Oleh: hurahura | 22 Agustus 2015

LIPI Beri Penghargaan kepada Harry Truman Simanjuntak

Truman-1KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain (kiri) memberikan piagam Penghargaan Ilmu Pengetahuan LIPI Sarwono Award 2015 kepada Harry Truman Simanjuntak di Auditorium Utama LIPI, Jakarta, Kamis (20/8). Truman dinilai konsisten selama 38 tahun menekuni penelitian di bidang arkeologi.

Indonesia tidak bisa menghindar dari pluralisme. Jika dipaksakan seragam, bangsa ini akan hancur, dan setelah kehancuran itu pun, akan muncul keanekaragaman lagi. Karena itu, membangun negeri ini harus berdasarkan kebinekaan agar kita menjadi sebuah bangsa yang berperadaban khas.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain (kiri) memberikan piagam Penghargaan Ilmu Pengetahuan LIPI Sarwono Award 2015 kepada Harry Truman Simanjuntak di Auditorium Utama LIPI, Jakarta, Kamis (20/8). Truman dinilai konsisten selama 38 tahun menekuni penelitian di bidang arkeologi.

Kutipan pidato Harry Truman Simanjuntak saat dikukuhkan sebagai profesor riset tahun 2006 itu dipaparkan lagi oleh Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain dalam pemberian Penghargaan Ilmu Pengetahuan LIPI Sarwono Award 2015 dan LIPI Sarwono Memorial Lecture di Kompleks LIPI, Jakarta, Kamis (20/8).

Selama 38 tahun terakhir, sebagai arkeolog prasejarah di Pusat Arkeologi Nasional, Harry dinilai konsisten menekuni bidang arkeologi, menelusuri masa silam Nusantara dalam konteks Asia Tenggara dan Oseania. Dia telah memublikasikan lebih dari 150 karya tulis.

“Hasil riset dan petualangannya ke seluruh penjuru Indonesia telah mengungkap betapa Indonesia adalah kawasan yang penting untuk mengetahui evolusi manusia dan budaya. Tidak banyak wilayah di dunia yang bisa menghidupi manusia sejak masa begitu tua karena temuan-temuan Homo erectus hanya ada di beberapa tempat, salah satunya Indonesia,” kata Zulkarnain.

Menurut Truman, Indonesia memiliki dimensi arkeologis yang sangat kompleks. Letak geografis yang luas dan strategis di antara Benua Asia dan Oseania menjadikan negeri ini sebagai kawasan silang budaya. Sejak 1,6 juta tahun lalu, manusia purba Homo erectus datang ke Jawa, disusul Homo sapiens sekitar 60.000 tahun lalu, kemudian ras mongoloid dari Asia Tenggara Daratan dan Taiwan sekitar 4.000 tahun lalu.

“Dari masa tua sampai periode yang lebih muda, pluralitas di Indonesia terus berlanjut dan semakin menonjol. Kebinekaan tidak bisa dihindari karena pengaruh adaptasi lokal, nutrisi, dan lingkungan yang berbeda-beda menghasilkan keturunan yang memiliki kekhasan,” katanya.

Banyak nilai budaya berakar sejak di masa lampau, seperti keuletan, ketangguhan, keberanian, gotong royong, keterbukaan menerima pengaruh luar, dan multikulturalisme. Nilai-nilai itu dipadukan dalam Pancasila. “Hasil-hasil penelitian arkeologi memberi andil penting bagi penguatan nasionalisme dan pengukuhan jati diri,” katanya.

Dalam LIPI Sarwono Memorial Lecture, Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra menyebut Indonesia sebagai keajaiban karena bisa bersatu meski terdiri atas berbagai etnis budaya, suku, dan agama.

“Ada yang memprediksi Indonesia akan hancur, ada pula yang bilang Indonesia tidak mungkin bersatu. Tetapi, kita tetap bersatu,” katanya.


Fikih kebinekaan

Secara terpisah, Maarif Institute bersama Penerbit Mizan meluncurkan buku Fikih Kebinekaan: ?Pandangan Islam Indonesia tentang Umat, Kewargaan, dan Kepemimpinan Non-Muslim di Jakarta, Kamis malam. Menurut editor dan penulis buku, Wawan Gunawan Abd Wahid, perbedaan bacaan telah menghadirkan Islam yang beragam. Pada situasi ini, perlu cara pembacaan yang solutif dan ramah bagi banyak kalangan.?

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menekankan, tawaran buku Fikih Kebinekaan tidak dipaksakan sebagai kebenaran karena mungkin ada pandangan lain. Diskusi juga menghadirkan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti dan Sekretaris Dewan Syariah Partai Keadilan Sejahtera Bukhori Yusuf. (ABK/IVV)

(Sumber: Kompas, Jumat, 21 Agustus 2015)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: