Oleh: hurahura | 26 November 2010

Candi Bojongmenje, Sisa Peradaban Yang Terlupakan

KOMPAS Jawa Barat, Jumat, 26 Nov 2010 – Candi Bojongmenje merupakan satu dari sedikit kompleks percandian di Jawa Barat yang tersisa. Kondisi candi dari peradaban Hindu kuno abad ke-7 itu kini merana di tengah kawasan industri Bandung timur. Proses ekskavasi baru sebatas merekonstruksi fondasi.

Situs Candi Bojongmenje terletak di Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Rancaekek, Kabupaten Bandung. Kompleks candi seluas 562 meter persegi ini berada di tepi Jalan Raya Rancaekek, terjepit di antara tembok pabrik. Meski terdapat papan penunjuk arah, sulit menemukan candi ini tanpa bertanya kepada penduduk sekitar.

Bagi masyarakat awam, tidak banyak informasi yang dapat dipelajari saat mengunjungi situs ini. Di dalam kompleks candi terdapat rumah yang menyimpan puluhan bagian penting, seperti “kemuncak” atau batu di puncak candi, fragmen yoni, dan batu pengunci. Ratusan potongan batu lainnya berserakan di luar.

Candi Hindu di tepi Sungai Cimande ini berorientasi ke arah timur, menghadap sebuah fragmen yoni bagian dari kolam air suci sepanjang 1,5 meter. Pada bagian timur ditemukan batu sudut, penanda adanya tangga pintu masuk utama candi.

Berdasarkan ekskavasi tahun 2002, Candi Bojongmenje memiliki struktur kaki persegi berukuran 6 meter x 6 meter. Namun, batu kaki di sisi utara tidak lagi diketahui karena tepat berada di bawah tembok pabrik. Adapun di bagian barat dan selatan ditemukan relatif lebih lengkap. Profil kaki ini menunjukkan adanya bagian pelipit, sisi genta (“ojief”), dan bingkai persegi.

Hampir seluruh bangunan menggunakan batuan vulkanik, yang ditatah dan dibentuk sebagai penyusun kulit candi. Batuan ini juga dipotong-potong memanjang sebagai pengisi tubuh candi. Dalam jumlah kecil ditemukan bata, terutama di lantai. Bata setebal 10 sentimeter ini diduga dipakai mengeraskan halaman asli candi.

Dari sedimen lapisan tanah diketahui, candi ini dibangun pada abad VII-VIII. Pada masa itu, wilayah di kaki pegunungan Manglayang dan Geulis pada ketinggian 620-1.700 meter di atas permukaan laut merupakan simpul peradaban Hindu kuno. Wilayah ini menarik minat arkeolog Belanda, NJ Krom. Pada 1914, Krom melaporkan adanya arca Siwa Mahadewa di daerah Cibodas, Ganesa di Cibeeut, dan Durga di Cicalengka.


Candi Orok

Berbeda dengan kebanyakan candi yang ditemukan tak sengaja, Candi Bojongmenje hidup dalam cerita lisan masyarakat Rancaekek. Masyarakat menyebut candi ini sebagai Candi Orok karena ada patung perempuan menggendong bayi.

Namun, saat ekskavasi, patung ini tidak ditemukan. Menurut juru pelihara situs, Rohman (74), kerusakan candi disebabkan kegiatan ekonomi di sekitarnya. Kompleks Candi Orok pernah dipakai sebagai lahan pemakaman cikal bakal masyarakat Bojongmenje, yakni Eyang Raksa Dipa, Eyang Raksa Raja, dan Eyang Jaya Raya asal Cirebon. Pada zaman Jepang, lokasi ini dijadikan tangsi alat berat. (NDW/LITBANG KOMPAS)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: