Oleh: hurahura | 3 Agustus 2012

Hilangnya Bangunan Hotel des Indes

Hotel des Indes (Sumber: kitlv.nl)

Warta Kota, Selasa, 31 Juli 2012 – Perjalanan sejarah kota Jakarta begitu panjang. Terbukti berbagai periode sejarah dialami kota Jakarta, dari masa prasejarah, masa klasik (Hindu-Buddha), masa Islam, hingga masa Kolonial. Mengingat sering disebut-sebut dalam catatan sejarah, seharusnya warisan fisik yang ditinggalkan amat banyak. Dalam kenyataan yang tersisa amat sedikit, mungkin sudah tertutup oleh bangunan atau permukiman penduduk zaman kemudian. Ironisnya, bangunan-bangunan yang tersisa itu, diperlakukan tidak baik dan tidak benar. Justru dipandang tidak berguna karena seakan mengagungkan masa penjajahan.

Pada 1970-an pembangunan fisik di Jakarta mulai pesat dibandingkan kota-kota lain di Nusantara. Di pihak lain, belum banyak yang peduli akan kelestarian warisan masa lampau sebagai sumber ilmu pengetahuan. Bahkan produk hukum seperti undang-undang dan peraturan pemerintah pun sering dilanggar. Akibatnya banyak bangunan lama dihancurkan, kemudian diganti oleh bangunan baru. Maka tidak ada bukti otentiknya bahwa kita pernah dijajah bangsa asing atau berperan sebagai bandar penting di masa lampau. Hanya dari dokumentasi tertulis dan foto, generasi sekarang bisa tahu keberadaan bangunan-bangunan tersebut.

Bangunan yang pertama kali dihancurkan pada masa Orde Baru adalah Hotel des Indes. Pihak swasta atas izin pemerintah pusat menghancurkan bangunan ini pada 1971. Hotel des Indes terletak di Jalan Gajah Mada, sekarang menjadi pusat perbelanjaan Duta Merlin. Peranan Hotel des Indes dalam sejarah kolonial amat besar.

Perundingan Indonesia-Belanda beberapa kali diadakan di tempat ini. Bahkan aktor Hollywood Bing Cosby pernah menginap di sini.

Semula sebagian kecil des Indes merupakan rumah peristirahatan Moenswijk, milik Adriaan Moens. Dia seorang pejabat VOC yang kaya raya. Sebagian besar sisanya milik Reinier de Klerk. Kemudian Klerk menjual tanah dan rumah di atasnya kepada C. Postmans (1774). Dari Postmans beralih lagi kepada G.J. van der Parra (1778). Setelah beberapa kali berpindah tangan, pada 1824 rumah itu dibeli oleh pemerintah dari D.J. Papet.

Selanjutnya pada 1828 rumah itu dibeli oleh dua pengusaha perhotelan Prancis, A. Chaulan dan J.J. Didero. Mereka menjadikannya sebagai Hotel Chaulan, kemudian Hotel de Provence (1835). Manajemen baru di bawah pimpinan C. Denninghoff menggantinya menjadi Hotel Rotterdamsch (1854). Nama Gang Culan, diambil dari Chaulan, masih populer sampai sekarang.

Hotel des Indes diresmikan pada 1 Mei 1856. Pada 1888 hotel itu beralih ke Jacob Lugt. Lugt mulai memperluas hotel secara besar-besaran dengan membeli tanah-tanah di sekitarnya. Pada 1930-an sampai 1950-an Hotel des Indes merupakan hotel mewah di Jakarta. Peranannya semakin menurun ketika pemerintah Indonesia mengambil alih hotel tersebut dan mengganti namanya menjadi Hotel Duta Indonesia. Setelah itu namanya semakin tenggelam, terlebih ketika berdiri Hotel Indonesia di pusat kota Jakarta. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Responses

  1. Menurut Alfred Russel Wallace yang berada di Batavia pada tahun 1861[1],
    “ Hotel des Indes sangat nyaman, setiap tamu disediakan kamar duduk dan kamar tidur menghadap ke beranda. Di beranda, tamu dapat menikmati kopi pagi dan kopi sore. … Pada pukul sepuluh disediakan sarapan table d’hôte, dan makan malam mulai pukul enam, semuanya dengan harga per hari yang pantas.

    John T. McCutcheon menulis pada tahun 1910 bahwa bila dibandingkan dengan Hotel des Indes, semua hotel di Asia berada di bawahnya. Lebih lanjut, ia bercerita tentang kemewahan rijsttafel di hotel ini[2],
    “ Anda harus makan siang lebih awal agar ada cukup waktu untuk menikmatinya sebelum makan malam. Makan siang disajikan oleh 24 orang pelayan yang berbaris memanjang, mulai dari dapur hingga ke meja, dan kembali ke dapur dengan berbaris. … Setiap pelayan membawa sepiring makanan berisi salah satu lauk dari keseluruhan 57 lauk pauk untuk rijsttafel. Anda mengambil sendiri lauk dengan sebelah tangan hingga lelah, lalu bergantian dengan tangan yang sebelah lagi. Ketika Anda sudah siap makan, piring anda terlihat seperti bunker di padang golf yang dipenuhi nasi.

    di atas adalah sekutip komentar oleh2 tokoh2 hebat di masa lalu tentang kesan mereka mengenai hotel des indes, betapa indah, mewah dan megahnya gedung hotel tersebut, sayang sekali sekarang kisah itu cuma tinggal kenangan, anak2 muda generasi skrng sudah tidak bisa melihat langsung bagaimana agungnya bangunan sejarah sisa kolonial itu…

  2. Sudah jelas pembongkaran hotel des indes adalah upaya penghapusan sejarah, apalagi berhubungan erat dg kehidupan batavia tempo doeloe. Demi keuntungan materi utk segelintir orang, krn Des Indes letaknya di kawasan bisnis jakarta. Demikian halnya harmonie societeit yg tinggal kenangan. Buat mereka sejarah adalah masa lalu…gak penting !! Bisnis yg menguntungkan jauh lebih penting. Generasi sekarang tidak ada yg tau keberadaan gedung2 itu. Usia saya udh kepala 5, tinggal di jakarta dr th.75, tapi baru 3 bulan belakangan tau keberadaan hotel des indes dari internet. Padahal saya udh berkali2 ke carrefour harmoni yg dulunya ternyata bekas lahan hotel ini. Pertanyaannya….kenapa harus dibongkar ?? Kenapa gak dialih fungsikan saja, biarkan bentuk gedung itu tetap ada biar bisa dinikmati generasi sekarang. Bangsa yang besar adalah bangsa yg menghargai sejarah..seperti itukah Indonesia….??? Gak heran Malaysia mengaku-aku beberapa budaya Indonesia adalah milik mereka. Karena negeri sendiri tidak bisa menghargai nilai budaya dan sejarah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori