatkan relief-relief ’aneh’. Itulah yang dikenal sebagai kaki candi asli. Selama ratusan tahun kaki candi asli tertutup oleh batuan kaki candi yang sekarang.

Dari 160 panel relief, 35 panel memiliki inskripsi yang tertera jelas. Selebihnya mungkin sudah dihapus oleh si pemahat. Inskripsi itu ditulis dalam aksara Jawa Kuna dan berbahasa Sansekerta, bunyinya virupa (wajah buruk). Di bawah tulisan memang teramati ukiran sejumlah manusia yang digambarkan berwajah buruk. Mereka sedang merenung menyesali perbuatan mereka sebelumnya yang menyebabkan terjadinya ’hukum karma’. Inskripsi lain bertuliskan abhidhya (suasana tidak menyenangkan), vyapada (keinginan buruk), dan mitthyadrsti (perbuatan palsu).

Kemungkinan, inskripsi-inskripsi pendek itu tidak dipahat oleh satu orang. Berdasarkan pengamatan terhadap bentuk inskripsi, menurut N.J. Krom, paling tidak ada tiga jenis tulisan yang dibuat oleh tiga orang berlainan. Bahkan dari keseluruhan panel, tercermin adanya puluhan gaya pemahatan yang berbeda.

Inskripsi pendek itu kemudian dimanfaatkan untuk meneliti garis besar cara pembuatan candi. Para pakar meyakini pengerjaan dekorasi, seperti hiasan dan relief, dimulai dari bagian puncak bangunan terus ke bawah. Itu sebabnya ukiran dan pahatan relief pada bagian atas Borobudur tampak dikerjakan dengan sempurna. Sementara pada relief Karmawibhangga masih agak ’amburadul’.Mungkin itu pula sebabnya pada relief-relief di bagian atas bangunan tidak ditemukan inskripsi tentang pedoman pemahatan.

Inskripsi pendek itu ternyata dianggap bermanfaat untuk memperkirakan saat pembangunan Borobudur. Berdasarkan perbandingan dengan huruf-huruf Jawa Kuna yang digunakan dalam prasasti-prasasti berangka tahun, maka para pakar menduga bahwa inskripsi itu mirip sekali dengan prasasti-prasasti dari masa akhir abad ke-8 sampai awal abad ke-9 Masehi. Pada saat-saat itulah rupanya Borobudur dibangun.

Sampai kini masih misteri mengapa panel-panel itu ditutup oleh ’kaki tambahan’. Ada dugaan, panel-panel itu terlalu tabu untuk diperlihatkan kepada khalayak. Betapa tidak, pada salah satu panel tergambar adegan aborsi dan pada panel lain tampak beberapa figur sedang direbus hidup-hidup.

Dugaan lain, pada saat proses pemahatan mencapai sisi timur laut, muncul persoalan serius dalam teknis bangunan. Ini memaksa para perencana bangunan untuk mengorbankan kaki candi yang sedang dipahat itu, lantas menutupnya. Setelah dikalkulasi, banyaknya batu tambahan tidak kurang dari 13.000 meter kubik. Mungkin sekali lantai batu tambahan diperlukan untuk menguatkan konstruksi bangunan yang sudah memperlihatkan tanda-tanda keruntuhan.


Stupa induk

Misteri stupa induk juga sama hebohnya dengan misteri Karmawibhangga. Awal misteri bertitik tolak dari kegiatan Hartmann. Pada 1842 dia melakukan penyelidikan terhadap stupa induk yang menjadi mahkota bangunan. Sebelumnya, konon Cornelius mendapati stupa itu sudah dalam keadaan terbongkar dan bagian tubuhnya menganga. Tujuan utama Hartmann adalah hendak mengetahui apakah ada sesuatu yang pernah tersimpan dalam rongga stupa tersebut.

Di awal penemuannya memang tidak ada laporan sama sekali tentang stupa induk. Pernah ada cerita yang tersebar tentang diperolehnya sebuah arca Buddha dalam rongga tadi. Namun di kemudian hari, cerita itu diragukan kebenarannya. Arca Buddha tersebut terbuat dari batu dan berukuran sama dengan arca-arca Buddha lainnya. Yang membedakan adalah arca ini belum selesai pemahatannya sehingga mutu seninya amat rendah. Tampak jelas, muka arca itu jelek dan lengannya tidak sama panjang.

Ketika itu ada pendapat bahwa stupa bukan tempat untuk menyimpan arca, apalagi semacam barang apkiran. Pendapat lain justru terbilang kontradiksi karena arca yang tidak sempurna itu dipandang sebagai penggambaran Buddha Tertinggi, dengan filosofi ’kesempurnaan adalah ketidaksempurnaan’.

Crawford pernah mengatakan bahwa di dalam stupa induk, satu-satunya bagian yang ada biliknya, sama sekali tidak terdapatkan arca. ”Bahkan landasan untuk penempatannya pun tidak ada,” katanya. Informasi menarik kemudian diperoleh dari Residen Yogya, Valck. Setelah berkunjung ke Borobudur pada 1840 dia mengatakan bahwa Dewa Utama yang menjadi penghuni stupa induk sudah hilang sehingga tidak diketahui lagi dewa siapa yang menjadi sasaran pemujaan.

Pendapat serupa dikemukakan van Hoevell, yang juga mengunjungi Borobudur pada 1840. “Mungkin di dalam stupa induk itu dulunya ada sebuah arca Buddha besar sekali, sesuai dengan ruangannya,” demikian dia menduga.

Jelas ini keteledoran Hartmann, karena ketika melakukan penelitian pada 1835-1842, dia tidak sedikit pun meninggalkan catatan tentang pekerjaan apa saja yang pernah dilakukannya. Keadan semakin “aneh” ketika juru gambar Borobudur, Wilsen (1849-1853) melaporkan adanya arca Buddha di dalam stupa induk.

Namun setahun kemudian Friedrich mengatakan di dalam stupa induk tidak pernah ditemukan arca Buddha. Brumund ikut “memperkeruh suasana” ketika dia meyakini adanya sebuah arca Buddha di dalam stupa induk yang kedua tangannya diletakkan di depan (dhyanimudra).

Pada 1864 Hoepermans, berdasarkan cerita dari penduduk setempat, membuka sedikit tabir bahwa Residen Kedu, Hartmann, pernah mengambil suatu benda yang segera dia bungkus dengan saputangan. Setelah itu dia tidak lagi melepaskan bungkusan tersebut dari pangkuannya. Dia terus-menerus menggenggamnya selama perjalanan pulang ke Magelang naik kereta. Diduga, temuan itu adalah arca emas yang berasal dari stupa induk.

Maka untuk menutupi peristiwa itu Bupati Magelang memerintahkan anak buahnya untuk menempatkan sebuah arca Buddha dari batu ke dalam stupa. Arca itu diambil dari bawah, dari sekumpulan arca lepas.

Soekmono (1993) berpendapat bahwa sebelum 1853 tidak ada berita sama sekali tentang adanya arca di dalam stupa induk. Hal ini dipertegas dalam buku karya Raffles, History of Java. Di dalam buku itu, terlihat gambar irisan yang dibuat berdasarkan laporan Cornelius, yakni stupa induk dalam keadaan kosong.

Sebelumnya W.F. Stutterheim, berdasarkan kitab Jawa Kuno Sang Hyang Kamahayanikan, yaitu kitab tentang Buddha Mahayana, menyimpulkan bahwa jumlah arca Buddha pada Candi Borobudur seharusnya 505 buah. Sedangkan arca yang ada sekarang berjumlah 504 buah. Jadi karena kurang satu, maka arca yang dianggap apkiran itulah sebagai pelengkapnya. Menurut Stutterheim, arca demikian menggambarkan manifestasi dari Sang Bhatara Buddha.

Pada 1970-an arkeolog Belanda, van Lohuizen de Leeuw, meneliti kembali naskah yang disusun oleh Sieburgh, seorang pelukis yang pernah tinggal di Borobudur pada 1837-1839. Di dalam naskah tersebut Sieburgh justru melaporkan bahwa di dalam stupa besar di puncak Candi Borobudur terdapat sebuah arca batu yang belum selesai.

Demikian pula menurut Serat Centhini yang disusun kira-kira pada 1814-1830. Dalam pupuh 105, hal. 59-60, Jilid II, Serat Centhini Latin dikatakan, “Tampaklah sangkar batu yang dikerjakan halus dan rumit. Sangkar itu berisi satu buah arca besar, tetapi pengerjaannya kira-kira belum selesai…”.

Selama bertahun-tahun misteri Karmawibhangga pada ’kaki tertutup’ dan misteri stupa induk bersama arca apkiran, paling ramai diperdebatkan. Misteri lain yang belum terungkap adalah siapa pendiri candi ini dan kapan didirikannya. Mudah-mudahan dengan perkembangan teknologi, misteri yang menyelimuti Candi Borobudur, sedikit demi sedikit akan terkuak. (Djulianto Susantio)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: