Oleh: hurahura | 24 Maret 2012

Oud Bataviaasche Museum

Warta Kota, Sabtu, 24 Maret 2012 – Lebih dari seratus tahun Batavia hanya memiliki sebuah museum. Barulah pada 1937 dipersiapkan sebuah museum baru. Ini atas prakarsa Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW). Oud Bataviaasche Museum (OBM), demikian namanya, menempati bangunan di Jalan Pintu Besar Utara No. 27, Jakarta Kota. Semula gedung itu merupakan sebuah gereja “de Oude Hollandsche Kerk” dibangun pada 1640. Tahun 1732 gedung itu hancur terkena gempa. Setelah dibangun kembali, namanya diganti menjadi “Nieuw Hollandsche Kerk”. Pada 1936 BGKW membeli gedung ini dan dinyatakan sebagai monumen (cagar budaya). Ketika itu sebagai acuan adalah Monumenten Ordonnantie (Undang-undang Kepurbakalaan) 1931.

Pada 1937 Yayasan Oud Batavia mengajukan rencana untuk mendirikan sebuah museum mengenai sejarah kota Batavia. Diharapkan koleksi tersebut akan menggambarkan sejarah kota Batavia sejak masa prasejarah hingga zaman modern (ketika itu), termasuk menggambarkan kehidupan masyarakat Betawi beserta pertemuan kebudayaan dengan bangsa-bangsa asing. Museum dibuka untuk umum pada 22 Desember 1939. Pengelolaannya dilakukan oleh Yayasan Oud Batavia (Sejarah Permuseuman di Indonesia, 2011).

Pada 1957 nama OBM berubah menjadi Museum Djakarta Lama di bawah naungan Lembaga Kebudayaan Indonesia, nama baru BGKW. Pada 17 September 1962 lembaga ini diserahkan kepada Departemen Pendidikan, Pengadjaran, dan Kebudajaan dan pada 23 Juni 1968 gedung ini diserahkan kepada Pemerintah DKI Jakarta. Pada 30 Maret 1974 nama museum berubah menjadi Museum Sejarah Jakarta.

Karena tempat terlalu kecil, sementara banyak koleksi besar milik Museum van Het BGKW dihibahkan ke sini, maka museum juga menempati gedung lain bekas Balai Kota atau Stadhuis. Koleksi-koleksi yang diangkuti dari Museum van Het BGKW antara lain mebel dan lukisan. Juga koleksi-koleksi yang berasal dari masa kolonial, di antaranya meriam dan senjata. Jarak gedung baru hanya sejengkalan dari gedung lama. Selanjutnya gedung bekas gereja menjadi Museum Wayang, sementara gedung tambahan menjadi Museum Sejarah Jakarta yang populer dengan nama Museum Fatahillah sekarang. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Responses

  1. asalamualaikum ,, saya berasal dari kabupaten banggai kepulauan.. ( bekas kerajaan banggai). kami buat komunitas kecil (Lipu pau basal ) yg oreantasinya menyelamatkan benda – benda cagar budaya .. tahun kemarin kami menemukan peti kubur batu di situs peninggalan banggai lalongo. bersama porselin china. yg permasalahannya . kami tidak punya pengetahuan lebih tentang arkelogi. sehingga untuk mengidentifikasi lanjut tentang temuan itu tdk terlaksana.. untuk itu kami mohon petunjuk lanjut tentang temuan2 tersebut…

    • Surat Anda akan disampaikan ke Balai Arkeologi Manado dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Gorontalo. Mereka yang berwenang menangani kepurbakalaan di Banggai.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: